Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
Kamu dan Aku Sama


__ADS_3

"Ada yang ingin kubicarakan, Sanya."


Mungkin, ini pertama kali Roxanne datang ke kamar Sanya. Walau hanya kamar sementara di ruang bawah tanah, tapi Roxanne terkejut karena tak ada apa pun di ruangan itu selain ranjang dan sofa.


Ada kotak kaca berisi belati di dekat ranjang. Seperti sesuatu yang sengaja dipamerkan.


"Apa itu?" Roxanne menanyakan maksud kotak itu.


"Pemberian Eris," jawab Sanya santai. "Sanya pernah menyerangnya tidak sengaja lalu dia memberikannya. Jadi Sanya menjadikan itu hiasan."


Roxanne sempat diam mendengar nama Eris. Ada sudut hati Roxanne yang memikirkan pria itu, tapi berusaha Roxanne tepis karena tidak penting.


"Lalu, Kakak datang membicarakan apa?"


"Mengenai rencanamu." Roxanne sudah meyakinkan diri. "Ayo berhenti. Aku tidak mau membuat masalah lagi."


Sanya membulatkan mata, tapi kemudian tersenyum ceria. "Baiklah. Ayo berhenti."


"...."


Lalu senyum itu berubah menjadi sesuatu yang dingin. "Kakak berpikir aku akan menjawab begitu?"


"Tidak." Roxanne memang bodoh tapi ia tak sebodoh itu sampai berpikir Sanya akan mengikutinya seperti bebek. "Aku datang untuk membicarakan itu."


"Membicarakan?"

__ADS_1


"Sebenarnya kenapa?" Kenapa sebenarnya Sanya mau mengacaukan keluarga ini? Tidak seperti Roxanne yang marah pada Elios dulu, Sanya nyaris tidak terlihat. Jangankan ditindas, dianggap ada pun hampir tidak.


Lalu, dia juga luar biasa. Dia yang membawa Elios sampai ke titik ini dan dia memperkirakan pergerakan Elios seolah itu dilakukan oleh dirinya sendiri.


"Alasanmu menginginkan Elios jadi pemimpin itu apa?"


Sanya menyeringai kecil. "Bagaimana menurut Kakak? Apa alasanku?"


"Kebencian." Roxanne menjawabnya tapi kemudian mengubah jawaban itu sendiri. "Tidak, kepuasan hati? Ah, bukan. Bagaimana mengatakannya ...."


"Hm?" Sanya mengangkat alis.


"Kebahagiaan?" Roxanne mengerutkan kening. Ia bukan bingung menjawab tapi bingung memilih kalimat. "Kamu menginginkan kebahagiaan dan kedamaian."


"Aku? Di mata Kakak?"


"Mereka ingin hal yang mereka lakukan itu berakhir dengan kepuasan yang membuat mereka bahagia dan nyaman. Terlepas dari berapa banyak orang menderita demi kebahagiaan itu."


Untuk pertama kali, Sanya memperlihatkan ekspresi tulus yang mengatakan dia tidak menyangka.


"Aku ingin membunuh Arkas, Elios dan Eris karena mereka menganggapku bodoh." Roxanne menatap kosong jemarinya. "Aku menganggap jika mereka mati, bahkan jika setelah itu aku mati, aku akan puas. Dan jika aku puas, aku jelas akan bahagia."


Membunuh Sanya juga. Kebencian Roxanne pada anak ini malah yang paling besar dan ia terus merasa jika suatu saat Sanya mati, dirinya akan sangat-sangat amat bahagia.


Semua orang pada akhirnya berusaha mengejar kedamaian. Maka Sanya pasti seperti itu. Entah apa yang dia inginkan pada akhirnya bermuara pada kepuasan dan kebahagiaannya. Dengan kata lain Sanya akan bahagia jika Elios memimpin.

__ADS_1


Kenapa? Itu adalah pertanyaan yang butuh jawaban dari Sanya secara langsung.


"Sanya—"


"Benar. Aku akan bahagia jika tujuanku tercapai." Sanya tersenyum meremehkan. "Lalu? Apa yang akan dilakukan perempuan tolol sepertimu?"


Setidaknya dia berhenti berpura-pura imut.


"Tidak ada. Aku hanya mengajakmu berhenti. Kalau kamu menolak itu hakmu pribadi."


"Begitu."


Roxanne mengamati ekspresi Sanya. Walau diluar dia terlihat kecil, mungil dan lucu, Sanya benar-benar menakutkan jika tak bersembunyi dibalik senyum bodohnya itu.


"Aku merasa aku dan kamu sama," gumam Roxanne ragu.


Ia ragu sebab tahu Sanya pasti akan tertawa.


"Sama?" Gadis kecil itu menutup mulutnya seolah berusaha keras menahan tawa. "Bagaimana wanita tidak berpendirian, bodoh dan cengeng seperti Kakak itu sama denganku? Oh, demi Tuhan yang tidak aku percaya, Kakak melihatnya dari sudut pandang mana?"


"Dari sini."


Roxanne menunjuk mata Sanya.


"Matamu tidak mengenali cinta sepertiku."

__ADS_1


*


__ADS_2