
Roxanne mungkin menyimpan firasat. Bahkan jika sembilan puluh sembilan persen ia mulai percaya pada Elios, satu persennya meragukan semua itu.
Tapi Roxanne mengabaikan keraguan. Semua orang memiliki keraguan bahkan pada kebenaran dan ia memutuskan untuk terus percaya pada perubahan.
"Istriku, biar kutanya padamu. Apa setelah menghina, tanpa meminta maaf, kamu berpikir orang akan melupakannya?"
Elios tertawa.
"Angkuh sekali, demi Narendra. Bahkan kami Narendra tidak memiliki keangkuhan semacam itu. Ah, Roxanne, wanita malang yang iri pada Eirene dan meracau bahwa Eirene jauh lebih beruntung darinya."
Secepat tawa itu ada, secepat itu pula berubah jadi murka.
"Aku membunuh istri-istriku karena mereka berpikir mengejar Eirene tapi kamu yang bahkan tidak sebanding dengan istriku, berpikir duduk di posisi Eirene? Hah, mimpimu terlalu jauh, Bodoh."
Sekujur tubuh Roxanne hanya gemetar. Ia mendengar dengan jelas hinaa demi hinaan Elios padanya.
"Eirene lahir dalam kondisi sempurna. Itu bukan sebuah kedustaan. Tapi, Orang Bodoh Tidak Tahu Diri, Eirene itu tidak sepertimu yang mengemis dikasihani. Eirene berusaha menjadi lebih baik bahkan jika dia sudah sangat baik. Berbeda darimu yang hanya bisa membenci orang sempurna, merebut tempat orang sempurna, tidak berguna, terlalu bodoh, dan sama sekali tidak tahu cara menempatkan diri!"
Elios kini menatapnya seolah-olah dia bersedih.
"Nah, Roxanne. Aku terluka. Aku ini sangat terluka. Setiap kali melihatmu, aku ingin menangis. Bagaimana bisa ada orang sebodoh dirimu? Kamu sudah menghinaku, kamu menjatuhkan harga diriku berkali-kali, lalu setelah semuanya, kamu justru berpikir aku berubah? Aku? Aku yang harus berubah?! Siapa yang sebenarnya harus berubah, hah?!"
Jika sekarang Roxanne berada di ujung kematian, ia pasti tengah mengambang. Berpegang pada Elios yang bisa menjatuhkannya kapan saja dan semua orang hanya akan diam melihatnya mati tenggelam.
__ADS_1
Tapi yang miris, kalimat pria ini tidak bisa Roxanne bantah sama sekali.
Dirinya yang harus berubah. Bukan Elios tapi Roxanne. Jika saja Roxanne yang berubah, dirinya tidak akan pernah berada di tempat ini, mendengarkan cacian seberat ini, dan terkurung dalam hinaan tanpa rasa kasihan ini.
"Tapi aku senang, Roxanne." Elios kembali tertawa. "Aku sangat senang karena kamu begitu bodoh dan tolol. Kamu pasti merasa kamu pantas untuk diperjuangkan. Kamu begitu keras kepala menolakku sampai-sampai aku harus melakukan banyak hal agar kamu percaya. Oh, berharganya Roxanne-ku. Dia sangat berharga sampai-sampai Elios ini harus mengemis cinta padanya."
Gigil di tubuh Roxanne terasa sampai ke jantungnya.
Ia merasakan itu. Kematian yang datang padanya bukan karena luka atau tenggelam, tapi karena tak mampu bangkit dari rasa rendah dirinya.
"Hei." Elios kini menatapnya dingin. "Akan kuberitahu salah satu kesalahan terbesarmu."
Tangan Elios perlahan lepas darinya.
Yang bisa Roxanne lihat terakhir hanya senyum tulus Elios.
"Teruslah tersiksa dan iri pada Eri. Sebab dunia memang menciptakan kamu untuk jadi sampah tidak berguna."
*
Eris sudah menyuruh orang memberitahunya jika Elios melepaskan Roxanne. Karena itu saat tidak ada orang yang bergerak, Eris langsung memberi isyarat.
"Bawa dia padaku."
__ADS_1
Paman Pemimpin yang mendengarnya tentu menoleh. "Elios membuang istrinya. Tidak ada tempat lagi selain kematian."
"Aku tahu, Paman." Eris berjalan menuju tepi danau. "Ini keputusanku, mewakili Arkas."
Walau Paman Pemimpin adalah penguasa utama, sudah turun-temurun dalam keluarga Narendra untuk setiap generasi mengurus masalah masing-masing.
Dengan kata lain, Roxanne itu urusan Arkas, Elios dan Eris. Mau seperti apa dia, Paman Pemimpin tidak akan ikut campur begitu saja. Dan Eris ingin menyelamatkannya.
Wanita menyedihkan yang terbuang dari tangan Elios, terpecundangi oleh perbuatannya sendiri.
"Tuan Muda."
Tubuh basah itu dibawah ke tangan Eris. Meski tahu Elios pasti menyaksikannya, Eris mendekatkan wajah ke pipi Roxanne.
"Aku tahu kamu selalu membenci keputusanku."
Keputusan Eris adalah membiarkan semuanya terjadi. Sekalipun ia tahu Roxanne akan dipermalukan dan dibuang layaknya sampah, Eris pura-pura tidak tahu karena menurutnya ini yang terbaik.
"Orang selalu menganggap caraku mencintai itu aneh, Roxanne." Eris tersenyum mendekap Roxanne yang tak sadarkan diri. "Tapi aku tidak membenci diriku."
Karena Eris percaya keputusannya selalu benar.
Termasuk hari ini.
__ADS_1
*