
Selama beberapa hari terakhir, Elios memakai penutup mata semi-transparan. Itu penutup mata berwarna putih yang membuatnya bisa melihat tapi sangat tidak jelas dan hanya berupa bayangan samar.
Itu Elios gunakan agar tidak ada satupun wajah yang ia lihat lalu mengira dia adalah Eirene.
Tidak layak. Benar-benar tidak layak seseorang di kediaman ini menjadi Eirene-nya.
Pagi ini Elios memutuskan berjalan-jalan di taman sendirian. Mencari udara segar sekaligus bersantai sebelum mengurus pekerjaannya jam delapan nanti.
Walau tidak ditemani siapa pun dan kedua matanya tertutup, Elios sudah menghafal secara keseluruhan sudut kastelnya sendiri. Jadi ia tak mungkin salah dalam melangkah.
Tapi rasanya baru sebentar menghidu aroma taman mawar kesukaan Eirene, Elios merasakan seseorang mendekat.
"Enyah dari sekitarku," gumam Elios dingin. Ia tak bisa memastikan dia Graean atau siapa, tapi yang jelas pergilah. "Kamu tidak mendengar atau butuh telingamu dipotong?"
Mendadak, Elios mendengar suara tawa.
Tidak, itu hanya suara seseorang menahan tawa tapi itu jelas menertawakan Elios.
"Tuan Muda."
"Roxanne." Elios langsung mengenali suara menjengkelkan itu.
Di kediaman ini, sekarang, Elios paling membencinya. Sangat amat membencinya untuk seluruh keberadaan dia.
"Anda tidak merindukan saya, Tuan Muda?"
Masalah apa lagi yang mau dibuat perempuan menjengkelkan ini?
"Kurasa aku memang harus mengusirmu dari dunia, Roxanne."
"Anda—ah, tidak. Kamu mau melakukannya, E-li?"
__ADS_1
Seluruh badan Elios menegang.
Seketika itu, hanya butuh satu kata itu, Elios memahami segalanya.
Jadi dia! Dia yang mengaku-aku sebagai Eirene dan menyuruh Elios meminum obat dari tangannya.
"Roxanne." Elios bergumam rendah. "Kematianmu tidak akan mudah."
Dari suaranya Elios sudah bisa menyimpulkan di mana dia berdiri. Elios hanya perlu berbalik, berjalan beberapa langkah untuk menangkap seluet dari balik penutup matanya.
Untuk berjaga-jaga, Elios akan tetap memakai penutup mata ini. Tapi ia tidak butuh membukanya cuma untuk membunuh hama.
Baru saja tangan Elios mau meraihnya, suara dingin Roxanne menyapu pendengaran tajam Elios.
"Pria menyedihkan."
Jelas, Elios tercengang mendengar ucapan lancang itu.
"Kamu—"
"Eri meninggalkanmu karena kamu tidak berharga, bukan begitu?"
*
Roxanne sangat puas karena akhirnya bisa berbicara santai. Ia sudah menunggu berhari-hari untuk mengatakan secara langsung pada Elios.
Tentu saja, hari ini Roxanne tidak berencana bunuh diri.
"Meracau Eri, Eri, Eri tiap waktu," bisik Roxanne dengan senyum merendahkannya. "Hei, gadis meninggalkan pria tidak berguna bahkan kalau dia setampan malaikat, bodoh."
Leher Roxanne langsung tercekik oleh tangan kasar itu lagi. Kali ini, ekspresi penuh kebencian Elios bahkan terpancar dibalik penutup matanya itu.
__ADS_1
Namun alih-alih takut, Roxanne malah tertawa.
"Lakukan saja lagi agar Tuan Muda Pertama menghukummu lagi."
Elios mengencangkan cekikannya. "Jadi karena Arkas kamu berpikir bisa selamat dariku, hah?! Wanita tidak berguna! Aku bisa membunuhmu kapan aku mau dan Arkas tidak punya urusan dengan itu!"
Roxanne malah semakin tertawa di antara wajah pucatnya. "Kamu kan bergantung pada Arkas."
"Roxanne!"
"Eri ada di tangannya, kan?"
Arkas mengatakan itu sendiri. Arkas yang memberitahu Roxanne kelemahan Elios ada di tangan Arkas, Eirene ada bersama Arkas, jadi Elios akan selalu mendengarkan Arkas.
Bahkan kalau Elios tidak mau mengakui, faktanya dia takut pada Arkas. Takut jika Eirene di tangan Arkas tidak kembali ke tangannya.
"Elios, aku menyadari kamu benar-benar tidak berguna bagiku sekarang."
Roxanne menepis tangan itu dengan mudah karena dia sibuk terkejut.
"Kamu juga bergantung pada seseorang. Kalau dipikir lagi, kamu dipanggil Tuan Muda juga karena seseorang, bukan karena kamu pantas. Hah, dasar orang hina."
Roxanne mendorong Elios dengan seluruh tenaganya. Puas melihat ketika Elios terjatuh ke belakang.
Tak mau kesempatan itu hilang, Roxanne naik ke atas tubuhnya, balik mencekik Elios. Tak kuat, tapi cukup membuatnya terkejut.
"Ditinggalkan oleh Eirene, dibuang dari keluarga terhormat, namamu diganti menjadi hinaan, bahkan pergerakanmu diawasi ketat oleh kakakmu yang marah padamu."
"Elios, berhenti bertingkah sebagai raja. Kamu itu pecundang."
*
__ADS_1