Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
90


__ADS_3

Apa maksudnya dia hanya disebut berdasarkan angka? Narendra punya banyak hal aneh jadi sebenarnya itu tidak mengherankan.


Lucunya, pria setampan ini dalam keluarga Narendra hanyalah pekerja. Roxanne mendengkus diam-diam saat melihat wajahnya itu.


Dia tak setampan Elios, tapi dia terlihat istimewa nyaris seperti Arkas. Biasanya pekerja itu tidak terlihat menyamai tuannya, tapi dalam Narendra, pelayan dan tuan sama-sama terlihat indah.


"Maaf, Dwi, tapi aku ingin memastikan agar tidak ada salah paham."


"Narendra tidak meminta maaf, Nyonya."


"Aku tahu." Roxanne berdehem. "Maksudku, matamu, itu ....?"


"Ah, ini? Ya, aku tidak melihat. Kedua bola mataku tidak ada."


Roxanne langsung merasa bersalah. Meski begitu ia bersyukur sudah bertanya karena memang penting memastikan.


"Kamu tetap tampan bahkan tanpa mata." Roxanne tersenyum. "Tentu saja, itu pujian tulus. Tolong jangan tersinggung."


Dwi juga tersenyum lembut. "Jangan khawatir, Nyonya. Aku bangga dengan diriku."


Sepertinya dia orang baik. Roxanne merasa sangat tidak waras sejak masuk ke kediaman Elios, jadi jujur ia merindukan orang normal. Manusia seperti Dwi ini membuat Roxanne bisa tersenyum lega.


"Omong-omong, kamu tidak pergi ke pertemuan besar? Semua istri Elios seharusnya diundang."


Sedikit aneh dia menyebut Elios dengan nama saja, tapi Roxanne sejak awal tidak peduli Elios dipanggil hanya nama ataukah sampah.


"Aku tidak peduli pada hal seperti itu." Roxanne memberitahunya jujur sambil mengelus kucing di dekat kaki Dwi. "Lagipula aku sedang sakit, jadi seharusnya tidak masalah."


"Jadi begitu." Dwi lagi-lagi tersenyum. "Tidak bisa dibantah pertemuan Narendra kadang menyebalkan, terutama jika tidak terbiasa."


"Ya." Roxanne berhati-hati mengatur posisi tangannya agar infus tidak bermasalah, namun juga fokus pada wajah tenang Dwi.


Kesan hangat di sekitarnya membuat Roxanne semangat.


"Hei, sebenarnya ada berapa dari mereka? Maksudku, Narendra."

__ADS_1


"Hmmm, cukup banyak," jawab pria itu dengan nada menyenangkan. "Secara keseluruhan, Narendra berjumlah dua ratus. Terhitung dari generasi sebelumnya, generasi pemimpin dan generasi sekarang."


"Membingungkan."


"Mudahnya ada dua ratus orang yang hidup dan berbeda usia."


Roxanne tertawa kecil, sekalipun tidak ada yang lucu. "Sangat banyak orang ternyata."


"Padahal itupun terbatasi," balas Dwi ramah. "Jika saja kelahiran Narendra tidak diatur, aku cukup yakin akan ada seribu di antara kami. Ada sangat banyak istri Narendra dari setiap satu Narendra."


"Masuk akal. Elios bahkan punya tiga belas istri."


"Elios kasus yang berbeda." Dwi itu menoleh dan seolah melihat Roxanne sekalipun matanya tertutup rapat. "Yah, kurasa sekarang semua orang tengah berusaha memilih pengganti Graean."


Roxanne tersentak mendengarnya. "Pengganti Nyonya Graean?"


Tapi selanjutnya ia dibuat tersentak lagi oleh suara Dwi.


"Roxanne," panggil dia penuh keseriusan, "memanggil seorang pengkhianat dengan gelar kehormatannya adalah sebentuk pengkhianatan kecil. Mulai sekarang dia hanya Graean, bukan Nyonya."


Tidak hanya mati menyedihkan, Graean bahkan tidak lagi boleh disebut nyonya? Padahal Sanya yang membunuhnya tapi semua orang menyebut Graean pendosa.


"Benar. Maksudku Graean." Roxanne pada akhirnya harus melakukan hal sama.


*


Eris tidak bisa melihat dengan mata, tapi tidak pernah ada yang bilang Eris tidak melihat apa-apa.


Dari ritme napas, tekanan suhu, getaran suara dan jawaban Roxanne barusan, Eris bisa menyimpulkan banyak hal.


Pertama, bukan dia pembunuh Graean ataupun pelaku yang meledakkan kastel Elios. Kedua, dia tahu sesuatu tentang itu dan merasa bersalah. Ketiga, dia tidak punya kemampuan apa-apa untuk melakukan hal berbahaya.


Menariknya dia selalu jadi pusat dari setiap masalah yang muncul di sekitar Elios.


Anak yang malang.

__ADS_1


"Kamu menginginkan Elios?"


"Eh?"


Eris mengelus kucing kecil yang mengeong di tangannya seraya menengok ke arah Roxanne.


"Itu sesuatu yang normal di kediaman ini. Istri Narendra menginginkan cinta Tuan Muda mereka. Tanpa cinta itupun istri Narendra akan mendapat segalanya, termasuk waktu malam, tapi mendapatkan cinta sendiri seperti melengkapi kesempurnaan."


"Karena itu semua istri Narendra tetap berlomba-lomba mencari perhatian Tuan Muda mereka. Semakin dicintai maka akan semakin istimewa mereka."


"Aku bertanya apa kamu juga menginginkan itu."


Sebenarnya Eris menyangka dia akan berkata ya, karena Eris menebak bahwa Roxanne salah satu gadis yang berpikir lurus seperti itu.


Tidak salah. Tidak aneh sama sekali.


Tapi ....


"Kurasa dulu." Itu yang dia katakan. "Aku sudah tidak ingin."


"Kenapa?" Eris sungguh penasaran dengan hal itu. Sebab ia menjadi salah satu yang paling tahu betapa tampan adik bodohnya itu.


Sulit menemukan gadis yang tidak ingin bahkan jika dia sudah tercekik.


"Terlalu sulit."


"Hm?"


"Bersaing dengan Eirene yang terlampau cantik, itu sia-sia. Lalu Elios, dia berkata dia tergila-gila pada Eirene karena kecantikannya. Itu terlalu sulit untuk aku yang normal, kan?"


Alasan putus asa macam apa itu?


Eris tak bisa menolong dirinya selain tertawa terbahak-bahak.


*

__ADS_1


__ADS_2