
Askala terdiam setelah Sanya dan Roxanne beranjak pergi meninggalkannya, karena mereka berdua terlihat saling merindukan satu sama lain.
"Ini jauh melampui dugaanku," gumam Askala lelah. "Sangat jauh. Kepalaku menjadi berat sekarang."
"Nyonya Roxanne tidak terlihat sebodoh yang dibicarakan, Nona," timpal pengawal Askala yang sejak tadi mengawasi. "Sejujurnya saya juga berpikir bahwa persidangan akan berakhir di tangan Tuan Muda Eris."
"Aku juga." Askala menatap kosong vas bunga di depannya. "Untuk itu aku bersiap membuat Elios menang. Aku sudah bersiap melawan Eris dari sisi mentalnya tapi Roxanne malah bertindak terlalu jauh."
"Anda tidak menyukainya?"
"Roxanne? Ya, aku benci wanita itu. Tapi aku menyukai tindakannya."
"Lalu apa yang akan Nona lakukan?"
Askala menoleh, mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Kurasa tidak ada salahnya menerima dia sebagai adik iparku dulu. Jika dia masih menyebalkan, aku tidak akan ragu lagi dan jika dia menyenangkan, akan kuajak dia minum teh bersama."
Sedari awal, Askala cuma peduli pada Arkas jadi selama Roxanne tidak menyentuh Arkas, sebenarnya Askala tidak peduli.
"Yah," Askala beranjak, "kalau begitu sekarang aku harus bertemu Arkas dan membicarakan hal yang lebih baik dilakukan."
Drama ini sudah tidak menarik lagi jadi Askala akan berbaik hati memberi Roxanne ending yang dia mau.
*
Ini sudah lewat beberapa jam sejak Elios termenung di sofa. Diane dan Mariana pun sudah berdiri berjam-jam menunggu Elios bergerak dari tempatnya.
Nama Elios kembali menjadi Narendra dan seluruh haknya diberikan. Tapi karena Kastel Yasa telah dalam proses pembangunan, Elios secara khusus diberi tanah sendiri dan boleh pergi ke sana untuk tinggal bersama istrinya yang dia pilih nanti.
__ADS_1
Karena Elios menjadi Narendra kembali, Elios juga akan mendapat istri baru dari peternakan dan tambahan fasilitas. Namun tentu saja Elios tidak senang.
Dia berpura-pura mencintai Roxanne berbulan-bulan. Berminggu-minggu dia menahan seluruh tubuhnya gemetaran membenci Roxanne hanya agar dia punya kesempatan menghina wanita itu.
Nama Narendra tidak sepadan dengan kebencian Elios.
"Tuan Muda." Setelah berjam-jam, akhirnya Diane membuka suara.
Tapi tangannya ditahan oleh Mariana yang menggeleng.
"Ayo berhenti," bisik Mariana. "Aku lelah. Ayo berhenti dan jalani semuanya lebih normal. Ini kesempatan."
Itu bukan tentang ayo berhenti dan berpisah dari Elios. Itu tentang ayo berhenti mendukung kebencian Elios yang sejujurnya memang menyiksa mereka semua.
"Tuan Muda mencintai kamu sekarang. Dia akan mendengarkan kamu. Jadi jangan berkata 'teruskan kebencian Anda karena saya mendukung' tapi setidaknya katakan kalau kamu juga mencintai Tuan Muda."
"Tuan Muda."
Elios mendongak pada Diane yang telah berdiri di hadapannya.
"Saya ...." Diane tersekat. Ragu mengatakanya, tak ingin, namun juga tahu bahwa meneruskan ini memang melelahkan. "Saya ...."
"Aku mengerti." Elios mengulas senyum dan menarik Diane ke pelukannya. "Kamu hanya ingin aku menghabiskan waktu denganmu, kan?"
Diane mengangguk kaku.
"Itu tidak mudah," bisik Elios. "Aku tidak bisa berhenti memikirkan aku harus membunuh Roxanne karena aku berusaha sekeras ini, sejauh ini, hanya agar aku bisa membunuhnya."
__ADS_1
Diane menegang panik. Kesetiaannya memaksa Diane untuk segera berkata bahwa dia akan melakukan apa pun kata Elios, bahkan jika Elios mau membunuh Roxanne lagi.
Namun sebelum ifu terjadi, Elios sudah memeluknya erat dan bergumam, "Buat aku tidak menyesal memilihmu. Buat aku tidak menyesal melupakan kemarahanku pada Roxanne."
Diane tak bisa menahan senyumnya. Wanita yang bertahun-tahun menahan keras perasaannya kini tak lagi menahannya sama sekali, memeluk Elios sepenuhnya tanpa belenggu lagi.
Mariana yang melihat itu tahu bahwa ia harus mundur. Sejak awal ia dan Elios tidak menjalin hubungan dari hati ke hati, jadi Mariana berpikir untuk pergi mencari wine sambil mengenang kematian Graean.
"Maria."
Tapi suara Diane menghentikannya.
"Ya?"
"Kamu tidak datang?"
"Eh?"
"Kamu juga istri Tuan Muda. Kemari dan duduk bersama."
Mariana terbengong. "Kurasa itu bukan ide—"
"Aku suka banyak wanita." Elios mengisyaratkan Mariana datang. "Berhenti bersikap seperti kucing perawan, Maria. Kamu jelas bukan kucing."
Mariana melangkah ke sana, tersenyum kecil saat ikut masuk ke pelukan Elios.
*
__ADS_1