
"Diane."
Wanita itu menoleh pada Mariana. "Apa?"
"Kenapa ada banyak hal tidak perlu yang kamu katakan?"
Tangan Diane di belakang punggungnya menunjukkan wanita itu tersentak, tapi di depan Mariana, Diane hanya terlihat tenang.
"Apa maksudmu?" balas Diane seolah tak tahu. "Aku membuatnya bingung dan memberi kesan aku sangat marah pada nasib beruntungnya. Itu kan yang perlu?"
Mariana mengamati Diane. Diam dan diam mengamati meski ekspresi Diane tak banyak berubah. Tapi ....
"Kesayangan Tuan Muda Pertama dan Kedua, lalu kematian Nyonya Graean yang kamu 'ulang' berkali-kali." Mariana menyeringai. "Kalau Roxanne menyadari berat kalimat itu, dia bisa memanfaatkan segalanya."
"Roxanne itu bodoh, Maria. Mana mungkin dia tahu. Aku hanya ingin memberi kesan aku sangat iri. Tidak ada masalah."
"Benarkah? Tapi kurasa kamu sedikit tertarik pada dia sejak awal."
"Itu perasaanmu saja." Diane berlalu. "Aku benci orang bodoh sepertinya."
Benar. Diane tidak membantu Roxanne. Dia pasti terlalu bodoh untuk menyadari 'petunjuk'nya.
*
"Nyonya Graean sudah tidak ada."
__ADS_1
"Kamu kesayangan Tuan Muda Pertama."
"Padahal ingin menjadi Nyonya."
"Hanya kamu yang mendapat perlakuan ini."
"Aku akan membantu Kakak menguasai Elios."
Roxanne terpaku saat satu per satu potongan kalimat mengalir di kepalanya.
Benar juga. Seharusnya begitu. Hal yang Roxanne inginkan sejak pertama kali datang adalah ini.
Graean yang merupakan kesayangan Elios setelah Eirene pun sudah tidak ada. Sekarang Roxanne bukan lagi wanita tanpa kekuatan apa-apa.
Arkas jelas-jelas peduli padanya. Entah dengan niatan apa, tapi sejak awal sampai sekarang, pria itu selalu berlari mencari Roxanne sambil beralasan kalau Roxanne adalah adik iparnya yang berharga.
Dia juga mengucapkan sesuatu tentang akan berubah lebih baik atau sejenisnya. Roxanne menutup mulut dan terus menerima kenyataan berputar di kepalanya.
Benar. Kenapa aku sibuk memikirkan Eris menipuku? Bukan urusan penting. Itu bukan urusanku.
Mengurus Elios lebih penting. Walaupun aku bilang aku sudah bosan, itu cuma tentang berusaha keras. Tapi sekarang apa perlu berusaha keras? Aku tinggal datang menemuinya dan menggantikan Graean juga Eirene.
Mungkin, ini kesempatan yang Sanya katakan. Sekalipun rasanya kejam dan tidak berperasaan, memikirkan kematian Graean sendiri tidak memberi Roxanne kedamaian.
Ia perlu memanfaatkannya untuk diri sendiri.
__ADS_1
"Pria berbahaya." Roxanne tertawa. "Dia membuatku lupa pada tujuan hidupku sejenak. Buat apa juga aku peduli pada kebaikan orang?"
Benar. Eris cuma membuatnya teralihkan dari tujuan. Setiap hari dia datang dan pergi, membuat Roxanne menunggu dan menanti kedatangannya.
Pantas saja Diane marah. Memang seharusnya ia tak boleh terlena pada kebaikan busuk itu.
"Aku yang bodoh." Roxanne menghela napas. "Padahal jelas-jelas jalan di depanku sudah mudah, tapi malah teralihkan."
Ayo pergi temui Elios. Memang sejak awal harus itu yang ia lakukan sementara Sanya, si anak gila itu, melakukan apa yang bisa dia lakukan.
*
Rasa kematian merayap dari belakang Sanya, membuat gadis itu terkejut.
Secara spontan Sanya berbalik, mengayunkan belati yang tersembunyi dalam pakaiannya. Sanya merasakan jika ia tak menyerang maka ia benar-benar akan mati.
Karena itulah Sanya tidak sempat melihat siapa itu.
"Kamu kasar sekali, Anak Kecil." Eris yang menangkis serangan itu hanya berucap tenang.
Tapi sesaat kemudian Sanya berputar, mendaratkan tendangan kuat ke perut Eris. Satu tangannya merebut belati di tangan Eris tadi, siap membunuhnya saat itu juga.
Lalu terhenti.
Dari bawah, Eris sudah memegang belati kecil lainnya. Sangat amat siap merobek perut Sanya jika gadis itu bergerak.
__ADS_1
"Jadi begitu," gumam Eris. "Pelakunya kamu, kah? Yang membunuh Graean."
*