Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
Persetan dengan Semuanya


__ADS_3

Elios tak pernah menang dari rasa sakit ini. Padahal Elios hanya berencana pura-pura, tapi suara nyanyian Eirene membuatnya menangis seperti wanita.


Untuk sejenak saja, Elios memejamkan mata. Merasakan seluruh dunia menghilang dan kini ia hanya berdiri di hadapan bayangan Eirene.


"Tunggu sebentar," ucap Elios dalam dimensi imajinasinya itu. "Eri, tunggu sebentar lagi saja. Aku benar-benar akan menjemputmu nanti. Aku berjanji."


Rasa sakit itu menusuk Elios. Tangannya bergetar, ingin meraih Eirene bahkan jika dia hanya bayangan. Tapi sentuhan Roxanne dan suaranya juga menyadarkan Elios pada kenyataan.


Benar. Ia harus membalas wanita ini dulu. Wanita yang berani mecelehkan perasaannya pada Eirene dan bertingkah seakan-akan dia berhak bicara soal cinta.


Padahal tidak tahu apa pun. Padahal tidak mengerti apa pun.


"Tuan Muda."


Elios membencinya. Ia sangat membenci Roxanne sampai-sampai ia tercekik oleh kebencian itu. Elios merasa sakit melihat Roxanne yang tak tahu diri di hadapannya.


Aku muak menunggu. Aku ingin berteriak padanya sekarang. Sekarang saja. Di depan semua orang, agar dia tahu bahwa dia masuk ke tempat yang tidak layak baginya berdiri.


"Ya." Di antara badai emosinya, Elios masih saja tersenyum. "Ayo turun."


Mereka mundur setelah meletakkan mawar di depan lukisan Eirene, memberi kesempatan untuk kepala keluarga naik mendampingi Nyonya Medea, ibunda Elios.


Tapi sekarang sudah cukup. Sekarang Elios tinggal menemukan Arkas untuk memulai segala yang ia rencanakan. Sanya pasti sudah pergi jadi Elios hanya perlu fokus pada Roxanne.

__ADS_1


"Roxanne, ada sesuatu yang ingin kubicadakan dengan Arkas. Ayo pergi temui dia."


"Baik, Tuan Muda."


Elios mengajak Roxanne pergi, mencari di antara cahaya remang dari lilin-lilin lampion. Pasti Eris dan Arkas bersama, lalu Askala pasti juga sudah tidak sabar.


*


"Elios sepertinya mencari Arkas." Askala mengulas senyum ketika dari kejauhan ia melihat Elios berjalan tak tentu arah. "Lucu sekali melihat dua bersaudara saling berencana menusuk."


Elios merencanakan A, Eris merencanakan B dan Askala berada di antaranya. Menyaksikan kedua hal itu saling terhubung.


"Siapa menurut Anda yang akan menang, Nona?" Pertanyaan itu melayang dari Delfi, pengawal pribadi Sierra.


"Itu sulit." Askala tertawa. "Eris tidak pernah gagal dan tidak suka membiarkan dirinya gagal, tapi Elios sekarang jauh lebih gila dari sebelumnya. Mungkin saja mereka berdua akan menang?"


"Sierra." Askala mengusap-usap puncak kepala adiknya yang sedang asik menyantap bola-bola daging. "Pergilah membantu Elios dan pastikan tidak memberitahunya jika Arkas pergi ke Papua."


Sierra menjilati bekas saus di bibir kecilnya. "Baik."


Tapi dengan cepat wajah imutnya berubah licik. Dia sudah sangat menunggu waktu membalas Roxanne.


*

__ADS_1


Arkas ... tidak ada.


Mustahil orang kaku dan serius itu meninggalkan peringatan kematian Eirene tanpa sebab. Apalagi, seluruh anak perempuan Narendra hadir di tempat ini hingga dia, yang bisa jadi bodoh cuma demi adiknya, jelas tidak punya alasan bersembunyi.


Kalau begitu di mana Arkas? Askala menyembunyikan dia? Tidak, paling tidak enam puluh persen Askala setuju denganku. Dia pasti juga ingin membalas Roxanne.


Kalau begitu Eris? Tapi sejauh apa pun Eris bisa membaca rencanaku, mustahil dia mengambil keputusan sejelas ini.


Menyembunyikan Arkas sama saja dengan dia tahu masa depan. Bahkan kalau Eris luar biasa, dia tidak tahu masa depan seperti apa dan niat terdalam Elios apa.


Ah, sial. Kepala Elios mulai sakit sekarang. Untuk sebentar saja mereka tidak membiarkannya bernapas.


"Tuan Muda?"


Aku berpura-pura setiap hari agar segalanya sempurna. Elios menoleh pada Roxanne. Aku mencium hama ini, berbisik lembut padanya dan melakukan segala macam hal menjijikan agar segalanya sempurna.


Tapi sekarang semua dihentikan? Jangan bercanda.


Kenapa Elios harus gagal? Kenapa Elios tidak bisa menghina Roxanne? Padahal dia pantas. Padahal dia sangat amat pantas berlutut di tanah, menyadari betapa hina dia hidup di dunia.


Kamu menyuruhku lebih bersabar atau sedang menghinaku lagi, Kakak?


Eris. Dia selalu saja di pihak Arkas. Dia selalu saja membuang Elios demi Arkas.

__ADS_1


Kewarasanku rasanya berkurang. Elios menggigit bibir. Persetan dengan semua.


*


__ADS_2