
Askala tertawa terbahak-bahak di balkon menyaksikan Elios dari kejauhan. Anak gila itu, lama tidak bertemu, ternyata dia menjadi lebih menarik.
"Kakak." Askala mengingat Elios diam-diam datang padanya sebelum ini. "Pinjamkan aku kalung kecilmu. Kalung berlian merah."
"Bukankah kamu memilikinya? Cincin di jarimu, itu kan dari kalung berlian Eirene," tunjuk Askala pada jemari Elios.
Tapi Elios tersenyum manis. "Aku mau memakaikannya pada babi. Bagaimana bisa aku memberikan milik Eri?"
"Hoh, jadi menurutmu kalung milikku pantas untuk babi?"
"Setidaknya kamu tidak peduli, kan? Ayolah. Hanya satu. Berikan saja yang paling tidak berguna."
Askala memiliki banyak koleksi kalung berlian yang bahkan diwariskan turun-temurun dari dua ratus tahun lalu, jadi ia memang tak peduli memberikan satu saja kalung pada Elios.
Berlian merahnya berharga, tapi Askala tidak menyukai modelnya. Ia menjaga itu karena pemberian dari Ayah, lalu Askala putuskan berikan pada Elios saja.
"Apa yang mau kamu lakukan dengan kalung berlian merah?"
"Tentu saja merayu babi." Elios datang, mengecup bibir Askala sebagai ucapan terima kasih. "Menjilati tubuhnya sampai dia mengerang bira-hi lalu menghinanya. Begitulah. Bukankah kamu juga suka permainan itu?"
Askala tak berhenti tertawa menyaksikan Elios. Sungguh, dia jadi sangat pandai berakting. Jika Elios tidak datang padanya, Askala pasti percaya kalau Elios sedang sakit jiwa.
"Aku jadi tidak sabar." Askala menggigit kelingkingnya seraya terpejam. "Cepatlah, Elios."
Cepatlah perlihatkan betapa putus asa wajah babi yang dia hina itu.
__ADS_1
"Nona."
Perhatian Askala teralihkan pada pengawalnya. Pria itu berbisik, lalu tak lama Askala melirik ke arah lain.
Di seberang lain danau, Askala melihat Eris dengan mata terpejam seperti tengah melihat Elios dan Roxanne.
"Aku mendengarnya tapi," Askala melipat tangan, "jangan bilang dia sungguhan menyukai babi peliharaan Elios?"
Apa Eris sudah gila?
*
Dioris duduk di atas pohon tempat Eris tengah duduk bersandar. Dialah yang memberitahu Eris bahwa Roxanne dan Elios sedang makan bersama dengan romantis di sana.
Tapi sejujurnya Dioris tidak menyangka kalau Eris akan membuat ekspresi seakan dia terluka.
Eris yang hanya bisa melihat kegelapan tersenyum dalam kegelapan itu. "Entahlah."
"Saya melihat Anda benar-benar menyimpan perasaan, bukan sekadar memanfaatkan sesuatu."
"Mungkin saja."
Dioris malah terkejut sebab Eris tidak menyangkalnya. Jika mengenal Eris, hal semacam itu sulit dipercaya. Terlebih, Dioris juga tidak bisa melupakan Nernia.
Wanita yang jika saja masih hidup, dia akan jadi salah satu pemimpin paling berpengaruh. Sekalipun cuma istri Tuan Muda Kedua, dia bahkan jauh lebih dominan dari Arista. Bagaimana bisa orang itu dan Roxanne dibandingkan?
__ADS_1
"Roxanne mengajariku rasa kebencian." Eris bergumam. "Dioris, ketahuilah, aku tidak menyesal."
Eris tersenyum tulus. "Mengambil keputusan membunuh istriku, menghilangkan penglihatanku, menyetujui pembuangan Elios, aku tidak menyesali keputusanku yang mana pun."
Tidak peduli bagaimana semua keputusan itu sekarang berbalik ke arahnya, Eris sedikitpun tidak mau menyesal. Ia terus meyakinkan dirinya bahwa semua keputusan itu telah ia pertimbangkan baik-baik.
"Aku pria yang percaya pada diriku sendiri. Tidak, aku memaksa diriku percaya pada diriku. Bahkan jika aku salah, aku berkata pada diriku bahwa kesalahan itu akan membuatku belajar. Aku tidak membiarkan diriku menyesal apalagi terpuruk."
"....."
"Tapi Roxanne berbeda dariku. Dia lemah, bodoh, menyedihkan, bahkan menjijikan. Dia menangis, lalu menangis lagi, lalu menangis lagi dan menangis lagi. Dia takut melangkah. Dia hanya menetap di tempatnya dan meringkuk ketakutan."
"...."
"Dan aku tidak membenci segala hal itu." Eris mengepalkan tangannya yang berharap bisa menyentuh Roxanne lagi. "Dia memberitahuku bahwa, sekalipun aku yakin pada keputusanku, ternyata ada orang bodoh yang terluka karena itu. Sekalipun aku yakin aku benar, ada orang menyedihkan yang berharap aku tidak mengambil keputusan itu."
Eris mendongakkan kepalanya bukan untuk Dioris melainkan dirinya sendiri.
"Aku terlalu kuat. Aku terlalu mandiri dan terlalu hebat. Benar?"
"Saya tidak menduga Anda memuji diri Anda sendiri. Walaupun Anda tidak salah."
"Itu bukan pujian. Itu kenyataan." Eris menyandarkan kepalanya pada batang pohon. "Karena itulah aku berharap melindungi Roxanne yang lemah dan menyedihkan. Sesederhana itu."
"Lalu, Anda akan melindunginya dari rencana Elios?"
__ADS_1
Ketika Eris diam, Dioris tahu bahwa jawabannya tidak.
*