Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
105


__ADS_3

Roxanne hanya berbaring di tempat tidurnya setelah itu. Mungkin sekarang tidak ada lagi yang akan datang membawakan makanan, karena sang Tuan Muda yang berpura-pura jadi pelayan itu dihina.


Selalu seperti itu pada akhirnya. Selalu Roxanne yang menjadi pihak dimanfaatkan.


"Mau bagaimana lagi," gumam Roxanne seraya menatap langit-langit kamarnya. "Orang yang butuh selalu jadi orang yang dikendalikan. Dan orang yang dibutuhkan sudah pasti mengendalikan."


Sama halnya dengan Roxanne dijadikan boneka bahkan setelah berulang kali Elios menyakitinya, Dwi atau siapa pun dia itu juga mengendalikan Roxanne.


Roxanne butuh padanya. Pada kasih sayangnya (yang mungkin palsu), pada kelembutan dan kehangatannya, pada perasaan dimanusiakan saat bersamanya. Jika dia tahu itu, mudah mempermainkan Roxanne.


"Apa aku lahir sebagai mainan Narendra, yah?" Roxanne hanya bisa bergemu. "Nasibku benar-benar sial setelah terlibat dengan mereka."


"Mungkin karena kamu melihat kami dari kacamata yang keliru," timpal seseorang.


Yah, seperti ini. Seperti inilah kesialannya juga. Semua orang bisa tiba-tiba datang, duduk di ruangan pribadi Roxanne tanpa izin.


"Apa Anda tahu, Tuan Muda?" Roxanne melirik pada Arkas. Tidak usah tanya bagaimana dia ada di sana karena Roxanne malas memikirkannya. "Saya sedang dalam suasan hati yang luar biasa tidak pasti dan saya takut jika kebodohan saya dalam suasana hati ini melukai Anda di sisi yang tidak sepantasnya."


Bahasa halus dari : pergilah ke neraka!


Arkas tertawa. "Kamu sudah mulai belajar kalimat semacam itu. Aku memuji peningkatanmu, Adik Kecil."


"Saya bukan adik Anda."

__ADS_1


"Yah, kesampingkan soal itu." Arkas meletakkan makanan ke atas meja, yang berarti kali ini dia secara langsung datang untuk memberi Roxanne makan.


"Sepertinya Anda tidak sesibuk yang saya dengar," cibir Roxanne. "Repot-repot membawakan makanan pada budak."


"Hm? Aku melakukan apa pun yang kumau sebagai Narendra." Arkas malah membalas seakan tidak mendengar sindiran sama sekali. "Makanlah. Kamu harus sedikit gemuk saat tinggal di sini."


Bagaimana ia bisa gemuk kalau isi piringnya sembilan puluh persen adalah buah?


"Roxanne." Arkas memanggilnya dengan ekspresi itu lagi. Wajah yang menunjukkan dia adalah kakak dan dia memandang semua adiknya sama—kecuali Elios. "Eris tidak bermaksud menipumu."


"Eris?" Roxanne sempat bingung, tapi dengan mudah ia memikirkan satu orang yang berkaitan erat dalam kata 'menipu' itu. "Ah, jadi Eris adakah nama asli Dwi?"


"Dwi bukan nama. Itu 'sebutan' untuk posisinya. Makna dari Dwi adalah Tuan Muda Kedua."


Jadi begitu, gunam Roxanne dingin. Pantas saja dia bicara panjang lebar mengenai Arkas. Aku pikir dia menghormati tuannya, tapi ternyata saudaranya.


"Wah." Roxanne tersenyum. "Kehormatan besar bagi saya bisa berselingkuh dengan Tuan Muda Kedua. Sepertinya hidup saya tinggal malam ini saja—berhubungan istri-istrinya pasti akan membunuh saya. Berapa itu, omong-omong? Enam orang juga? Atau lima?"


"Melihatmu salah paham sambil menahan rasa kesal itu—aku jadi mengerti kenapa Eris malah berkata itu menggemaskan." Arkas malah terkekeh.


"Benar." Roxanne menyipit tajam. "Saya memang bahan tertawaan."


"Tidak seperti itu, Roxanne. Eris—"

__ADS_1


"Datang ke sini menjelaskan semuanya di mata saya seperti Anda-lah yang menyuruh pria itu datang merayu saya."


Aroas menghela napas. Nampaknya dia menyerah bersikap baik ketika Roxanne membalasnya kasar. "Eris berencana datang membawa makanan," jelasnya. "Dia selalu seperti itu. Aku yang memaksa agar aku saja yang datang."


"Oh."


"Baiklah, jangan marah. Aku akan jujur." Arkas menjatuhkan diri ke kasur Roxanne, duduk menatapnya seperti sedang menatap kucing yang tengah bersikap angkuh. "Aku tidak menyetujui perbuatan Eris. Aku menentangnya sampai sekarang, jujur saja."


Roxanne memilih menatap ke arah lain.


"Tapi Eris berkata dia melakukannya karena ingin."


"Ya, tentu saja. Selalu seperti itu sebab dia Narendra," gumam Roxanne sinis.


"Dia tertarik padamu secara pribadi. Bukan karena Elios atau siapa pun."


"Saya tidak percaya jadi jangan bujuk saya."


"Ini bukan bujukan." Arkas menghela napas. "Aku justru ingin bilang ... jangan teruskan."


Eh?


*

__ADS_1


__ADS_2