
"Sanya." Roxanne menyebut nama gadis itu tanpa perasaan senang.
Ada rasa marah di mata Roxanne jika ia memikirkan kejadian hari ini.
Bahkan kalau Sanya itu gila, bagaimana bisa dia membunuh Graean begitu saja? Apa dia pikir nyawa seseorang bisa semudah itu dihilangkan, untuk alasan yang bahkan tidak masuk akal?
"Aku tahu Kakak ingin mengatakan apa." Sanya datang, menjatuhkan diri ke sisi kaki Roxanne. "Ya, aku membunuh Graean."
"Dasar tidak waras." Roxanne tak bisa menahannya lagi. "Kamu pikir segalanya bisa dilakukan sekehendak hatimu saja?"
Sanya malah menatap Roxanne lekat. Sejenak dia hanya diam, lalu mendadak terlihat menakutkan. Gadis itu bergumam, "Bau orang bodoh."
Apa?
Sanya tersenyum. "Dulu, seseorang pernah mengatakannya padaku saat aku berkata membunuh itu tidak baik."
Hah?
"Dia bilang aku memiliki bau orang bodoh. Dan sekarang aku mengerti." Sanya memejamkan mata tenang. "Sayangnya, Kakak, Graean tidak boleh hidup."
"Berhenti bicara seperti Tuhan. Apa hakmu menentukan seseorang harus hidup dan tidak harus?"
"Aku tidak bertingkah seperti Tuhan. Aku cuma bilang dia tidak boleh hidup, karena itu akan mengganggu rencanaku. Tuhan itu maha kuasa, Kakak, jadi Dia tidak perlu membunuh siapa pun yang mengganggu rencananya. Dia bisa membuat rencana yang tidak dapat diganggu gugat oleh manusia. Karena aku manusia, Graean bisa menggangguku, makanya aku membunuh dia."
Roxanne hanya bisa terpaku melihat anak yang memberikan penjelasan logis atas tindakan kejinya. Jadi dia mau bilang bahwa dia tidak berdosa?
__ADS_1
"Kakak, apa Kakak masih memikirkan sesuatu tentang hati nurani saat Kakak sendiri diperlakukan seperti babi?"
Roxanne tersentak.
"Tentu saja tidak salah hidup dengan kebaikan dan hati nurani." Sanya menoleh dan tersenyum. "Tapi jika ingin memanjat puncak dunia, Kakak harus membuang kebaikan dan hati nurani."
Ayo diam. Sebaiknya diam saja karena Roxanne takut jika pembuluh darah di kepalanya pecah oleh rasa frustrasi.
Terserah. Yang harus Roxanne pikirkan hanya dirinya sendiri. Lagipula Roxanne marah bukan karena bersimpati pada Graean, namun karena Roxanne merasa terancam.
Tapi sepertinya Sanya tidak akan menyakiti Roxanne, jadi kematian Graean ... anggap saja itu tidak ada hubungannya dengan Roxanne.
"Sekarang adalah titik baru." Sanya berguman memandang keluar jendela. "Aku akan mengakui kalau aku sedikit tidak percaya diri di medan ini, tapi aku akan berusaha, Kakak. Jangan lupakan itu."
Roxanne menolak memikirkan semua yang Sanya katakan. Ia tak mau kepalanya sakit karena omongan memusingkannya.
Roxanne beranjak dari tempat tidur. Memijak lantai kayu yang kokoh sembari menyeret tiang infus.
Tangan Roxanne terulur, menggeser pintu dengan niat ingin melihat tinggi matahari.
Tapi saat pintu tergeser, angin berembus masuk dan hal pertama yang Roxanne lihat ... adalah seorang pria berambut panjang tengah duduk di rerumputan.
Pria itu bersama sekumpulan kucing mengelilinginya.
Sejenak, Roxanne tercengang. Jujur saja, sejak datang ke tempat Elios, Roxanne merasa belum pernah bertemu pria yang tidak tampan. Tapi kenapa pria tampan duduk di rumput bersama kucing?
__ADS_1
"Oh?" Pria itu mendadak berpaling dengan mata terpejam. "Ada orang di sana?"
Dia buta?
"Maaf." Roxanne ragu-ragu mendekat sambil terus memegang tiang infusnya. "Permisi, kamu—Anda siapa?"
"Aku pekerja Narendra. Apa jangan-jangan kamu tamu Arkas?"
Pekerja, kah? Kalau begitu Roxanne tidak perlu bersikap terlalu formal.
"Ya. Aku salah satu tamunya, istri Elios." Roxanne berhenti di dekat pria itu, lalu berjongkok hati-hati. "Kucingmu sangat banyak. Apa ini peliharaan Narendra?"
"Bisa dibilang. Tapi mereka tidak dimiliki secara khusus oleh siapa pun. Mereka bebas bergerak di kediaman ini."
Pria itu membelai salah satu kucing berbulu putih kecokelatan. "Siapa namamu, Nyonya?"
"Roxanne. Namamu?"
"Panggil saja Dwi."
"Dwi? Namamu Dwi?"
"Tidak. Itu angka. Cukup panggil aku dengan itu."
*
__ADS_1
Jodoh buat Roxanne akhirnya memunculkan diri. Anyway, thank you buat kalian yang sejauh ini masih support. Author masih berusaha keras beradaptasi dengan lingkungan kepenulisan noveltoon dan terus menulis. Author minta dukungan kalian untuk kemajuan karya-karya author.
Terima kasih 😊