
Eris mendatangi Arkas yang tengah duduk memandangi lukisan wajah Eirene. Dia berada di altar. Tempat yang nanti akan mereka datangi satu per satu, menjalani ritual penghormatan.
Di antara kerumunan keluarga yang merasa suka cita akan berkumpulnya mereka, Arkas tak bisa menahan ekspresi muram di wajahnya.
Dia menyerahkan seluruh komando acara pada sang istri. Benar-benar ingin diam saja, menyaksikan segalanya.
"Aku ingin menangis," gumam Arkas saat merasakan kehadiran Eris. "Aku tidak menerima ini. Bagaimana bisa aku merayakan kematian adikku? Dia masih ada. Dia pasti masih ada di sini."
"Benar. Eirene sedang terlelap nyenyak di Kastel Bintang. Dioris menemaninya malam ini."
"Kamu menjawabnya semudah itu." Arkas tertawa merana. "Kamu selalu melakukan itu. Aku tidak bisa."
"Aku tahu." Eris mengulurkan tangannya pada Arkas. "Ayo. Ritual sebentar lagi akan dimulai. Jika kamu ingin ikut serta, akan kuminta pada Paman menjadikanmu yang pertama. Tapi jika tidak, Elios akan mengambil hak itu."
Arkas mengepal tangannya kuat sampai dia terlihat gemetaran. Walau sekeras itu dia menahan diri terhadap emosinya,
"Aku harus apa?" gumam Arkas menerima tangan Eris. "Haruskah aku pura-pura tersenyum pada mereka sebagai Tuan Muda Pertama?"
"Tidak. Sudah kubilang istirahat malam ini." Eris menyentuh pipi Arkas dan tersenyum. "Bagaimana jika begini? Ikuti ritualnya dan diam-diam pergilah ke Kastel Bintang. Ini kesempatanmu menghabiskan waktu berdua setelah sekian lama."
Tentu saja Arkas tidak tahu jika dibalik semua itu, Eris menyimpan niat lain.
Arkas terlalu lelah untuk menduga-duganya.
__ADS_1
*
Roxanne sebenarnya membayangkan banyak hal ketika kata ritual diucapkan. Tapi Narendra tidak memiliki agama hingga ritual dalam bayangannya terpatahkan. Ritual ini secara khusus dibuat dan dimaknai oleh mereka sendiri.
Setelah Arkas memulai, Roxanne dan Elios berjalan menaiki altar dengan pakaian berat itu. Mereka masing-masing diberi sejumlah bunga mawar hitam, lalu berjalan mendekati pigura yang berjejer di mana ada gambar Eirene dan orang-orang yang Roxanne tak kenal.
Untuk sesaat, Elios berhenti tepat di depan lukisan Eirene. Pria itu mendongak menatapnya. Terlihat jelas ada gumpalan emosi di sana dan Roxanne merasa itu adalah kemarahan.
Saat itulah ... tiba-tiba, seluruh lampu padam. Semua orang nampak terkejut sekalipun lampion dapat menerangi seluruh area. Tapi yang paling mengejutkan adalah suara nyanyian merdu tiba-tiba terdengar.
Roxanne melihat Elios membeku.
"Eri?"
Nyanyian lembut itu membelai seluruh telinga mereka. Roxanne merasakan jantungnya ikut luruh mendengar suara tangisan tiba-tiba pecah dari seluruh tempat.
"Tuan Muda."
Suara Roxanne seperti menyentak Elios. Dia menoleh seolah-olah tak percaya jika Roxanne berada di sampingnya.
"Eri selalu bernyanyi saat dia senang ataupun sedih." Elios meringis sakit. "Maaf, Istriku. Maaf. Maaf aku menangisi Eri di depanmu."
Air mata membanjiri Roxanne. Tidak, bukan begitu. Ia baik-baik saja. Elios berhak mencintai saudarinya. Dia kehilangan gadis itu dan kini hanya bisa meratapi kematiannya.
__ADS_1
"Anda berhak menangis." Roxanne tak sanggup melihat Elios seperti ini. "Jangan merasa bersalah. Tolong bersedih untuk saudari Anda."
Elios menangis terisak-isak. Gemetar memeluk Roxanne sampai mungkin dia lupa bahwa tulang tangan Roxanne patah.
Namun Roxanne diam. Menahan ngilunya untuk Elios, malam ini saja.
*
"Memang tidak bisa diremehkan." Sanya menyelinap saat semua orang tengah mengenang untuk pergi diam-diam ke gerbang. "Hah, Elios tidak bisa diremehkan. Bisa-bisanya dia sampai memutar suara Eirene cuma untuk menarik hati Kakak. Aku kan jadi kasihan."
Melihat Roxanne, lebih tepatnya.
Tapi sayang sekali Sanya tidak bisa menghibur Roxanne nanti sebab ia harus pergi ke Kastel Bintang sekarang. Saat semua orang sibuk mengenang orang mati, mayat orang mati itu sedang berbaring nyaman di Kastel Bintang.
Mustahil Sanya bisa pergi sendiri ke sana, sedangkan semua istri Elios adalah Rapunzel dalam menara. Karena itulah Askala repot-repot membantunya pergi diam-diam.
"Maaf, Kakak." Sanya melompat naik ke helikopter yang terletak jauh dari tanah Narendra. "Tolong hibur diri Kakak sendiri nanti. Akan kuhibur Kakak nanti setelah pekerjaanku selesai."
Mengambil mayat Eirene. Itu adalah langkah paling penting dalam menguasai pewaris keluarga ini. Sekaligus hal yang menentukan kesuksesan rencana Sanya kedepannya.
Walau mungkin Sanya tidak tahu bahwa yang memutar suara Eirene tadi bukanlah Elios.
Sanya berpikir bahwa itu Elios, untuk menarik perhatian Roxanne sampai ke dalam-dalam sebelum dia menuangkan lumpur ke wajahnya.
__ADS_1
Tapi sayangnya itu perbuatan Eris. Dengan berbagai pertimbangan yang sudah sangat matang.
*