
Sanya melihat Roxanne berdiri bersama Eris dari kejauhan. Ia tidak bisa mendekat, karena perintah tegas diturunkan dari Tuan Muda Pertama untuk tidak mengusik Roxanne sekarang, apa pun alasannya.
"Aku harap Kakak Roxanne bisa sedikit menyadarinya." Sanya bergumam kecil. "Kakak sangat mudah terpengaruh dan ditipu."
Yah, mustahil menyadari siapa pria itu kecuali dia mengaku sendiri. Sanya bahkan butuh waktu mengetahui bahwa dia Tuan Muda Kedua.
Pria yang berbahaya dan jauh berbeda dari Elios. Pria itu punya kelembutan yang tulus dan benar-benar nyata, berbeda dari kepalsuan Elios. Namun justru karena itulah, dia jauh lebih sulit ditangani.
Dia bisa mencintai dengan sangat tulus saat membunuh.
"Dia mencabut matanya sendiri demi menghentikan keinginan melengserkan Arkas." Sanya menghela napas. "Lawan yang menakutkan. Kakak harus berhati-hati."
Tapi kelihatannya ... Roxanne telah jatuh dalam genggaman Eris.
*
"Dioris."
Pria itu langsung muncul begitu Eris menyebut namanya. "Di sini, Tuan Muda."
Kesetiaan Dioris tentu diberikan pada Eirene seorang, sebagai pengawal pribadinya. Namun di antara semua Narendra, Dioris secara khusus juga menghormati Eris dan mencurahkan banyak waktunya untuk menjalankan tugas dari pria itu.
Termasuk sekarang.
"Roxanne sudah mulai menanyakan Elios." Eris meraba tempat tidurnya untuk berbaring. "Pergi dan lakukan sesuatu pada hal itu."
"Mohon maaf. Untuk memperjelas, apa Anda meminta saya untuk memperbesar rasa tertarik Roxanne pada Anda?"
"Benar."
"Saya mengerti. Kalau begitu, saya menganggap Anda juga meminta saya untuk tidak menjelek-jelekkan Tuan Muda Elios dan melakukannya secara alami."
__ADS_1
"Benar."
"Baik. Perintah Anda sepenuhnya saya mengerti." Dioris langsung beranjak pergi, meninggalkan Eris beristirahat sendirian.
Dalam kesendirian dan kegelapan itu, ada banyak hal terlintas di benak Eris.
Sangat banyak hal yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun. Mungkin akan sulit menemukan siapa yang benar-benar mengerti.
*
"Bukankah kamu seharusnya beristirahat?" tanya seseorang tiba-tiba.
Roxanne tersentak sampai tak sadar memalingkan wajah terlalu kencang. Hal itu membuat kepalanya luar biasa sakit dan berdengung. Tapi ia juga fokus melihat siapa yang datang.
Hah, setelah sekian lama hilang, dia datang lagi.
"Orang kurang ajar." Roxanne berdecak. "Aku berharap kamu tidak pernah muncul lagi di depanku."
"Akan kuanggap itu ucapan rindu." Dioris menjawab tak peduli.
"Kamu orang dengan banyak masalah," jawab dia kurang ajar seperti biasa, "jadi jika tidak diawasi, entah masalah apa lagi yang terjadi. Bisa saja seluruh tempat ini juga terbakar karenamu."
Roxanne melotot. "Berhenti bicara seakan-akan aku yang membakar semuanya!"
"Bukannya benar?"
Roxanne tertegun. Jangan bilang dia tahu bahwa Sanya—
"Entah benar atau tidak, tapi pada kenyataannya ada banyak masalah setelah kedatanganmu." Pria kurang ajar itu menatap sinis. "Mulai dari percobaan pembunuhan, kastel terbakar, ini dan itu yang seluruhnya masalah. Pembawa sial."
Siapa juga yang mau menjadi alasan segala hal itu!
__ADS_1
Roxanne mengepal tangannya tapi tidak bisa menjawab. Bahkan kalau ia sakit hati disebut pembawa sial, memangnya dia mau mengerti?
"Aku sering melihatmu memandangi langit dengan ekspresi muram," ucap dia lagi.
Roxanne melirik. "Terima kasih sudah mengamati pembawa sial sepertiku. Jika sudah, bisakah kamu pergi karena aku merasa kesialan jadi berlipat jika kamu ada?"
Pria itu seolah tak mendengar dan tetap mengatakan apa yang mau dia katakan.
"Aku sering merasa kamu bahkan berbohong pada dirimu sendiri." Pria itu tersenyum miring. "Seperti : ah, aku benci berada di sini, aku tidak mau berada di sini, tapi pada faktanya aku di sini karena aku terpaksa."
"Diam." Roxanne membelalak marah. Beraninya sekarang dia mengejek Roxanne tentang hidupnya, padahal dia hanya orang asing yang tergila-gila pada Eirene.
Sial! Dia dan Elios—
"Padahal dirimu sendiri tahu, Roxanne, bahwa kamulah yang ingin berada di sini."
"Aku bilang diam—"
"Pura-pura teraniaya padahal tidak cukup layak dihargai." Pria itu menyeringai. "Kamu tidak dijual oleh siapa pun. Kamu tidak dibeli oleh siapa pun juga. Kamulah yang menjual dan membeli dirimu sendiri. Yang memperlakukan dirimu sendiri sebagai barang itu kamu. Bukan siapa pun."
Kedua mata Roxanne menyala oleh amarah justru saat air matanya berjatuhan.
Beraninya orang asing ini! Sejak awal dia selalu melakukannya!
"Hidup Eirene-mu pasti sangat nyaman sampai kamu bisa mengatakan hal semacam itu."
Roxanne benci suaranya bergetar sebab itu justru menunjukkan sesakit apa ia iri pada Eirene.
"Dia sudah lahir sebagai seorang putri jadi tentu saja dia tidak perlu berusaha keras. Semua orang mencintainya secara alami," gumam Roxanne gemetaran.
Pria kurang ajar itu malah tersenyum. "Jadi menurutmu kamu akan dicintai juga jika lahir sebagai Nona Eirene?"
__ADS_1
Senyum itu seolah berkata bahwa Roxanne tidak akan dicintai bahkan jika ia lahir sebagai Narendra.
*