Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
Persidangan Selesai


__ADS_3

Pemimpin Utama tersenyum kecil di tempat duduknya. "Roxanne, Sanya, naik ke tribun dan Arkas, turun ke bawah."


Itu mengisyaratkan bahwa isi persidangan sepenuhnya berubah. Ini bukan lagi tentang bagaimana nasib Roxanne namun tentang ketiga orang yang memperdebatkan nasib Roxanne.


Askala menopang dagu melihat perkembangan ini terjadi. Padahal Askala berpikir bahwa ini akan jadi kemenangan Elios dengan datangnya Sanya.


"Arkas, sebagai anak pertama, katakan sesuatu lebih dulu," perintah Pemimpin.


Arkas menatap Roxanne yang menatapnya tanpa keraguan dan tiba-tiba tersenyum. Sepertinya sekarang dia sudah bukan si Boneka Yang Dipermainkan oleh seseorang.


"Aku mengakui itu benar," ucap Arkas. "Aku, jauh di hatiku, mencintai adik-adikku termasuk istri Elios. Tapi aku juga memperlakukan mereka seperti binatang bukan manusia. Aku mengakui kekurangan dari kebijaksanaanku."


Lalu Arkas menoleh pada Eris yang tampaknya terguncang oleh perubahan situasi.


"Dan aku mengakui bahwa Eris berbuat salah."


Arkas selalu menahannya. Sebab ia tahu bahwa Eris ingin menjaga keyakinan mereka sebagai Narendra. Jika mengakui bahwa tindakan Eris salah, maka itu seperti mengakui bahwa Arkas seharusnya mati, Eris seharusnya memimpin.


"Aku menentang kematian Nernia, Ayah."


"Arkas." Eris coba menghentikannya, tapi Arkas menolak.


"Aku menyetujui kematian Nernia jika dia sudah berbuat. Jika dia menancapkan pedangnya padaku, maka aku mengakui bahwa dia pantas mati sebagai pengkhianat. Tapi pada kenyataannya Nernia mati karena Eris terlalu bersikeras. Dan aku menolak kedua matanya buta karenaku. Dia terlalu keras kepala."


"Lalu kamu ingin apa?" balas Eris geram. "Lalu kamu menganggap Nernia hanya candaan? Kamu menganggap ancaman pemberontakan hanya sebatas lelucon? Apa yang membuat otakmu menjadi gila sekarang?"


"Bukankah karena Roxanne?" timpal Elios. "Kakak, bukankah kamu masuk dengan wajah pucatmu ke tempat ini karena sejak kemarin kamu menahan diri tidak membunuhnya? Perempuan itu, yang kamu cintai, menunjukkan bibit pemberontakan di depan matamu. Kamu terus berpikir membunuhnya sebelum dia terlalu banyak bicara tapi kamu membiarkan dia berteriak, meminta dia harus menjadi manusia. Istri Narendra adalah manusia. Benar sekali. Karena itulah mulai sekarang mereka tidak boleh memanggil suami mereka Tuan Muda, melainkan 'Budak'."

__ADS_1


Brak!


Perdebatan itu terhenti karena Pemimpin Utama memukul meja sangat keras. Tapi kemudian pria itu menatap Askala yang sejak tadi hanya tersenyum-senyum.


"Apa saranmu, Askala?"


"Perubahan peraturan," jawab Askala dengan mata tertuju pada Arkas. "Tapi sepertinya Arkas tidak akan setuju karena itu berarti Elios bisa menuntut nama Narendra-nya lagi."


"Aku akan menuntutnya jika peraturan diubah," imbuh Elios seketika. "Dan detik itu juga aku akan meminta duel untuk perebutan hak waris."


Askala yang tidak memberi saran tapi sebenarnya menyiram minyak ke api, beralih pada Eris. Kembali wanita itu mau menambah besar apinya.


"Jika kamu menolak peraturan diubah, Eris, maka Roxanne tidak bisa jadi istrimu. Dan jika kamu mendukung peraturan diubah, kamu harus membunuh Elios untuk menghentikan dia. Dan Arkas tidak akan setuju. Lagipula, Arkas juga tidak akan setuju mengembalikan nama Elios."


Askala tertawa keras menikmati mereka berputar-putar dalam masalah itu. Mau tak mau Askala kecanduan. Wanita itu beralih lagi ke arah lain, kali ini adalah Roxanne.


"Katakan sesuatu, Roxanne. Bagaimana menurutmu?"


"Itu sangat benar."


Pemimpin Utama mengembuskan napas kasar. "Memalukan. Kalian bertiga membiarkan wanita menertawakan cara kalian menyelesaikan masalah?" ucap pria itu pada ketiga pria di bawah sana.


Elios menjawab, "Aku bermaksud membunuh wanita itu agar dia berhenti berkomentar, Paman. Karena sebenarnya dia juga tidak bisa berbuat apa-apa."


"Aku hanya wanita," jawab Roxanne yang tahu maksud Elios. "Apa yang kamu harapkan dariku, hm? Haruskah aku mengambil pisau dan mengancam kalian patuh padaku agar masalah kalian selesai?"


"Istriku, sekarang kamu pandai menjawab. Apa karena pria buta mencintaimu jadi kamu berpikir dunia melindungimu?"

__ADS_1


"Aku mengandalkan iblisku." Roxanne mengusap kepala Sanya. "Dia yang melindungiku."


"Sanya? Milikmu? Kamu berpura-pura tidak tahu bahwa dia datang padaku karena berkhianat darimu, kan?"


"Apa itu sama artinya Sanya memihak kamu?"


Sanya menguap lebar, berbaring pada bahu Roxanne. "Bangunkan Sanya jika semuanya selesai."


"Aku mendukung perubahan peraturan," ucap Arkas yang seketika menghentikan obrolan ringan barusan.


"Aku mendukung Roxanne menjadi istri Eris—jika dia mau—dan mengembalikan nama Elios sebagai Narendra."


Eris dan Elios sama-sama berpaling tak percaya. Jika ada satu di ruangan ini yang seharusnya paling menolak perubahan peraturan, itu adalah Arkas.


Dia tidak mau bukan karena dia keras kepala atas aturan atau kolot, namun karena dia henci Elios menginjakkan kaki di Narendra lagi. Dan orang itu baru saja berkata dia setuju?


Arkas, yang menahan gemetar di tangannya, menatap Pemimpin Utama penuh kesungguhan.


"Aku menyebut Eris keras kepala tapi aku juga. Dan aku mengalah dari itu. Generasi kami melakukan banyak kesalahan, Ayah, aku mau memperbaikinya."


Keluarga ini akan hancur jika Arkas cuma terus mengutamakan kebenciannya. Ia tak bisa memaafkan Elios tapi Roxanne, Sanya dan juga Eris tidak perlu menjadi korban untuk hal itu.


Ayo hentikan drama ini. Mereka seharusnya tidak berputar-putar hanya karena pendirian yang terlalu keras kepala.


"Aku menolak." Elios menghentikan adegan yang seharusnya mengharukan itu. "Aku tidak butuh nama Narendra asal aku bisa membunuh Roxanne."


"Bahkan jika aku mengambil Diane?" balas Arkas. "Aku masih bisa memutuskan kematian terakhir di generasi kita adalah kematianmu, dengan begitu kamu kehilangan Diane. Apa kamu baik-baik saja, Adik Kecil?"

__ADS_1


Persidangan selesai detik itu juga karena Elios menggigit lidahnya.


*


__ADS_2