
Setelah sekian lama Diane tidak melihat lukisan Eirene, kini ia kembali melihatnya. Di kamar Elios saat dia masih menjadi Narendra, setiap sudut ruangan ditempati oleh lukisan Eirene dengan bingkai emas.
Semua lukisan itu memancarkan cinta dan kekaguman akan indahnya sosok Eirene.
Diane menelan ludah saat memalingkan wajah dari lukisan Eirene, berpaling pada Elios yang duduk di kasur lamanya. Pasti sudah sangat sering dia dan Eirene berada di sana.
"Maafkan saya," ucal Diane ragu. "Saya menyusahkan Anda."
Elios hanya menunduk, menatap kosong lantai.
"Tuan Muda, saya sama sekali tidak keberatan." Diane berlutut di depannya, berharap Elios melihat harapan dari kepasrahan Diane.
"Saya tentu saja merasa takut, tapi saya tidak keberatan. Jika Anda mendapatkan nama Narendra lagi, hinaan yang diberikan pada Anda akan berakhir dan Nona Muda Eirene, Anda akan mendapatkannya lagi."
Elios menatap Diane lemah. "Aku terlihat bodoh karena menjadikanmu kelemahanku, kan?"
"Tolong jangan bicara seperti itu. Saya bukan kelemahan Anda. Saya hanya—"
"Aku mencintaimu. Itu benar."
Elios menekan bibirnya satu sama lain, tak tahu harus mengekspresikan perasaannya sekarang.
"Aku menginginkan Eri tapi aku mencintaimu dan aku tidak ingin menggunakanmu sebagai tumbal," akunya putus asa.
__ADS_1
Diane mengepal tangannya kuat-kuat. Ia senang tapi Diane tak mau senang karena itu berarti ia menghambat Elios.
"Itu mungkin bukan cinta, Tuan Muda," balas Diane susah payah. "Bisa saja itu karena Anda tidak ingin istri Anda melakukan hal yang sama seperti Nona Muda."
Elios tertawa muram. "Kamu pikir kamu lebih tahu tentangku? Aku tahu hatiku. Aku jatuh cinta. Dan sejujurnya aku menyesal tidak mengenalmu lebih awal."
Jangan senang. Tolong jangan senang. Elios bisa saja mengatakan itu tapi pada akhirnya dia mau merebut Eirene kembali.
Masih ada kesempatan. Diane pasti bisa berguna untuknya.
"Tuan Muda—"
"Aku masih bisa membunuh Roxanne bahkan kalau aku mengakui kamu kelemahanku." Elios mengulurkan tangan, menarik Diane ke pelukannya. "Untuk sekarang aku akan mengandalkan kegeniusan Sanya."
Tapi dalam hatinya, Diane takut karena Elios mengharapkan Sanya.
Sanya tidak pernah memihak siapa-siapa.
*
Askala melipat tangannya dan menatap Sanya yang terlihat sangat percaya diri. Tentu saja Askala tidak setajam Eris bisa melihat segala hal dalam diri Sanya. Meskipun dia menatap Sanya dengan mata yang baik-baik saja, Askala tidak akan tahu separah apa kerusakan Sanya.
Karena itu Askala harus banyak mendengar jawaban Sanya.
__ADS_1
"Kenapa harus Arkas yang menjadi korban?" tanya Askala setelah lama terdiam.
"Sebab kelemahan Eris hanya dia."
"Kelemahan Eris ada banyak, Anak Kecil. Eris lemah terhadap ibunya dan aku."
Sanya tertawa keras mendengar perkataan Askala. "Itu bukan kelemahan jika dia hanya menahan diri. Dia tidak menyakiti kamu atau ibunya karena tidak ada keuntungan di sana."
"Kemampuan Eris dalam memimpin jauh lebih baik daripada Arkas. Jika Arkas mati, itu hanya tentang Eris menjadi kepala keluarga sekalipun matanya buta," balas Askala.
"Dia membutakan matanya agar keluarga ini tidak dipimpin oleh orang buta. Dia memaksa Arkas tetap hidup, Nona."
Sanya tersenyum lebar. "Dia tidak sanggup hidup jika Arkas meninggalkannya. Karena itulah satu-satunya kelemahan Eris adalah Arkas. Bukan karena dia peduli, dia mencintainya atau apa pun. Tapi hanya tentang Eris 'hidup' demi keluarga ini dan dia memaksa Arkas menjadi pemimpin."
Askala memicing. Aku mulai mengerti kenapa Elios menginginkan anak ini, pikir Askala diam-diam. Dia bahkan memahami perasaan Eris yang mirip benang kusut itu.
"Baiklah," ucap Askala setelah berpikir sejenak. "Akan kukeluarkan kamu dari sini jadi coba bunuh Arkas, seperti katamu."
"Sanya tidak mau."
"Apa?" Askala jelas terkejut. "Eris mencabut matamu dan kamu berpikir menunggu dia lagi? Kamu ingin buta seperti dia?"
"Sanya tidak menari untuk siapa pun selain diri Sanya." Gadis itu tertawa. "Dan Sanya ... menunggu orang lain. Jadi pergilah, Nona Bermasalah."
__ADS_1
*