
"Istriku." Arkas berbalik pada Arista, istri pertamanya. "Beri saran padaku," pintanya dengan sedikit perintah.
Arista mengulas senyum manis. "Mengenai apa, Tuan Muda?" balas wanita itu lembut.
Tentu saja dia sudah tahu mengenai apa namun dia bersikap sopan dan memperlihatkan ketenangan agar Arkas juga ikut tenang.
"Apa pun," jawab Arkas lemah. "Beritahu aku apa pun. Sesuatu yang tidak bisa kupikirkan."
Arista memejam kemudian kembali membuka mata. "Kalau begitu," ucapnya penuh pertimbangan, "libatkan Nona Askala."
Tentu saja, saran yang sangat tidak masuk akal itu membuat Arkas tak percaya. "Kamu sedang mengajakku bercanda? Jika iya, Arista, aku akan sangat marah."
"Maaf membuat Anda terganggu, Tuan Muda, namun itu adalah saran istri Anda. Saya menjawab dengan apa yang saya pertimbangkan."
"Askala? Adikku yang ... kamu tahu bagaimana, kamu menyuruhku membawa dia?"
Arista sangat tahu bahwa membawa Askala berarti membawa masalah. Gadis itu pasti akan memicu keributan dengan tujuan ingin menjatuhkan Arkas. Agar Arkas menjadi miliknya saja bahkan kalau Narendra hancur.
__ADS_1
Arista tidak bermaksud membiarkan Askala menghancurkan sesuatu. Tapi Arista berpikir memanfaatkan keributan yang Askala pasti akan buat.
"Tuan Muda Eris tidak pernah ragu dalam bertindak," gumam Arista pada Arkas. "Anda tahu dengan baik bahwa saudara Anda akan melakukan segalanya untuk Anda dan untuk keluarga ini."
Tapi sekarang Eris sedang ragu. Dia belum beranjak dari sisi Roxanne padahal dia harus pergi menemui pengkhianat yang melukai Arkas dan berniat menghancurkan Narendra.
Eris sedang lemah sekarang.
"Tuan Muda, bisakah Anda dan Tuan Muda Kedua berhenti bersikap tidak manusiawi?" Arista memutuskan terus terang. "Bisakah Anda berdua berhenti menyiksa diri sendiri untuk keluarga ini? Tentu saja saya tidak berkata lakukan semau Anda dan lupakan saja yang lain. Tapi, saya merasa Anda bisa mementingkan diri sendiri disamping Anda mementingkan keluarga ini."
"Saranmu terdengar mengecewakan, Arista." Arkas menggeleng. "Istri Pertamaku mengucapkan sesuatu yang sangat lucu."
"Jika Anda tidak menekan Tuan Muda Kedua lewat Nona Askala sekarang, Tuan Muda Eris bisa berubah pikiran dan kemudian membunuh adiknya, demi Anda. Tentu, istri-istrinya akan otomatis mengalami hal yang sama dan Anda tidak bisa menghentikan itu."
Kecuali jika Arkas mau mengikuti saran tadi.
Tekan Eris menggunakan Askala agar Eris yang melemah jadi lebih terkendali. Sebagai Tuan Muda Kedua, Eris memamg tidak pantas bersikap lemah namun selama ini Eris sudah terlalu brutal.
__ADS_1
Pada kenyataannya Arkas benci melihat betapa banyak mayat di kaki Eris demi keluarga ini. Jika tidak dihentikan, mayat selanjutnya bukan cuma Elios dan Sanya tapi juga Roxanne.
"Aku mengerti maksudmu," kata Arkas setelah memikirkannya. "Tapi dengan begitu sama saja kamu membuka peluang Elios. Tidak pernah ada dalam sejarah kita perpindahan status istri. Istri Elios adalah istri Elios selamanya. Jika Eris menjadikan Roxanne istrinya, perjuangan Eris menjadi sia-sia dan Iaros bisa menuntut."
"Saya tahu." Arista tersenyum. "Saya tahu dengan baik maksud Anda, Tuan Muda. Dan saya memang bermaksud begitu."
"Apa jawabanmu untuk Elios kalau begitu?"
"Bukan saya yang akan menentukan ataupun Anda." Arista mendekat, meraih tangan Arkas. "Roxanne yang akan menentukan, Tuan Muda. Masa depan tentang Elios, berikan itu ke tangannya. Jika dia memilih membunuh Elios lewat Tuan Muda Eris, maka Anda tahu dengan jelas siapa biang masalah dalam keluarga ini. Dan jika Tuan Muda Eris menurutinya, kesetiaan beliau sudah goyah."
Arkas meringis menatap wajah Arista. "Kenapa aku dikelilingi wanita yang berbahaya? Demi Tuhan, jawab aku."
"Karena saya istri Anda," jawab Arista manis.
"Itu bukan hal mudah."
"Bukankah karena itu saya berkata Nona Askala dibutuhkan?"
__ADS_1
Hal gila dan tidak masuk akal, Askala adalah orang paling pertama yang bisa melakukannya.
*