
"Kamu menunggu di sini?" Arkas mengulurkan tangan pada Eris agar berdiri dari posisinya. "Seharusnya kembali saja. Aku hanya tidur—tidak, aku beristirahat sedikit bersama Roxanne. Tidak lebih."
Eris mengangkat alis. "Aku tidak curiga."
Walau kata suci itu berat, bisa dibilang Arkas adalah pria suci. Dia tidak pernah tidur dengan saudarinya sampai sekarang dan hanya memeluk istrinya saja. Mungkin pelayannya juga tidak. Jadi Eris tidak berpikir dia akan melakukan sesuatu.
"Pergilah dulu." Eris melepaskan tangan Arkas. "Aku ingin bicara dengan Roxanne."
Lepas memastikan Arkas baik-baik saja, Eris berlalu menuju kamar Roxanne. Eris dengan mudah mencapai kamar itu, menggeser pintunya terbuka.
"Tuan Muda." Roxanne menyebut gelarnya dingin. "Jika mencari Tuan Muda Pertama, beliau sudah pergi."
"Aku tahu. Aku bertemu Arkas baru saja."
"Kalau begitu silakan pergi. Saya harus bersiap mengunjungi Tuan Muda Elios. Saya dengar beliau sudah bebas."
Eris melangkah masuk, bertentangan dengan permintaan Roxanne. Tangannya menggeser pintu tertutup, datang ke arah di mana ia merasakan keberadaan Roxanne.
Baru saja Eris mau meraihnya, Roxanne menghindar.
"Jika Anda mau mengurung saya lagi, Tuan Muda Pertama sudah berkata bahwa saya boleh bertemu Tuan Muda Elios."
Eris tidak berniat mengurungnya. Itu tidak terlalu berguna lagi.
"Kamu marah padaku?" Eris mendengar langkah kaki Roxanne berputar menjauh darinya. "Kamu benar-benar membenciku sekarang, Roxanne?"
__ADS_1
"Entahlah. Saya tidak terlalu luang memikirkan hal semacam itu."
Dingin sekali. Eris percaya bahwa ia tak pernah mendengar kalimat sedingin itu dari seorang wanita kecuali Roxanne. Dan dari suaranya, Eris merasa dia membencinya.
Sungguhan benci. Bukan sekadar kebencian yang di dalamnya terselip rasa sayang atau keraguan.
"Jangan menjauh dariku." Eris berbalik. Kembali mendekat ke arah Roxanne. "Beritahu aku sesuatu yang mengganggumu dariku. Bukan menjauh."
"Kenapa saya harus mendekat pada Anda? Anda kan tidak menyukai suami saya."
"Aku tidak bicara tentang Elios."
"Saya terikat pada Tuan Muda Elios."
Ketika Roxanne pergi, Eris cuma termenung. Tangannya terbuka dan tertutup merasai jejak tangan Roxanne di sana, saat dulu dia tidak tahu siapa Eris.
Aku menduga dia memang akan marah, tapi tidak kusangka sampai seperti ini.
*
Lepas berdandan dibantu pelayan, Roxanne segera menemui Elios. Katanya, dia berada di bangunan bagian Selatan dan semua istrinya juga akan berkumpul.
Ini adalah kesempatan Roxanne mendekati Elios secara langsung.
"Tuan Muda." Di depan seluruh istrinya, Roxanne mendekat ke pengakuan Elios. "Lama tidak bertemu. Maafkan saya karena tidak melakukan tugas sebagai istri Anda dengan baik."
__ADS_1
Elios langsung menyentuh wajah Roxanne. Membelai pipinya dan tersenyum. "Akulah yang membuat kalian harus menjalani kehidupan mengerikan. Jangan meminta maaf."
Senyum lembut di wajah Roxanne menyambut belaian Elios di wajahnya. Tapi diam-diam Roxanne melirik Mariana, hanya untuk memastikan sekesal apa dia.
Nampaknya Mariana ingin menduduki posisi Graean selepas kematiannya. Sayang sekali, Roxanne tidak sebaik itu menyerahkan sesuatu sekarang. Elios adalah milik Roxanne.
"Apa ada sesuatu yang mau Anda sampaikan sekarang, Tuan Muda?" tanya Roxanne lembut.
"Hm? Tidak. Tidak ada. Aku hanya ingin memastikan keadaan kalian."
"Benarkah? Kalau begitu saya harap Anda menerima rayuan saya," ucap Roxanne semangat.
Elios tertawa kecil. "Aku memang bermaksud melakukan itu. Malam ini tinggallah di sini."
"Terima kasih."
"Kalian semua. Aku akan mengunjungi kalian satu per satu. Aku sudah menyuruh pelayan menyiapkan kamar untuk kalian."
Roxanne tidak menduga itu, tapi ia tidak terlalu peduli. "Tolong izinkan saya yang pertama melayani Anda."
Cukup itu saja. Agar jelas bahwa ia yang berada di posisi pertama.
"Tentu. Aku bermaksud begitu."
*
__ADS_1