Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
Robot Kecil Bernama Sanya


__ADS_3

"Aku sering membenci keputusan Eris." Arkas mengelap pedang tajam kesayangannya yang sengaja ia letakkan di Kastel Bintang sejak awal pernikahan pertamanya.


Belati adalah senjata dasar Narendra. Tapi semua anak laki-laki Narendra pasti diberikan pedang sebagai senjata utama. Arkas tidak pernah membawa pedang ini sebab ia bersumpah sebagai anak pertama, pedangnya tidak akan pernah ia basahi dengan darah.


Itu juga yang menjadi alasan tangan Eris harus berlumuran darah menggantikannya.


"Tapi," Arkas menatap lurus ke arah sana, "sayangnya Eris jarang berbuat salah."


Dalam bayangan gelap itu, seseorang tertawa kecil.


Di kastel ini sekarang, hanya ada pelayan dan Dioris serta Arkas. Tapi karena Arkas datang, semua pelayan berada di ruang bawah tanah, beristirahat dari aktivitas mereka.


Wanita yang tertawa itu bukan pelayan. Tidak, dia bahkan tidak tinggal di sini.


"Beritahu aku, Sanya." Arkas menegakkan pedangnya, menjadikan itu tumpuan tangan.


Posisi itu tegap. Jelas sudah siap untuk membunuh Sanya. Tapi sebelum itu, Arkas sangat ingin tahu.


"Percakapan kita yang pertama, saat Roxanne terjatuh dari tangga, apa saat itu kamu sudah memikirkan hari ini?"


Eris tak menceritakan apa-apa pada Arkas, terutama mengenai Sanya. Namun Arkas langsung memahami bahwa inilah niat Eris menyuruh Arkas pergi.


Sebab sekarang, harta paling berharga Narendra, mayat Eirene, tidak dijaga oleh siapa pun di kastel kosong ini. Dan orang yang paling pantas menjaga itu adalah calon penguasa Narendra.

__ADS_1


"Sanya tidak tahu." Gadis kecil itu menarik keluar pedang kecil yang tampak tidak dibuat oleh Narendra.


Tidak ada bahkan pisau dapur senjata dalam Narendra kecuali itu buatan dari penempa mereka sendiri. Bahkan jarum untuk menjahit dibuat khusus untuk Narendra. Karenanya Arkas langsung tahu.


"Sanya juga sedang penasaran, Tuan Muda." Gadis itu duduk di lantai, menyilangkan kakinya. Sambil menatap pedang, dia berbicara tenang. "Apa Elios mengkhianati Sanya?"


Elios? Ah, jadi begitu. Elios menyuruh Sanya datang mengambil Eirene, kah? Jika Eirene lepas dari tangan Arkas, jelas saja Elios juga akan terbebas.


"Tidak. Bukan Elios tapi saudaranya, Eris," jawab Arkas apa adanya.


"Jadi begitu. Kalau begitu Sanya kalah telak." Gadis itu tertawa pasrah. "Orang itu menakutkan. Sanya belum pernah merasa terancam pada seseorang seperti dia. Sangat menakutkan."


"Tidak bisa dibantah. Eris adalah Narendra terbaik pada generasi kami. Aku adiknya, jika menghitung usia kami dalam kandungan, tapi aku kakaknya karena aku lahir lebih dulu."


"Tidak masalah." Arkas mengangkat pedangnya kembali. "Aku tidak diajari membiarkan pengkhianat hidup."


Sanya tertawa. Jelas dia percaya pada kemampuannya dan kalau Eris mewaspadai dia, sampai-sampai harus mengirim Arkas padahal ada Dioris, berarti Eris menilai kemampuan Sanya di atas Dioris.


Anak ini kemungkinan lebih kuat dari istri-istri Arkas lainnya.


"Apa ada hal yang ingin kamu ketahui lagi? Aku bisa menjawabnya sekarang. Apa pun," ucap Arkas.


"Kalau begitu," Sanya beranjak dari posisi duduknya, bersamaan dengan wajahnya berubah tanpa ekspresi, "apa kamu tidak tertarik menghancurkan keluarga ini?"

__ADS_1


"Kamu bertanya hal semacam itu pada pewaris Narendra? Padaku?"


"Memang aneh? Ini keluarga menjijikan."


Arkas mengerutkan kening. Sekalipun Arkas penyabar, ia tetap tidak menyukai penghinaan terhadap keluarganya.


"Nah, Arkas." Sanya membuang topeng anak-anaknya. "Kamu tidak bertanya kenapa aku memilih Roxanne?"


"Akan kutanyakan. Kenapa?"


"Karena dia bodoh." Sanya menyeringai. "Karena aku belum pernah bertemu orang lebih bodoh darinya. Sangat bodoh sampai rasanya menjijikan. Benar, kan?"


"Jadi begitu. Tapi setelah kupikir lagi, kamu mendorong Roxanne berada di tempat yang cukup aman."


"Aku ingin orang bodoh duduk di puncak bersama orang bodoh lainnya. Kamu tahu kenapa aku harus membunuhmu? Karena kamu cerdas dan bijaksana."


Arkas sudah bisa merasakan ketidakwarasan aneh dari anak di depannya. Ada sesuatu tentangnya. Ada sesuatu dalam dirinya yang Arkas merasa harus tahu demi kedamaian Narendra.


Tapi apa?


"Aku," Sanya kini terlihat seperti robot, "benci orang sepertimu."


*

__ADS_1


__ADS_2