Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
Kelemahan Elios


__ADS_3

"Aku mengerti," ucap Eris setelah melepaskan pelukannya. "Aku mengerti Ibu kesulitan. Ibu mengalami hal buruk karenaku, Elios dan Eirene. Kami bukan anugrah yang menyenangkan, benar?"


"Eris."


"Aku mencintai Ibu. Sangat. Aku tidak ingin melihat Ibu tersiksa lagi dan lagi." Eris mengusap lembut pipi Medea yang basah oleh air mata.


Pria itu tersenyum tulis berharap ibunya tahu betapa besar cinta Eris untuknya.


"Karena itulah aku harus mengambil keputusan yang menyebalkan sekali lagi."


Bersamaan dengan ucapannya, kedua bawahan Eris yang selama ini tidak pernah terlihat muncul mengapit Medea. Wanita itu tercengang memahami apa keputusan Eris.


"Kamu mau mengurung Ibunda? Demi Roxanne? Hanya demi wanita asing?" gumamnya tak percaya.


"Aku mengurung Ibu karena Ibu memihak Elios dan Elios tidak layak didengarkan." Eris mengisyaratkan mereka pergi. "Jaga diri Ibu."


Selama Medea bisa bergerak, Elios pasti akan memanfaatkan kasih sayangnya. Jadi lebih baik mengurung Medea sampai setidaknya Elios lenyap.


Eris tahu keputusannya akan dianggap sangat kasar. Arkas pasti akan menamparnya kali ini. Tapi tidak peduli apa, Eris harus mengutamakan apa yang harus ia utamakan.


Eris meninggalkan ruangan tersebut untuk kembali ke kamarnya. Sayangnya saat Eris berdiri di depan pintu, bau anyir darah tercium.


Pria itu mendorong pintu terbuka, mendengar suara air mengalir dari kolam kamarnya seperti biasa.

__ADS_1


"Kamu membunuh pelayan seorang Narendra, Yasa." Eris tidak perlu melihat untuk tahu siapa dia. "Jadi kamu mengirim Ibu padaku hanya agar aku sedikit teralihkan? Aku sempat lupa kamu ternyata punya otak."


Elios di sana tertawa kecil. "Aku sudah membunuh Roxanne."


"Jelas tidak." Bau darah ini tercium karena ada sembilan pelayan yang Eris tugaskan menjaga Roxanne. Elios membunuh semuanya, tapi tidak dengan Roxanne.


Anak ini tidak akan mungkin membiarkan Roxanne mati tanpa mendengarkan jeritan histeris Roxanne paling tidak selama tiga puluh hari.


Eris merogoh saku pakaiannya untuk mengeluarkan belati kecil. Tidak tajam karena ia tak bersiap, namun Eris sangat tenang.


"Menjauh dari Roxanne selama aku masih bisa memaafkan perbuatanmu," peringat Eris lembut.


Elios malah tertawa kecil. "Kakakku yang gila terobsesi pada istriku yang bodoh. Nernia pasti menangis di neraka sana."


"Berhenti bertingkah bisa melakukan segalanya, Orang Buta." Elios membalas penuh cemoohan. "Membuang matamu sendiri demi orang tidak berguna seperti Arkas. Dia bahkan tidak tahu cara mengatur adiknya yang gila. Kamu tahu, Askala memintaku membunuhmu."


Eris menghela napas. "Padahal aku berharap bukan hari ini," gumamnya.


"Hooh, jadi maksudmu kamu terpaksa harus membunuhku hari ini? Kamu kira aku akan diam saja?"


"Aku kira begitu." Eris tiba-tiba membuang belatinya, seolah ia tak lagi tertarik melawan Elios.


Tentu saja Elios mengerutkan kening. Kenapa mendadak dia merasa sangat hebat padahal Roxanne tidak di tangannya? Bahkan kalau dia Eris, dia tidak bisa bergerak secepat kilat menyelamatkan Roxanne.

__ADS_1


Apalagi dia buta.


Atau tidaknya itu yang Elios pikirkan sampai kemudian pria itu menegang, menahan napasnya terpaksa.


Eris menoleh ke sampingnya, merasakan Dioris datang membawa seseorang yang tengah menangis tanpa suara.


"Diane, namamu?" Eris bertanya pada seseorang yang dibawa Dioris. "Istri keenam Elios sekaligus istri tercintanya."


"Tercinta?" Elios berusaha tertawa. "Tidak ada istriku yang penting—hentikan!"


Usaha Elios berakting jadi sia-sia ketika Eris menyambar leher Diane.


"Dengarkan aku, Bocah Sialan," geram Eris, "aku membunuh istriku tercinta demi Arkas. Aku membunuhnya karena aku harus mempertahankan kedamaian keluarga ini. Lalu menurutmu aku akan tersungkur melawanmu? Orang yang bahkan tidak penting bagiku?"


Diane tercekik namun berusaha keras menoleh pada Elios. "Jangan pedulikan saya," bisiknya. "Saya baik-baik saja."


"Tentu saja. Dia yang tidak baik-baik saja, Diane," balas Eris. "Kamu berusaha menyembunyikan kehadiranmu bertahun-tahun tapi mata butaku ini melihat banyak hal. Elios mencintaimu dan kamu menjadi kelemahannya hari ini."


Walau agak sulit menyadarinya karena Elios juga sangat pandai berakting, tapi Eris cukup yakin dugaannya benar. Diane spesial di mata Elios setidaknya dalam beberapa waktu terakhir.


Dan wanita ini, kesetiaannya pada Elios nyaris sama dengan Graean.


"Aku melakukan banyak hal kotor demi menyelamatkan Arkas," ucap Eris dingin. "Jadi menjauh dari Roxanne atau leher istrimu, satu-satunya yang kamu cintai sekarang, patah di tanganku."

__ADS_1


*


__ADS_2