
Elios melipat tangan sambil mengawasi penanganan intensif yang dilakukan dokter dalam ruang operasi darurat. Mereka langsung mengambil tindakan begitu memeriksa kondisi Roxanne dan Elios mengizinkan mereka melakukan apa pun asal dia bisa membuka mata kembali. Tentu saja, bukan karena alasan romantis apapun.
Perhatian Elios teralihkan pada alat yang menunjukkan tanda-tanda kehidupan Roxanne semakin melemah. Spontan, Elios mengerutkan kening. "Sekalipun namaku Yasa, gelar Tuan Mudaku tidak dicabut karena aku Narendra," Elios menyeringai. "Jadi pastikan istriku membuka mata sekalipun harus mengganti segalanya dengan milik kalian."
"Kami akan berusaha keras, Tuan Muda."
"Aku tidak menyuruh siapa pun bekerja keras. Aku menyuruh kalian menyelamatkannya, jadi lakukan seperti kataku," balas Elios tidak peduli. Ia terus berdiri di sana, mengawasi segalanya secara langsung.
Jam demi jam berlalu, para dokter nampaknya mempertaruhkan nyawa mereka untuk menyelamatkan Roxanne. Sebab mereka semua tahu jika sedikit saja kesalahan terjadi, Elios tidak akan membiarkannya begitu saja. Sampai akhirnya...
"Semua lukanya sudah kami tangani sebaik mungkin," kepala pemimpin medis yang bertanggung jawab atas seluruh kesehatan Narendra melaporkan secara khusus. "Sekarang hanya tinggal menunggu beliau sadar."
"Berapa lama?"
"... Itu tidak bisa dipastikan, Tuan Muda."
"Pastikan."
"Tuan Muda—"
__ADS_1
"Pastikan."
Kepala Dokter mendadak terlihat gelisah. "Sekurang-kurangnya kami berharap beliau membuka mata dua minggu kemudian."
Elios tersenyum dan mendekati meja operasi di mana Roxanne masih terbaring. "Satu minggu," Elios berbisik di telinga Roxanne yang berbau darah dengan campuran disinfektan. "Jika kamu tidak membuka mata satu minggu kemudian, kematian mereka jadi tanggung jawabmu di neraka nanti, Roxanne."
Seolah tak habis mengatakan apa-apa, Elios berbalik dan memberi perintah. "Pindahkan istriku ke kamarku. Aku sudah menyuruh Zack menyiapkan semua yang dibutuhkan. Tentu saja, terus awasi perkembangannya."
Pintu ruang operasi dibuka dan Elios ditemui oleh sosok Arkas. Yah, Elios sudah menduga dia pasti akan datang. "Aku akan bertanya untuk memastikan sekarang. Kamu yang melukai Roxanne lagi?"
Elios menunjuk para dokter di belakang. "Tanya pada mereka luka apa yang dia dapat."
"Aku sudah memastikan ternak itu hidup jadi sekarang aku harus istirahat," kata Elios. Ia mengeluarkan kain penutup matanya dan memasanginya sambil berjalan. Tubuhnya sedikit lelah jadi Elios ingin tidur sebelum melanjutkan rencananya.
"Kakak Elios."
"Hm?" Elios berbalik. "Sierra? Kamu juga di sini?"
"Aku merindukan Kakak," kata Sierra sambil melompat ke punggung Elios hingga Elios spontan saja menahan pahanya. "Kakak, Kakak. Apa Kakak sudah tidak berbuat bodoh lagi? Kakak mengira orang rendahan sebagai Kakak Eirene! Itu sangat menakutkan!"
__ADS_1
Elios tertawa. "Harusnya saat itu Sierra memukul kepalaku saja. Memang sangat menakutkan."
"Aku bersumpah lain kali akan melakukannya. Kalau perlu dengan besi."
"Baiklah, aku tarik ucapanku tadi." Elios berjalan hati-hati karena ia menggendong adiknya dengan mata tertutup. Walau samar-samar seluruh hal terlihat dibalik kain tipis, Elios tidak mau menjatuhkan adik perempuannya. "Manisku, bagaimana kalau kamu menemani aku tidur? Tubuhku sedang lelah sekarang."
"Benarkah? Baik. Aku mau. Ayo pergi."
Elios tersenyum senang karena kedatangan Sierra membuat suasana hatinya menjadi baik. Satu-satunya hal yang masih sama dalam diri Elios dengan Arkas adalah kasih sayang pada saudari perempuannya yang mengemban nama Narendra.
Elios naik ke lantai empat dan masuk ke kamar tidur yang lain karena kamarnya sendiri pasti sudah dipenuhi banyak peralatan medis. Sebelum berbaring, Elios memastikan seluruh tirai tertutup dan lampu dimatikan, kemudian menyelimuti dirinya dan Sierra bersama-sama.
"Aku pikir Kakak mengkhianati Kakak Eirene," kata Sierra sambil mengusap-usap rambut Elios tanpa diminta. "Aku hampir marah pada Kakak. Aku bahkan berpikir Kakak mengganggu rencanaku melenyapkan serangga tidak tahu diri itu."
"Kamu berucap hal lucu, Adikku," kata Elios sambil terkekeh. Ia memejamkan matanya yang tertutupi kain penutup. "Eri hanya satu dan aku tidak akan membiarkan itu berubah."
"Kalau begitu, Kakak akan membunuh dia karena dia menghina Kakak Eirene?"
"Tentu saja," kata Elios pelan-pelan sambil merasa tertarik untuk terlelap dalam mimpi. Usapan Sierra di kepalanya sangat efektif. "Aku akan mencincangnya sendiri setelah melakukan beberapa hal."
__ADS_1
Elios bersumpah atas nama Narendra yang dicabut paksa oleh Arkas. Ia bersumpah bahwa Roxanne, pelaku yang menghina kembarannya sekaligus cintanya, akan dibuatnya memohon untuk mati.