
Elios adalah Narendra. Penghinaan bukanlah sesuatu yang wajar dia dapatkan. Jangankan hinaan, sejak masih sangat kecil Elios bahkan sudah diberitahu bahwa tidak ada satupun di dunia ini yang boleh memerintahnya, kecuali peraturan mutlak Narendra.
Tidak bahkan ayah ataupun ibunya, bahkan sekalipun itu pamannya, Pemimpin Keluarga Narendra.
Elios dibesarkan sebagai penguasa. Cuma tahu memerintah, tidak merendah, apalagi sampai menerima hinaan.
Namun, sejak kematian Eirene, penghinaan Arkas padanya tak pernah dibantah oleh Elios. Cara Arkas menginjak-injaknya nyatanya tidak pernah Elios protes secara langsung.
Semua itu karena Eirene.
Elios menerimanya karena rasa bersalah pada Eirene.
Bahkan sekalipun Eirene mati bukan karena terpaksa. Sekalipun Eirene mati bukan karena seseorang tidak mengerti perasaannya atau dia diam-diam menyimpan perasaan mendalam seorang diri—bahkan sekalipun itu murni keputusan Eirene yang tidak mau mengusik sejarah keluarga yang dia cintai, Elios tetap menyalahkan dirinya sendiri.
Elios selalu menganggap dirinya yang berdosa atas keputusan Eirene.
"Tidak berguna."
Roxanne memuntahkan hinaan di wajah Elios bersama senyum ouas akan segalanya.
"Itu sebutan yang pantas untukmu. Elios Desnomia Yasa. Orang buangan dari Narendra yang memakai nama keluarga yang runtuh saking hinanya. Kenapa kamu berpikir masih ada yang bisa kamu genggam, Orang Tidak Berguna?"
Elios tidak bisa melihat Roxanne dengan jelas, tapi perkataan itu seolah telah menguasainya.
Kekosongan menghantui Elios. Memaksanya untuk melihat masa lalu di balik penutup mata yang ia gunakan saking takutnya pada bayangan Eirene.
__ADS_1
"Aku malas berurusan dengan orang sepertimu."
Roxanne bangkit dari tubuh Elios, hanya menatapnya yang masih tergeletak di rumput.
"Menghabiskan waktu dihantui oleh orang mati, bahkan kalau dia berharga, kamu memang sangat bodoh. Ah, jauh lebih baik menikahi pria gendut yang hanya memandang wanita sebagai objek pelampiasan nafsu, daripada pria tampan yang gila memikirkan hantu."
Elios hanya terpaku memandangi kepergian Roxanne dari balik penutup matanya.
Sungguh tidak pernah ia sangka, perempuan yang hanya gemetaran ketakutan dan rela bersujud minta maaf hari ini mengungkapkan kalimat seberani ini.
*
Arkas tertawa keras mendengar laporan Dioris tentang kejadian di taman, antara Elios dan Roxanne. Tawa yang memperlihatkan dia terhibur, merasa lucu akan sesuatu.
Jelas saja, Dioris kebingungan.
Arkas berhenti tertawa dan mengubahnya jadi senyum. "Tidak. Aku tidak akan memaafkan bahkan jika itu Roxanne kalau dia menghina Eirene."
"Lalu—"
"Dia menghina Elios bukan Eirene jadi aku cukup terhibur."
Arkas beranjak. Menarik tirai jendelanya terbuka untuk melihat jelas wajah Dioris, setelah sekian lama dia hanya melapor dari kegelapan.
"Roxanne memiliki hak untuk marah pada keistimewaan Eirene. Itu menandakan ketidakberdayaan Roxanne mengejar adikku, tapi itu pun sesuatu yang manusiawi."
__ADS_1
"Aku tidak marah jika dia merasa iri atau sedikit membenci Eirene. Roxanne berada di pihak di mana keberadaan Eirene merebut semua kebahagiaannya."
"Tapi ...." Dioris tidak bisa menerima itu. Ia merasa sangat terluka bahkan jika Roxanne mengatakan banyak hal demi menghina Elios, bukan Eirene.
Kenapa wanita itu ....
"Aku sudah bukan orang buta yang tidak bisa memahami kematian adikku, Dioris." Arkas melangkah keluar, berdiri di balkon kamarnya yang menghadap langsung pada pemandangan danau.
Arkas selalu tersenyum melihatnya, karena Eirene, Sierra, dan semua adik-adik Arkas juga ibu dan bibinya, seluruhnya menyukai pemandangan danau ini.
"Aku sudah menghargai keputusan adikku menjaga kehormatannya. Aku pun sudah cukup menerima jika adikku membuat kakaknya ini terluka."
"Dan pada kenyataannya, aku dan Elios-lah yang menjadikan Eirene hantu. Kami yang memaksa bayangan Eirene tetap ada karena menolak ditinggalkan."
"...."
"Jadi, aku baik-baik saja jika Roxanne mengatakan itu. Biarkan saja. Itu hinaan yang cukup menghibur bagi adik bodohku itu. Dia memang suami tidak berguna."
Dioris tidak ingin membahas apa pun lagi mengenai Eirene, nonanya. Tapi untuk akhir pembicaraan malam ini, ia ingin mengajukan pertanyaan.
"Apa Anda berniat memaafkan Tuan Muda? Mungkin sepuluh tahun lagi?"
Arkas yang tadi tertawa kini berpaling dingin. "Aku tidak membuang anak itu kalau berencana memaafkannya lima puluh tahun kedepan."
Memaafkan Elios tidak akan pernah jadi hal terencana ataupun tidak terencana dalam hidup Arkas.
__ADS_1
Tidak akan.
*