Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
39. Kebiasaan Kecil


__ADS_3

Sekelebat bayangan mendekati kantor Arkas di waktu rembulan sedang bersinar terang. Meskipun seharusnya itu adalah kedatangan tanpa suara di tengah malam yang dingin, Arkas menyadari itu dengan baik.


"Ada apa?" gumam Arkas seraya tetap fokus menatap pekerjaannya di layar komputer.


"Roxanne bergerak atas keinginannya sendiri, sesuai dugaan Anda."


"Aku tahu. Lalu?"


"Nyonya Graean sepertinya cukup yakin jika ada sesuatu di belakang sikap Tuan Muda Elios. Tapi beliau kesulitan mencari tahu karena Tuan Muda melarangnya mendekat. Itu pun atas pengaruh Roxanne."


"Hm."


"Lalu, Nona Muda Sierra ...."


"Ada apa?"


"Saya rasa Nona Muda sedang berusaha untuk ikut campur ke dalam Kastel Tuan Muda. Tapi sampai sekarang saya belum melihat ada sesuatu yang mencurigakan."


"Sierra memang sangat menyukai Elios dan Eirene. Itu tidak aneh terjadi." Arkas berhenti dari pekerjaannya sejenak dan beranjak mendekati jendela.


Walau begitu, Arkas tidak berusaha bertatap muka pada orang yang sedang melapor padanya itu.


"Untuk sekarang, tetap awasi dan lindungi Roxanne. Jika Elios terlihat sudah mulai bisa mengendalikan obat yang diberikan, langsung pisahkan mereka."


"Baik."


Arkas tersenyum diam-diam. "Tapi bagaimana menurutmu? Apa Roxanne bisa menjadi Eirene?"

__ADS_1


Orang yang hanya menampakkan bayangannya itu diam, entah memikirkan apa. Walau ketika Arkas berbalik kembali ke mejanya, pria itu tiba-tiba memberi bisikan.


"Tolong jangan menghina Nona saya sekalipun itu hanya bercanda, Tuan Muda."


".... Aku tidak mungkin menghina adik perempuanku."


Arkas bisa merasakan orang itu pergi dan kemungkinan akan kembali ke Kastel Elios untuk mengawasi.


*


"Aku hanya perlu makan ini?" Elios bertanya tapi setelah itu dia langsung memasukkan butiran obat ke mulutnya, menelan bersama seteguk air tanpa sedikitpun keraguan.


Perhatian Roxanne tertuju pada leher dan pergelangan tangan Elios saat itu. Bekas-bekas dari belenggu yang cukup erat membiru di kulit putih Elios, tapi dia bahkan tidak membahasnya sama sekali.


"Kalau begitu, Eri, ayo kembali tidur."


"Aku bosan." Roxanne menolak untuk berbaring. "Apa tidak bisa kita keluar sebentar?"


"Kamu bosan?" Elios melihat ke luar jendela kamar Roxanne dan langsung mengangguk. "Baiklah, ayo pergi. Cuaca juga cerah. Tidur siang di luar pasti menyenangkan."


Roxanne seketika tersenyum senang. Ia beranjak dari tempat tidur, spontan mau membantu Elios berdiri karena ia tahu dia sedang sakit.


Tapi Elios malah terlihat bingung.


"Apa, Eri?"


"Ayo. Aku akan membantu."

__ADS_1


Saat itu, tanpa Roxanne sadari, sesuatu berdenyut di kepala Elios.


Sebagai kembaran Eirene dan menjadi kekasihnya nyaris seumur hidup mereka, Elios tidak pernah sekalipun mengingat Eirene berkata akan membantunya.


Karena Eirene tidak pernah meminta sesuatu yang membuat Elios butuh dibantu. Kalaupun Elios butuh bantuan akan sesuatu, Eirene setidaknya tidak pernah mengulurkan tangan untuk membantu Elios berdiri.


Itu tampak sederhana. Sangat amat sederhana. Tapi kebiasaan sederhana justru menjelaskan identitas seseorang.


"Ssshhh." Elios memegangi kepalanya yang mendadak terasa sangat sakit.


Kenyataan mencoba untuk menerobos halusinasi itu, tapi pengaruh kuat obat buatan istri Arkas juga tidak main-main.


"Tidak layak bagi Eri-ku melakukan ini." Elios memaksa tubuhnya beranjak sekaligus menepis lembut tangan Roxanne.


Sebaliknya, Elios menarik dia mendekat, memeluknya lembut dan penuh kasih sayang.


"Maaf, Eri, aku mau menggendongmu tapi aku takut sakit kepalaku malah membuat kamu terluka."


Ya, itu yang normal. Eirene dilayani bukan melayani. Memang selalu seperti itu dan Elios selalu senang melakukan untuk kekasihnya.


Tentu saja, Roxanne yang mendengar hal tersebut segera memahaminya.


"Aku hanya tidak senang melihat Eli sakit." Roxanne berbisik, segera meyakinkan bahwa tindakan tadi dilakukan karena alasan. "Kalau begitu, ayo berjalan pelan-pelan."


"Ya." Elios tersenyum cerah. Meraih tangan Roxanne dan menggenggamnya erat. "Ayo."


*

__ADS_1


__ADS_2