
Arkas sudah kembali tapi Sanya tidak. Berarti gadis itu gagal, kah?
"Padahal aku berharap banyak darinya," gumam Elios terduduk di tempat tidur.
"Anda akan diam saja?" tanya Diane yang berbaring membelakangi Elios.
"Tentu saja." Elios tertawa kecil. "Dalam keluarga ini, pengakuan adalah segalanya. Jika aku tidak mengakui bahwa aku terlibat dengan Sanya, sekalipun Arkas tahu aku terlibat, dia akan diam."
"Begitu." Diane terdiam sejenak. "Tapi Anda memang berharap Sanya berhasil?"
"Kamu tidak tahu apa-apa mengenai Sanya, Diane?"
Di antara istri Elios sekarang, ia menemukan Diane adalah wanita yang paling tajam. Dia jauh lebih tajam daripada Graean.
Mengamati semua dalam diam, berpura-pura tidak menginginkan apa pun dan tidak akan melakukan apa pun selain menunggu kematiannya. Orang-orang bergerak di sekitar Diane seolah dia patung. Karena itulah Diane bisa mengawasi segala hal tanpa dicurigai.
"Saya tidak tahu hal yang tidak saya rasakan."
Wanita misterius, pikir Elios memandangi punggung istrinya itu.
Sejujurnya Elios merasa aneh karena ia tertarik pada Diane. Sungguhan dan bukan pura-pura. Padahal Elios benci istrinya berharap pada Elios. Tapi sekalipun Diane mengotori tubuhnya dengan air liur, Elios tidak merasa sangat terganggu.
Hanya pada Diane, anehnya.
"Anak itu menyimpan kebencian tidak terbendung pada Narendra." Elios beranjak dari tempat tidur. "Dia mungkin selalu tersenyum, tapi jauh di matanya terlihat jelas dia rusak. Seperti robot yang masih bisa bergerak tapi kacau. Itulah Sanya."
__ADS_1
Karena Elios juga sama gilanya, ia mengenali mata Sanya. Dan kalau harus jujur, Sanya jauh lebih gila.
Dia terlihat seperti dia bisa memutilasi siapa pun sambil tertawa bahagia. Kalau Elios pasti hanya bisa melakukan itu pada Roxanne saja.
"Lalu, anak itu," Elios memasang pakaiannya sebelum duduk bersandar pada sofa, "dia bukan gadis."
Diane menoleh. "Sanya tidak perawan lagi saat Anda menyentuhnya?"
"Aku tidak menyentuhnya. Dia memilih membuka segala sifatnya ketimbang membiarkanku menyentuhnya."
Anak itu tidak mau sifat aslinya terlihat, tapi jauh lebih tidak mau disentuh oleh siapa pun.
"Kalau begitu ...."
"Benar. Kemungkinan besar sebelum menjadi istriku, dia pernah mengalami pemerkosaan. Dan bukan sekali dua kali. Itu berulang kali sampai kepalanya rusak."
"Padahal aku mau membunuhnya sendiri." Elios tersenyum kecil. "Sayang sekali. Kematian Graean tidak bisa kubalaskan."
Tapi tidak ada juga alasan Elios menangisi kematian Sanya. Kalau dia tidak bisa bertahan sendiri maka kegunaannya sudah habis.
Yah, aku berharap dia membunuh Eris untukku dulu lalu mati menanggung dosanya, pikir Elios. Tapi mau bagaimana lagi.
*
"Tuan Muda, saya khawatir jika Nyonya Roxanne akan sulit membuka mata dalam waktu dekat."
__ADS_1
Eris mengerutkan keningnya, tak menyangka jika Roxanne sampai separah ini.
Setelah menunggunya terbangun satu hari penuh, Eris tidak merasakan ada tanda-tanda dia akan bangun. Karena itulah Eris memanggil dokter.
"Apa separah itu?"
"Mohon maaf harus berbicara lancang. Mengingat apa yang terjadi kemarin malam, secara mental beliau pasti sangat terguncang."
"Sebesar itu dampaknya?"
"Saya rasa jauh lebih besar dari harapan siapa pun. Jika harus membicarakan kemungkinan terburuk, akan sangat lama waktu sampai Nyonya Roxanne bisa membuka mata lagi."
Eris mengangguk, membiarkan Dokter undur diri sekaligus menyiapkan apa yang butuh disiapkan sebagai penopang hidup Roxanne.
Biasanya jika ada Narendra yang butuh perawatan intensif, mereka memilih untuk turun ke bawah tanah, di mana seluruh peralatan medis berada. Tapi Eris tidak bisa membiarkan Roxanne keluar dari pengawasannya sekarang.
Dan jujur, Eris tidak mau.
"Lucunya aku selalu melihat orang yang kucintai tersiksa karena keputusanku." Eris meraba tangan Roxanne dan untuk kesekian kali menggenggamnya. "Maaf, Roxanne."
Tentu, maaf pasti tidak akan berguna. Bahkan kalau Eris berlutut meminta maaf, luka di hati Roxanne pastinya tidak akan sembuh.
"Roxanne." Eris berharap suaranya sampai. "Aku merindukanmu."
Sejak lama, Eris sangat merindukannya.
__ADS_1
*