
Sudah cukup lama rasanya Roxanne tidak berbaring di tempat tidur. Walaupun sulit untuk bilang bahwa ia rindu.
Kamar mewah yang diberikan padanya itu terasa dingin, entah karena perasaan Roxanne sedang buruk atau karena cuaca.
Roxanne cuma berbaring di kamar. Tidur sampai sore hari lalu bangun karena merasa lapar. Pikir Roxanne sudah ada makanan di depan pintu, setidaknya seperti kebiasaan awal.
Tapi ternyata tidak ada.
"Diane bilang semua pelayan pasti membawa makanan tiga kali sehari." Roxanne menatap sekitarannya, tak melihat ada satupun pelayan.
Memang pelayan di kediaman ini sedikit. Kata Diane, hanya ada lima belas pelayan untuk empat lantai yang sangat luas. Lima belas mungkin angka yang banyak, tapi kediaman ini luar biasa besar sampai mereka menyebutnya Kastel bukan rumah.
"Biarpun begitu, memang pernah makananku tidak diantar?"
Perasaan Roxanne agak buruk.
Ia tak tahu di mana letak dapur karena sejak awal ia diberitahu untuk selalu meminta pelayan atas keperluannya, bukan mengerjakan sendiri.
Tapi karena Roxanne lapar, mau tak mau ia berjalan mencari pelayan. Ke kanan dan ke kiri sampai akhirnya ditemukan dua pelayan tengah mengangkat keranjang cucian dari bawah.
"Sebentar." Roxanne menahan mereka. "Siapa yang biasa mengantar makanan ke kamarku?"
Mereka saling memandang, lalu tanpa Roxanne duga mereka hanya menunduk, lalu berjalan pergi.
Mengabaikan Roxanne.
__ADS_1
"Aku mengerti," gumam Roxanne kecut. "Kehilangan orang dalam berarti kehilangan fasilitas."
Sudah Roxanne bilang kalau setidaknya disukai okeh Graean, ia akan hidup nyaman. Tapi sebaliknya, begitu Graean merasa terganggu atasnya, kehidupan neraka benar-benar menunggu Roxanne.
Perut Roxanne mulai tidak nyaman karena lapar, namun setelah dipikir lagi, ia putuskan kembali saja ke kamar untuk tidur. Sayangnya waktu tengah malam, Roxanne sudah tidak bisa menahan.
"Aku benci ini."
Roxanne mengepal tangannya kuat-kuat, berusaha keras tidak menangis namun tak bisa.
Ia benci perasaan ini. Rumah yang asing sudah cukup menakutkan, tapi ia bahkan tak memiliki satu saja orang yang menghormatinya.
"Hiduplah tanpa harga diri."
Padahal Ibu sudah memberitahunya begitu.
Meskipun semua itu hanya ucapan di kepalanya, Roxanne menggigit bibir dan menjawab, "Baik, Ibu."
Kalau memang harus tanpa malu ia hidup tenang, Roxanne akan memguang rasa malu dan moralnya.
Roxanne menarik jubah tidurnya lebih erat. Berjalan naik ke lantai empat di mana Elios pastinya berada.
Roxanne yakin betul Graean tidak ada di kamar Elios sekarang. Graean punya setumpuk pekerjaan yang bahkan membuat dia tidak bisa makan siang di ruang santai.
Jika kemarin dia membuang waktu menemani Elios, berarti malam ini dia harus begadang mengerjakan tumpukan pekerjaan itu.
__ADS_1
"Nyonya."
Lihat, tidak ada respons.
Roxanne mendorong pintu kamar Elios agar terbuka, menemukan pria itu masih dalam posisi berbaring di kasurnya menandakan dia masih sakit seperti kemarin.
Semakin lama dia sakit, semakin Roxanne mendapat keuntungan.
"Aku dan kamu tidak terhubung pada hati nurani." Roxanne menahan air dalam mulutnya bersama obat sebelum ia menunduk, menekan bibirnya pada Elios.
Pelan dan pasti air itu Roxanne alirkan bersama obat pemberian Arkas, terus menekan agar Elios menelannya.
Tentu saja, Elios yang tiba-tiba mendapatkan itu tersedak. Sekalipun Roxanne berusaha melakukannya perlahan, dia tetap terbatuk-batuk kecil.
Namun Roxanne tidak membiarkan itu. Ia duduk di pangkuan Elios, memeluk tubuhnya seolah dia adalah milik Roxanne secara penuh.
Berkat sakit yang dideritanya, Elios sulit memberi banyak perlawanan. Dia hanya pelan-pelan terseret dalam pengaruh narkoba, kembali terhanyut pada halusinasinya.
"Eri."
"Eli." Roxanne berbisik dingin namum lembut di telinganya. "Ikut aku sebentar."
Kalau Roxanne yang berbaring di sini, ia akan terkena hukuman.
Tapi kalau Roxanne buat seakan-akan Elios yang turun ke bawah mencarinya, di kamar Roxanne, tidak mungkin ada yang menyalahkan Roxanne, kan?
__ADS_1
*