
Roxanne memikirkan rencananya dan Sanya sementara menunggu Elios. Belakangan ini Sanya juga bergabung dalam percakapan santai dan membicarakan bagaimana mereka akan berhubungan lebih baik setelah kastel selesai nanti.
Tapi, anak itu kan berencana membunuh Arkas dan Eris. Kalau dipikir lagi, sebenarnya Sanya itu siapa dan kenapa dia ingin menjadikan Elios pemimpin?
Roxanne sekarang sudah mengerti bahwa Sanya itu pintar. Sangat pintar hingga pantas disebut genius. Makanya dia pasti tahu jika membunuh Arkas juga Eris hanya demi menguasai Narendra itu keputusan yang bodoh.
Berarti tujuan Sanya bukan menguasai Narendra. Tapi kalau bukan itu, lalu apa?
"Apa yang kamu pikirkan?"
Sepasang lengan kekar memeluknya dari belakang.
Roxanne mendengar suara pintu terbuka, jadi ia tak kaget saat Elios mencium pipinya mesra. Justru, Roxanne tersenyum. "Saya kira Anda akan terlambat," gumamnya.
"Maaf, Istriku. Ada pekerjaan penting yang perlu ditangani. Graean sudah tidak ada jadi mau tak mau aku yang mengurusnya."
Roxanne menoleh. Menemukan sosok Elios yang hanya memakai kaus lengan panjang bersulam mawar di kerahnya dan tak melupakan kain penutup mata.
"Anda masih memakai ini." Roxanne membelai kulit tepat di bawah kain penutup mata itu. "Anda masih merasa saya akan menipu Anda?"
Elios mencium jemarinya lembut. "Tidak begitu. Kalian juga akan terluka jika aku memikirkan Eri saat bersama kalian."
__ADS_1
"...."
"Tolong maklumi ini sebentar, Roxanne. Aku mohon." Elios berbisik sangat lembut. "Aku tahu kalian pasti cemburu pada Eri. Aku memakluminya. Tapi untuk ini saja, tolong maklumi. Eri tetap kembaranku. Dia istimewa bahkan jika bukan kekasihku."
Sekarang Roxanne yakin. Hanya ada dua alasan Elios bisa memohon seperti ini. Jika bukan karena dia gila maka berarti dia tulus menyesali semuanya.
Dan Roxanne memilih percaya bahwa ini ketulusan.
"Saya memakluminya. Sikap adil Anda yang paling penting bagi saya."
Elios memeluknya erat. "Terima kasih, Istriku."
Saat itulah Roxanne menyadari tubuh Elios gemetaran. Spontan saja Roxanne mendongak, melihat Elios ternyata juga berkeringat.
"Aku lelah," bisik Elios serak. "Jika tidak keberatan, tidak masalah aku tidur sebentar? Aku berjanji melayanimu setelah itu."
Pipi Roxanne memerah mendengarnya. "S-saya yang melayani Anda, Tuan Muda."
Pria itu malah tertawa. "Istriku menggemaskan saat malu."
"Tolong berbaring saja dan tidur!"
__ADS_1
"Baiklah, baiklah. Kemari dan peluk aku."
Roxanne tenggelam dalam pelukan Elios sambil menjaga tangannya agar tidak tertindih. Juga sibuk mendengarkan debaran jantungnya.
Saat wajah Roxanne menempel pada Elios, ia justru mendengarkan debaran jantung yang sama kencangnya. Menggelitik perasaan Roxanne hingga tersenyum.
Tentu saja Roxanne tidak tahu bahwa itu bukan debaran cinta. Elios gemetar bukan karena lelah tapi marah. Mendengar Roxanne berbicara seakan lupa pada kesalahannya, lalu Elios secara hina harus minta maaf; menyebalkan.
Hama menyebalkan.
Elios mau langsung membunuhnya sekarang juga. Tapi kalau begitu, Elios tidak akan pernah bisa membalas apa-apa.
Elios membelenggu kemarahan itu. Napas Elios berembus berat. Menekan rasa haus akan kematian Roxanne itu sulit.
Tenanglah. Tidak akan terlalu lama. Kamu melakukannya untuk Eri, jadi bersabar dan tenanglah. Wanita bodoh tidak jatuh cinta kecuali pada pria baik, lemah dan lembut jadi tenanglah.
"Roxanne." Elios mengusap-usap tengkuk Roxanne yang dalam hati ia bersumpah akan mematahkannya secepat mungkin. "Aku mencintaimu."
Benar. Elios sangat, sangat sangat sangat sangat amat mencintai kebenciannya pada Roxanne.
Untuk itu Elios rela berpura-pura dan melakukan hal yang mustahil ia lakukan jika bukan untuk Roxanne.
__ADS_1
*