Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
48. Menit Menuju Kematian


__ADS_3

Tapi, sebelum tergeletaknya Eirene di lantai bersama jantung yang tertusuk belati Narendra, ada kejadian yang tidak Dioris saksikan sama sekali.


Itu memang sengaja dirahasiakan oleh Eirene agar hanya Elios yang mengetahuinya.


"Eli."


Eirene memanggil saudara kembarnya penuh kelembutan. Di bawah siraman cahaya rembulan kamar mereka biasa menghabiskan waktu, Eirene berdiri memakai gaun mewah yang tidak pernah sekalipun Elios lihat.


Tentu saja, itu tidak membuat Elios terganggu.


"Aku menjadi buta sesaat karena kecantikan Bintang Kecilku." Elios mendekat. Meraih setangkau mawar dari vas hitam emas kesayangan Eirene. "Aku mendadak mau memberi bunga, jadi kamu mau menerimanya atau tidak, Nona Cantik?"


Eirene tertawa seolah dia tahu tawa itu akan sangat indah, sangat menyihir siapa pun yang melihatnya.


Tangannya menerima bunga mawar segar dari tangan Elios, tersenyum membawa bunga itu ke dekat hidungnya.


Bagaimana Eirene bersama bunga mawar tidak pernah gagal membuat Elios berpikir betapa cantik saudari kembarnya.


Kecantikan yang bahkan menghipnotis Narendra selain Elios.


"Lalu," Elios membawa sentuhan lembut ke leher Eirene, menggelitiknya dengan ujung jemari, "boleh aku mencium Bunga Mawar ini juga?"


Eirene tiba-tiba berputar, keluar dari pelukan Elios dan seolah lari darinya.


Tindakan itu jelas membuat Elios terkekeh. Tak keberatan menyusul langkah Eirene untuk kembali meraihnya, tapi sekali lagi Eirene menghindar.


"Hm, seseorang menjadi sangat nakal hari ini." Elios berkacak pinggang. "Haruskah aku berusaha mengejar? Dengan serius."


Eirene tersenyum ketika wajahnya dipenuhi cahaya rembulan. "Tidak. Aku sedang ingin pamer betapa indahnya aku pada Eli."

__ADS_1


"Itu pasti akan sangat sulit." Elios pura-pura menghela napas. "Baiklah. Apa yang tidak bagi malaikat cantik sepertimu?"


Eirene menatapnya usil, tapi kini tak menghindar sebab Elios patuh tak mengejarnya. Gadis itu menyeret gaun emas yang dia gunakan, mendekap ratusan batang mawar tanpa duri dari atas meja.


Mata Elios hanya bisa terpaku padanya. Berdebar untuk cara yang sangat menyenangkan dan semakin mencintainya.


Angin berembus kencang dari luar jendela terbuka. Menerbangkan rambut Eirene dengan cara yang benar-benar memesona.


Saat itulah, Eirene tersenyum menatap Elios.


"Eli."


"Hm?"


"Aku pikir ada anak di perutku."


Tentu saja Elios sempat terkejut. Itu bukan berita biasa di kediaman ini untuk seorang Putri Narendra memiliki anak.


"Benarkah?" Elios langsung berlari mendekati Eirene. "Anak kita? Padamu? Kamu tidak bercanda?"


Eirene memiringkan wajah dan tersenyum manis. "Tidak. Anak Eli bersamaku."


Detik itu juga, Elios memeluknya. Mengangkat Eirene dan berputar hingga Eirene tertawa serupa anak kecil yang menikmati putaran di udara.


"Beri aku perempuan." Elios mencium pipi Eirene seraya berbisik. "Anak perempuan akan mirip dengan Eri. Aku sangat ingin anak perempuan."


"Eli, sebelum membahas itu, bukankah ada hal yang penting?"


"Apa yang lebih penting darimu?"

__ADS_1


Eirene menyengir. "Aku Narendra. Kamu lupa itu?"


"Lalu?"


"Apa yang akan Paman Pemimpin katakan kalau aku hamil?"


"Lalu kenapa? Aku tidak peduli." Elios mendekapnya, mengusap-usap perut di balik gaun berat Eirene. "Selama Eri senang dengannya, Eri boleh memilikinya."


"Lagipula memang Paman dan Arkas bisa apa? Tidak mungkin mereka membunuh keturunan Narendra. Terlebih itu dari wanita Narendra asli sepertimu, bukan istri Narendra yang berasal dari peternakan."


Elios bersungguh-sungguh saat itu. Bahkan setelah ingat ada peraturan mengatakan wanita Narendra tidak boleh melahirkan anak, Elios hanya berpikir bahwa peraturan itu tidak cukup menghalangi Eirene.


Lagipula, segalanya boleh dilakukan oleh wanita Narendra. Eirene tinggal meminta dan Paman Pemimpin Keluarga tidak mungkin menolak permintaannya.


Atau setidaknya, itu pemikiran Elios.


Dan mungkin memang akan terjadi demikian kalau saja ... Eirene juga berpikir sama.


"Bisakah Eli menjauh dulu? Ada sesuatu yang harus aku lakukan."


"Baik." Elios mencium keningnya sebelum melepaskan tubuh Eirene dan mundur menjauh. "Sejauh ini?"


"Lebih jauh. Pergilah bersandar pada pintu."


Elios patuh tanpa sedikitpun bertanya ada apa. Bersandar pada pintu, melipat tangannya sambil memandangi Eirene.


Kembarannya itu kembali tersenyum.


"Kalau begitu tutup matamu," ucap gadis itu lagi.

__ADS_1


Dan Elios menutupnya. Sebuah tindakan yang Elios akan sesali seumur hidup setelah itu.


*


__ADS_2