
Ruang sidang. Itu adalah ruangan yang cukup sering Eris masuki sejak kecil, tapi untuk mengamati dan mendengarkan pembicaraan serius orang tuanya, paman bibi bahkan kakek dan neneknya tentang tindakan mereka.
Di ruangan itu pernah terjadi percakapan yang mencegah peperangan terjadi dan Eris mendengarnya saat masih berusia sembilan tahun. Tapi Eris tidak pernah diundang untuk menjadi pihak yang disidang.
Dan itu membuat Eris terus merasa bahwa ia melakukan kesalahan.
Apa seharusnya ia membunuh Roxanne sekarang? Kalau memang keputusannya mengenai Nernia itu benar, maka membunuh Roxanne pun keputusan yang benar.
Seorang Putra Kedua Narendra tidak boleh masuk ke ruang persidangan, menjadi pihak yang menciptakan masalah sampai-sampai butuh persidangan untuk memecahkannya.
"Eris."
Aku seharusnya bisa, bisik Eris pada dirinya saat justru menggenggam tangan Roxanne yang duduk di kursi roda.
Aku seharusnya bisa. Melawan egoku adalah tugasku. Aku bisa membunuhnya.
"Semua baik-baik saja," bisik Eris justru saat kepalanya dikacaukan oleh badai. "Jangan khawatir dan tetap di sampingku."
Roxanne yang memegang tangan Eris tahu bahwa tidak ada yang baik-baik saja. Tapi entah kenapa Roxanne tidak merasa cemas. Bukan karena Eris namun karena memang tidak ada yang membuatnya cemas.
Mereka dituntun memasuki sebuah ruangan besar. Luar biasa besar dengan tribun mengelilingi lingkaran di tengah. Roxanne mendongak menatap Arkas yang duduk di salah satu bagian kursi tertinggi, bersama seorang pria yang mirip dengannya. Askala juga di sana.
Di sisi lain ada istri-istri Elios termasuk Diane. Dan saat Roxanne menoleh, Elios berdiri di lingkaran yang sama tempat dirinya berada.
"Aku merindukanmu, Istriku." Elios tersenyum, menatapnya tanpa penutup mata itu lagi. "Akhirnya aku bisa melihat wajahmu lagi. Tapi ada apa? Kamu tidak merindukan suamimu?"
__ADS_1
Roxanne tidak tahu apa yang dia bicarakan dan sejujurnya ia tak peduli. Daripada itu, di mana Sanya?
"Baiklah, semua sudah berkumpul." Suara Arkas terdengar memenuhi ruangan, berdiri di sana menatap ke bawah. "Aku harap ini cepat selesai jadi Elios, Eris, Roxanne, selesaikan dengan cepat."
Apa yang perlu diselesaikan dengan cepat?
"Elios, aku memberimu kesempatan memulai."
Elios tersenyum santai. "Aku meminta istriku kembali, yang dimonopoli secara asusila oleh kakak tertuaku. Jika ingin cepat selesai, kurasa dia harus mengembalikannya. Bukan begitu, Kakak?"
Istrinya, maksud Elios adalah Roxanne? Dia meminta Roxanne kembali?
Kepala Roxanne mendadak sakit. Ingatan demi ingatan berusaha keras bangkit dari memorinya. Benar. Ia istri Elios jadi kenapa ia bersama Eris?
"Eris, jawab Elios," titah Arkas dari atas sana.
"Ada apa? Katakan sesuatu," ucap Arkas lagi.
Kenapa dia ketakutan? Apa yang Eris takutkan?
"Eris, ini yang ketiga kali. Jawab Elios."
Suara tawa Askala tiba-tiba terdengar. "Memang dia mau menjawab apa? Itu jelas-jelas istri Elios. Kembalikan saja agar semuanya selesai."
Roxanne mendongak pada Arkas. Kenapa dia melakukan ini pada saudaranya? Dia seharusnya di sini sekarang karena Eris ketakutan. Kenapa dia berdiri di sana menekannya?
__ADS_1
"Roxanne," bisik Eris tiba-tiba. "Aku ...."
"Lakukan saja." Roxanne tidak mengerti tapi ia benar-benar merasa Eris tidak perlu setakut ini. "Lakukan saja apa pun."
Kenapa dia harus takut? Dia takut mengembalikan Roxanne pada Elios? Roxanne tidak takut jadi kembali dirinya.
Tapi berbeda dari Roxanne yang tak memahami apa pun, Eris yang mendengar itu seperti mendengarkan sebuah dukungan sekaligus kematian.
Roxanne mengucapkan itu karena dia belum memahami semuanya. Dia tidak memahami bahwa keberadaannya saat ini dianggap pemicu perselisihan dan jika dia dilenyapkan, maka segalanya akan selesai.
Eris tak tahu kenapa Arkas tiba-tiba menentangnya tapi hari ini Eris tahu ia harus menghadapi karma.
Dan ia tak akan membiarkan karma itu menyakiti Roxanne.
"Paman," ucap Eris, menepikan rasa takutnya. "Aku ingin menjadikan Roxanne istriku."
"Istrimu? Istri adikmu, kamu ingin mengambilnya jadi istrimu?"
Eris tahu gelombang setelah ini akan sangat besar. Keberadaan Askala di sana memastikan segalanya. Namun Eris sudah memulai dan ia tak akan pernah mundur.
"Elios tidak lagi memiliki nama Narendra. Dia Elios Desnomia Yasa," kata Eris lantang. "Aturan tentang istri Narendra hanya milik suami mereka seharusnya tidak berlaku. Yasa adalah keluarga hina yang tidak layak dihormati."
Meski Eris tidak melihat, dia sudah tahu bahwa di sana, Askala yang paling senang mendengar ucapannya.
Perselisihan sesungguhnya akan dimulai sekarang.
__ADS_1
*