
"Bisakah kamu mengembalikan istri adikmu sekarang?"
Eris sempat berhenti menyisir rambut Simon, kucing kesayangannya, tapi kemudian kembali menyisir meskipun ia dengar jelas apa yang ibunya katakan.
Selalu begitu. Medea selalu mendengar Elios dan Elios selalu tahu bahwa dia kesayangan Medea. Bukannya Eris tidak memperkirakan Elios menyuruh Medea datang untuk Roxanne.
"Tidak bisa, Ibu." Eris menjawab tenang. "Elios membuang benda miliknya dan aku memungut itu. Sekarang sudah milikku."
"Kamu tahu logika semacam itu tidak berpengaruh pada Ibunda. Kembalikan istri adikmu."
"Aku menolak," tegas Eris namun lembut. "Aku menolak segala opini tentang mengembalikan Roxanne apalagi permintaan. Jadi jika hanya itu, Ibu bisa kembali ke kamar Ibu."
Medea tersenyum kecut pada putranya yang buta. "Kamu selau melakukan segalanya demi Arkas."
"Itulah tugas dari anak pertama dan kedua dalam keluarga ini, Ibu. Apa Ibu sekarang mendebatnya?"
"Tidak. Itu memang tugas kalian."
"Benar."
"Tapi apa hanya dengan begitu permasalahan bisa selesai?" tanya Medea kritis.
__ADS_1
"Apa yang coba Ibu katakan?" balas Eris walau sebenarnya menangkap maksud Medea.
"Apa kematian adalah solusi dari kalian, generasi emas Narendra? Pertama Eirene, dia melakukan tugas mulia dengan tidak membuat sejarah anak inses di keluarga ini, namun kematiannya membekas sampai sekarang. Lalu Nernia, istrimu, kematiannya pantas namun menjadi bukti betapa brutal caramu mengambil solusi."
Medea melangkah maju, menatap wajah putranya yang begitu menawan namun dipenuhi kegelapan hati.
"Tuan Muda," panggil Medea, menekan gelar anaknya. "Apa Anda akan membunuh semua saudara Anda yang berbuat masalah? Apa membunuh semua istri Anda adalah solusi dari masalah?"
"Aku mulai tidak mengerti," jawab Eris pelan. "Siapa yang sedang Ibu bicarakan? Adikku, istriku, atau Roxanne? Atau mungkin aku dan Arkas?"
"Entahlah." Medea tertawa miris. "Apa yang sedang dibicarakan wanita menyedihkan ini?"
"Ibu—"
Eris tetap menggeleng. "Sudah kubilang tidak bisa."
"LALU NYAWA SATU WANITA LEBIH BERHARGA DARI NYAWA ADIKMU?!"
Eris tercengang mendengar untuk pertama kali ibunya membentak.
"Kamu bisa membunuh Elios yang mengganggu Arkas tapi bahkan tidak bisa menyerahkan satu wanita menjengkelkan yang sebenarnya milik adikmu?! Ada apa dengan otakmu?! Tidak bisakah sekali saja, SEKALI SAJA, kalian memberi Ibunda waktu bernapas?!"
__ADS_1
"Maaf, Ibu." Eris beranjak, melepaskan Simon yang memeluk Medea. "Maaf menjadi anak tidak berguna. Jangan menangis."
Tubuh Medea bergetar akibat tangisannya. Dia mencengkram pakaian Eris dan terisak-isak melampiaskan kekesalan.
Dia pasti lelah. Pasti sangat lelah.
"Mengalah pada adikmu," bisik Medea lemah. "Elios sudah tersiksa kehilangan Eirene. Berikan saja Roxanne. Berbeda darimu yang kuat, Elios lemah. Dia tidak bisa bertahan sepertimu."
Jadi Medea tahu bahwa Eris mencintai Roxanne? Pikir Eris beliau juga sama seperti Arkas, mengira bahwa semuanya cuma palsu.
"Aku mengerti Ibu sangat menyayangi Elios tapi aku tidak bisa membiarkan Elios menyentuh Roxanne. Itu akan melukai Arkas dan jika Arkas terluka, dia tidak akan bisa menjalankan tugasnya sebagai pemimpin."
Walau alasan terbesarnya adalah Eris ingin egois, tapi ia akan berpura-pura tidak egois dan hanya melakukan tugasnya sebagai Tuan Muda Kedua.
Medea tersenyum putus asa.
"Serahkan Roxanne, Eris," ucapnya, "atau Ibunda membakar jasad Eirene hari ini juga."
"Ibu tahu di telingaku itu bukan ancaman."
"Itu ancaman. Ibunda bersedia dicap sebagai pengkhianat karena melukai harta berharga Narendra." Medea tertawa paksa. "Lagipula tidak menjadi pengkhianat pun Ibunda hanya akan melihat kalian berdua saling membunuh. Akan jauh lebih baik jika Ibunda ikut serta juga."
__ADS_1
Eris akhirnya sadar itu bukan sekadar ancaman.
*