Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
Salah Perhitungan


__ADS_3

Saran Arista sejujurnya menarik dipertimbangkan. Selama ini kekuatan Eris itu mutlak. Bahkan sejujurnya Arkas yang merupakan Tuan Muda Pertama bukan apa-apa di hadapan Eris.


Mustahil Arkas bisa membunuh Arista atau istrinya yang lain hanya demi Eris. Arkas pasti akan memilih jalan yang tidak melukai keduanya, tapi Eris tidak. Dia dengan tegas memilih Arkas dan membuang Nernia.


Sekarang Eris melemah untuk satu wanita baru. Roxanne, istri adiknya sendiri. Jika dia benar-benar memilihnya di depan semua orang, terutama tetua Narendra, maka Eris secara langsung mengumumkan bahwa dia tidak akam melakukan tindakan brutal lagi demi Narendra.


Dia tidak bisa lagi sebab dia memilih sesuatu yang salah yaitu Roxanne. Tapi bagaimana jika Eris membuang Roxanne juga? Bagaimana kalau dia justru menilai Roxanne sebagai ancaman sebab dia lemah terhadap Roxanne dan membunuhnya juga?


Itu sama persis seperti yang dia lakukan pada Nernia, meskipun alasannya berbeda.


Pikiran Arkas dipenuhi banyak hal ketika ia terbang ke Papua tanpa sepengetahuan Eris. Dia melarang Arkas menemui Sanya dengan alasan Arkas harus fokus pada Elios.


Tapi saat Arkas tiba di sana, melihat gadis yang ia kurung dalam kondisi baik-baik kini menjadi gadis dengan satu mata yang hilang ... Arkas hanya bisa menahan napas.


Eris memang sudah terlalu brutal.


"Sanya."


Gadis itu tertawa melihat Arkas. "Sanya menghabiskan waktu berpikir banyak hal dan kedatanganmu adalah salah satunya."


Di belakang Arkas, Askala melipat tangan. "Jadi orang yang kamu tunggu adalah Arkas?"


Sanya tersenyum. "Bukan."


Sanya sedikitpun tidak menunggu Arkas. Tapi melihat Arkas datang, Sanya bisa memperkirakan situasi.

__ADS_1


"Kamu berselisih dengan Eris?" tebak Sanya tepat sasaran. "Sudah kuberitahu pada Nona Bermasalah, Tuan Muda Baik Hati. Cara untuk melawan pria itu adalah membunuh kamu. Kamu kelemahannya."


Arkas menggeleng walau bukan untuk menolak perkataan Sanya. "Aku lelah membunuh demi kelangsungan keluargaku, Gadis Kecil."


"Tapi Narendra adalah keluarga yang berdiri di atas mayat," balas Sanya tertawa. "Kalian lupa? Lio Narendra—Lio Ekata Yasa membunuh semua anggota keluarga Yasa dan menggantinya jadi Narendra agar keluarga ini berdiri. Kamu terikat oleh kutukan masa lalu."


Arkas kembali menggeleng. "Aku tidak punya urusan dengan masa lalu. Urusanku masa depan."


"Lalu masa depan apa itu?"


"Masa depan di mana kamu menjadi adikku," jawab Arkas pasti dan berhasil membuat tawa Sanya hilang.


Begitu melihat Sanya, Arkas sudah bisa menebak apa yang benar-benar ditunggu gadis ini.


Dia menunggu kakak yang sangat dia sayangi karena sangat bodoh itu datang membunuhnya. Mungkin dia merasa puas dengan itu daripada menjadi bagian dari Narendra yang dia benci.


Sanya terlihat sudah tahu bahwa dia mustahil menghancurkan Narendra. Jadi setidaknya dia mau mati di tangan Roxanne.


Tapi berkat itu Arkas jadi tahu harus berbuat apa. Ia tak mau lagi mendengar kata 'bunuh' terutama pada orang-orang yang akan ia naungi.


"Askala." Arkas menoleh pada adiknya. "Ayo pergi bersamaku. Ada sesuatu yang harus kamu lakukan."


Askala yang tidak pernah mendapat kalimat semacam itu dari Arkas langsung mengangkat alis. Gadis itu mengalungkan lengannya pada leher Arkas, menatap matanya lekat.


"Apa itu? Bercinta denganku? Hm? Kamu mau melakukannya?"

__ADS_1


"Aku tidak bisa bercinta dengan adik kandungku. Aku tidak bisa sama sekali."


Arkas membelai wajah Askala. "Tapi aku akan menciummu dan melakukan apa pun perkataanmu, selain bercinta, jika kamu mau. Jadi bisakah aku minta tolong padamu, Adikku Sayang?"


Segila apa pun Askala, setidakwaras apa pun dia pada Arkas, dia benar-benar mencintai Arkas. Dia sangat mencintai Arkas.


Karena itu Arkas tahu Askala akan tersenyum, mengangguk setuju. "Baiklah, tapi kamu harus memanggilku dengan manis juga dan kamu harus tidur denganku setiap malam."


"Tanpa bercinta, ya baiklah." Arkas mengecup keningnya. "Aku mencintaimu, Adikku."


Askala terkekeh. Melompat ke pelukan Arkas yang langsung membawanya pergi, meninggalkan Sanya sendirian.


Ekspresi Sanya yang semula cerah mendadak beku. Beberapa hari dalam kesendirian memang menyiksa Sanya secara mental, namun adegan barusan membuatnya gelisah.


Variabel. Barusan itu variabel. Sesuatu yang tidak Sanya duga dan ia tak tahu apa maksudnya berapa kalipun Sanya berpikir.


Kenapa Arkas butuh adik gilanya? Kenapa Arkas rela membuat kesepakatan yang selama ini tidak mau dia lakukan, demi membawa Askala ke sisinya?


"Alasan Eris dan Arkas berdebat seharusnya soal kematian Elios," gumam Sanya. "Eris jelas mau membunuh Elios dan Arkas menolaknya. Tapi kenapa Nona Bermasalah dibutuhkan? Arkas seharusnya tidak butuh dia."


Sanya tidak pernah salah dalam memperkirakan sesuatu. Setidaknya Sanya percaya hal itu.


Jadi satu-satunya alasan kenapa Askala dibutuhkan ... adalah karena Elios bukanlah alasan Eris dan Arkas berbeda pendapat.


*

__ADS_1


__ADS_2