Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
61


__ADS_3

Dasar Arkas menyebalkan. Memangnya dia siapa sok menasehati Roxanne? Memang dia tahu apa rasanya hidup di bawah naungan Elios?


Dia tinggal di tempat berbeda dan menjadi Tuan Muda yang dihormati semua orang, jadi mana tahu dia rasanya tersiksa di sini.


Menjengkelkan. Dia dan Elios sama-sama menjengkelkan.


"Apa yang membuat kamu tersenyum-senyum seperti itu?"


Roxanne tersentak kaget, sampai tak sadar kalau dirinya mengomel sambil tersenyum. Ingin rasanya Roxanne menampar diri sendiri, karena ia malah tepergok oleh Diane.


"Tidak ada." Roxanne berdehem. "Maksudku, tidak. Aku tidak tersenyum."


Diane menatap Roxanne curiga. Bahkan kalau bertanya pada angin, pastinya angin akan menjawab kalau Roxanne tadi tersenyum lebar.


Dia terlihat senang. Tidak, mungkin lebih tepat menyebutnya terlihat menikmati sesuatu yang menyenangkan?


"Kamu baru bertemu Tuan Muda Pertama, kan?"


Roxanne berdehem pelan. "Ada apa? Nyonya Pertama memanggilku?"


"Tidak." Diane mengangkat bahu. "Aku hanya penasaran. Tidak banyak hal terjadi di tempat ini jadi kedatangan Tuan Muda menarik perhatian. Kamu tidak suka ditanya?"

__ADS_1


Bukan begitu juga sih. Roxanne tidak terlalu membenci Diane. Pada kenyataannya, sejauh ini malah cuma dia yang sedikit memperhatikan Roxanne sekalipun dia tidak benar-benar peduli.


"Tidak. Tidak masalah. Lagipula kamu mengajakku bicara untuk memastikan aku tidak berbuat salah, kan? Itu membantu."


Diane mengangguk membenarkan, lalu diam mengikuti Roxanne berjalan.


Karena memang kesempatan bicara satu sama lain itu jarang datang, Roxanne langsung memikirkan pertanyaan yang mau ia tanyakan.


"Siapa istri Tuan Muda yang mengajukan namaku hari itu?"


Roxanne memang tidak terluka sesuai dugaan semua orang, tapi tetap saja perempuan itu secara terang-terangan menyerang Roxanne.


"Dia? Dia istri terakhir Tuan Muda sebelum kamu datang. Namanya Sanya."


"Aku kurang tahu." Diane menjawab tanpa keraguan. "Sejauh ini, bisa dibilang dia yang paling misterius. Usianya di bawahmu, kalau tidak salah. Belum mencapai dua puluh tahun. Dia tidak pernah bicara pada siapa pun kecuali Nyonya Pertama. Itupun beberapa bulan terakhir sepertinya sudah tidak lagi."


Roxanne berpikir kalau dia dari kubu Mariana, tapi ternyata bukan? Kalau begitu kenapa anak itu mengajukan Roxanne?


"Hanya saran dariku, tapi Sanya bukan gadis biasa. Ada sesuatu yang istimewa tentang dia sampai Mariana juga tidak mengusiknya. Jadi lebih baik lupakan saja. Toh, dia memberi saran yang logis."


Mengorbankan Roxanne untuk melindungi dirinya sendiri.

__ADS_1


Hah. Lalu Arkas berbicara kasih sayang ketika segala hal berlangsung seperti ini di kediaman Elios?


Mendadak Roxanne jadi keceea lagi.


"Kurasa Tuan Muda sudah menunggumu. Pergilah." Diane berhenti mengikuti Roxanne tepat setelah mereka mencapai tangga.


Roxanne mengangguk dan tak lagi berbalik. Pikirannya sedikit sibuk memikirkan si Sanya yang Diane bilang jangan dipikirkan.


Terus terang, Roxanne agak membenci anak itu setelahnya. Dia mendorong Roxanne padahal dia sendiri punya kewajiban. Kalau Roxanne sampai terluka di tangan Elios alih-alih mendapat malam pertama yang manis, memangnya dia bisa bertanggung jawab?


Selain itu, Roxanne tidak bisa memikirkan alasan Sanya membencinya seperti Mariana. Dia saja tidak dekat dengan Elios, lalu kenapa dia harus cemburu kalau memang alasannya adalah cemburu?


"Rumah dan keluarga memusingkan ini." Roxanne mendadak jadi kesal lagi. Memijat keningnya keras, merasa urat-urat di kepalanya berdenyut.


Tapi, itu justru membuat Roxanne tak sengaja melihat bekas gigitan Elios.


Dia meninggalkan banyak jejak di tubuh Roxanne. Pantas saja Arkas tersenyum-senyum bodoh tadi.


"Menikmati, huh?" Roxanne tersenyum kecut. "Menikmati tanpa harus mencintai. Dasar Narendra aneh."


Lebih baik ia tak memikirkan secara logika pola pikir orang-orang itu, karena kepalanya cuma akan sakit.

__ADS_1


Mari kembali, menjadi budak, dan tunggu waktu yang tepat buat bergerak.


*


__ADS_2