
"Satu bulan."
Istri ketiga Arkas tersenyum manis mendengarnya. "Apa yang Anda bicarakan, Tuan Muda?"
"Sejak aku mengurung anak itu."
"Maksud Anda Tuan Muda Elios?"
Arkas menopang pipinya dengan tangan. Menatap kosong pada surat yang ia terima dari Graean untuk kesekian kalinya.
Surat itu berisi :
Yang terhormat, Tuan Muda Pertama.
...Saya tahu kemarahan Anda pada adik Anda sangat besar. Saya mengakui dengan rasa malu bahwa Tuan Muda memang sering membuat masalah untuk Anda. Tapi, kondisi beliau sekarang semakin memburuk dan kami semua mengkhawatirkan beliau. ...
...Sekalipun Tuan Muda saya akan marah jika meminta ini, saya akan tetap memintanya. Bisakah hukuman beliau diringankan? ...
...Tolong selalu ingat beliau tetap adik Anda yang menghabiskan waktu bersama Anda sejak dulu. ...
^^^Tertanda, Graean. ^^^
"Kalau dipikir lagi, Anda menahannya cukup lama." Istri Arkas memiringkan wajah bingung. "Saya tahu Tuan Muda Elios melanggar kesepakatan, tapi bukankah satu bulan terlalu lama?"
Arkas tahu.
"Selain itu, saya rasa istri terakhirnya sekarang, kemungkinan dia akan semakin terkucilkan. Apa ada alasan khusus kenapa Anda membuat keputusan ini?"
__ADS_1
Tentu saja. Arkas tidak membuatnya semata untuk menyiksa siapa pun.
"Roxanne perlu belajar tentang dunia apa yang dia tinggali sekarang," jawab Arkas samar namun cukup terdengar. "Dan, Elios tidak menyukai wanita yang lemah dan menyedihkan."
Eirene Narendra. Dia bukan hanya lahir sebagai gadis cantik tapi juga tumbuh menjadi wanita luar biasa. Jika saja anak itu masih hidup, Arkas yakin dia akan berdiri di sisinya sebagai salah satu penopang bagi generasi Narendra selanjutnya.
"Dengan kata lain Anda menjodohkan Roxanne dengan Tuan Muda Elios?"
"Anggap saja begitu."
Walau tidak terlalu tepat menyebutnya begitu. Arkas hanya tertarik pada keserakahan besar di mata Roxanne yang sekilas nampak hanya seperti gadis tertindas.
Dia benar-benar menyedihkan dari luar tapi di matanya terlihat dia siap bahkan kalau ada posisi sebagai Ratu Dunia.
"Juga," Arkas menjatuhkan kepalanya ke sandaran kursi. Terpejam erat dengan kedua tangannya tiba-tiba menguat.
"Aku tidak sudi," bisik Arkas, "orang itu masih memikirkan adik kecilku setelah perbuatannya."
Arkas selalu merasa terlambat untuk bertindak. Kalau saja sedikit lebih cepat ia menyadari rencana Eirene, Arkas pasti akan memisahkan Elios dan Eirene.
Agar anak itu tidak perlu menusuk jantungnya sendiri.
Sekujur tubuh Arkas bergetar saat kembali ia mengingat tubuh Eirene tergeletak di kamarnya, bersimbah darah. Ia ingat saat datang, pisau masih tertancap di jantungnya, dalam posisi Eirene yang memegang erat pisau itu sendiri.
Arkas ingat bagaimana Elios berlutut di antara genangan darah karpet kesayangan Eirene, terbelalak kehilangan kewarasannya.
"Tuan Muda." Istri Arkas menyentuh lengannya sebelum Arkas semakin dalam tenggelam. "Tenangkan diri Anda."
__ADS_1
Sudah.
Arkas sudah mencoba selama sepuluh tahun terakhir.
Ia berusaha dan terus berusaha tenang, sedikit saja memaafkan Elios sebagai adiknya juga.
Tapi semakin lama justru kemarahan Arkas membara. Ia tak pernah rela salah satu adik perempuannya, sekalipun mereka beda ibu dan ayah, malah mati menusuk jantungnya sendiri.
"Kakak Pertama." Arkas masih ingat bagaimana anak itu tersenyum anggun memanggilnya pada percakapan terakhir mereka. "Aku adalah Narendra, bukankah begitu?"
Arkas tidak menyadari makna dari ucapan adiknya saat itu. Kalau saja ia sadar dan bukan menganggapnya hanya percakapan santai, Arkas akan tahu rencana gila Eirene.
Seharusnya saat itu Arkas tidak menjawab, "Apakah ada seseorang yang meragukan itu, Adik Manis? Bahkan matahari dan rembulan mengakui keindahan adik kecilku."
Seharusnya saat itu Arkas bukan ikut tertawa melihat Eirene tertawa. "Kakak Pertama harus selalu ingat bahwa aku sangat mencintai darahku sebagai Narendra."
"Benarkah? Haruskah kucatat? Atau aku harus mengukir kalimatmu itu di atas batu yang mulai sekarang menjadi pusaka?"
Eirene sudah memikirkan segalanya saat dia mengulurkan bunga mawar merah kesukaannya ke tangan Arkas.
"Aku akan terus hidup sebagai Narendra. Menjaga seluruh kehormatanku sebagai Narendra. Jadi tolong jaga keluarga ini bahkan sampai seribu tahun kemudian, Kakak."
Arkas kini hanya bisa mencengkram kepalanya sendiri, merasakan sakit dan penolakan atas kematian Eirene.
"Tuan Muda, kembalilah di bangunan Anda. Saya akan meminta saudari-saudari Anda datang. Mungkin tidak ada salahnya mengajak mereka minum teh bersama," kata istrinya, memberi saran halus.
"Ide bagus." Arkas langsung tersenyum lembut. "Panggilkan juga Bibi Medea. Aku sudah lama tidak berbincang dengannya."
__ADS_1
*