Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
121


__ADS_3

Mungkin dalam keluarga ini cinta terlarang sesungguhnya adalah pada saudari tak sedarah.


Eirene dan Arkas tidak berbagi ibu ataupun ayah. Mereka sepupu. Hubungan yang di luar sana kebanyakan tidak menganggap pernikahan satu sama lain itu terlarang. Tapi Arkas tidak bisa memiliki Eirene. Sebab ia Narendra dan Eirene adalah anak perempuan Narendra juga.


Pernikahan Narendra hanya boleh dilakukan dengan wanita dari peternakan. Pilihan sendiri atau pilihan orang tua, terserah asal wanita itu dari peternakan. Asal bukan wanita dari luar atau wanita dari dalam Narendra.


"Kakak Pertama menyimpan hati padaku?"


Arkas ingat hari di mana ia tertangkap basah oleh Eirene. Itu menjelang pernikahan pertama Arkas dan ia mengundang Eirene untuk naik perahu bersama.


"Benar," jawab Arkas saat itu. "Kamu orang pertama yang mengajariku apa itu cinta. Kenapa? Tidak boleh?"


Sebenarnya, Arkas pikir perasaan itu tidak terlihat. Ia tak pernah memperlihatkannya. Karena tidak berguna, kan? Selain tak bisa memiliki Eirene sebagai istrinya, juga Arkas tahu bahwa Eirene telah menerima Elios.


"Tidak. Itu terserah Kakak." Eirene tertawa kecil. "Wajah Kakak memerah. Sangat lucu melihat Calon Pemimpin Narendra malah memerah karena aku."


"Berhenti menggoda kakakmu, dasar kucing perayu." Arkas ikut tertawa, berusaha terlihat santai sekalipun ia memang malu.


Jantung Arkas berdebar-debar keras di samping Eirene. Dia pula gadis pertama yang senyumnya Arkas rindukan sampai ke mimpi. Dia cantik, lembut, cerdas, dan kuat. Mahakarya sempurna yang Arkas kagumi sejak dia masih dalam wujud bayi tak berdaya.


"Aku mencintai Eli, Kakak."


"Apa wajahku terlihat tidak tahu, Adik Manis?" Arkas mengelus-elus kepala Eirene. "Percayalah pada kakakmu. Bagaimanapun perasaanku, aku tidak akan pernah melakukan sesuatu diluar ketentuan Narendra. Termasuk memusuhi Elios yang menang diriku."

__ADS_1


Eirene tersenyum cerah. "Tapi kudengar Eli kurang tidur lantaran pekerjaannya mendadak sangat banyak. Entah kenapa."


Buru-buru Arkas menarik tangan, berdehem pura-pura. "Daripada itu, kenapa tiba-tiba membahasnya? Aneh kamu mengajukan topik tanpa alasan jelas padaku."


"Kakak ingin tahu?"


"Memang aku bertanya kalau tidak mau tahu?"


Eirene mengulurkan tangannya yang halus pada Arkas. Ketika kulit tangan mereka bersentuhan, Arkas tahu bahwa perasaannya nampak terlalu jelas.


Ia tak menahannya sebab Eirene sudah tahu, namun tetap saja Arkas tidak menyangka akan sebesar itu efeknya. Wajah yang biasanya penuh karisma itu malah memerah padam, nyaris berasap. Matanya bergetar melirik ke arah lain lari dari kenyataan bahwa ia tak mau sampai perasaannya lebih terlihat jelas.


"Apa berlebihan jika aku berkata 'rasanya Kakak terlalu mencintai aku'."


".... Kemarin ...." Eirene melepaskan tangannya. ".... Eli pulang dengan perut terluka."


"Ah, soal penyerangan padanya? Aku sudah meminta Eris memastikan siapa dalang dibelakang mereka. Jangan terlalu khawatir. Percobaan pembunuhan pada Narendra itu biasa terjadi."


"Aku tahu, Kakak. Dan aku tahu Eli bisa mengatasinya."


"Lalu kenapa?" tanya Arkas, sebab Eirene terlihat punya beban. Kalau memang dia mengerti berarti dia tidak terbebani, kan?


"Kakak tahu kenapa Eli terluka?" tanya Eirene.

__ADS_1


"Pembunuh bayaran menggunakan pisau untuk menikam perutnya? Elios tidak menceritakan detail kejadiannya," jawab Arkas ragu.


Eirene saat itu menggigit bibirnya yang gemetar. Lantas dia bergumam, "Eri menyukai lenganku."


"Apa?"


"Itu yang Eli katakan. 'Eri menyukai lenganku jadi aku tidak boleh melukainya. Walaupun tertikam di perut, setidaknya lenganku masih bisa memeluk Eri'."


Arkas tertegun. Tentu saja ia bisa membayangkan Elios memang segila itu.


"Cara mencintai yang keterlaluan itu, aku merasa takut mengemban tanggung jawabnya." Eirene tersenyum sedih. "Bukan berarti aku mengeluh pada cinta kalian padaku. Kakak, Ayahanda, Ibunda, semua orang, aku mencintai kalian yang mencintaiku."


"...."


"Tapi jika berlebihan, jika suatu saat karena cinta itu orang lain harus terluka, bukankah berarti aku yang bersalah?"


Arkas memejamkan matanya rapat-rapat. Kini ia hanya bisa memeluk Roxanne dan mendiamkan luka yang menganga di hatinya.


"Maaf," bisiknya pada Roxanne dan pada Eirene. "Aku berbuat salah. Maaf."


Eirene pasti kecewa padanya. Arkas membiarkan Roxanne terluka karena cinta Arkas yang berlebihan.


*

__ADS_1


__ADS_2