Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
55


__ADS_3

Tentu saja, Elios terlalu hebat untuk orang polos seperti Roxanne dapat membacanya. Elios yang matanya tertutup kini tersenyum indah, mengusapkan ujung telunjuknya pada sudut bibir Miriana.


Tapi, dia bicara pada orang lain.


"Jadi siapa dari kalian yang mengajukan diri untuk pertama kali?"


Semua orang tahu di ruangan tersebut bahwa tawaran itu tidak untuk maksud yang benar-benar manis. Bahkan besar kemungkinan bahwa itu cuma jebakan Elios membunuh mereka.


Tidak ada orang yang cukup gila menerimanya.


Jelas Roxanne juga. Ia tak sudi harus mengajukan diri bahkan jika itu bisa jadi kesempatan. Apalagi, Elios juga sudah tahu bahwa Roxanne menjebaknya.


Tak!


Suara gelas diletakkan sedikit keras di atas meja kayu membuat mereka teralihkan. Semua orang kini memandang Graean, wanita yang sengaja membanting kecil gelas agar semua orang melihatnya.


"Maafkan saya, Tuan Muda." Graean berucap sopan dan manis. "Tapi situasi sedikit menyebalkan bagi saya."


"Karena?"


"Anda sudah berbicara panjang lebar di hadapan mereka dan sepertinya tidak ada yang cukup pandai untuk membuka mulut."


Graean menatap mereka dingin. "Apa ucapan Tuan Muda lelucon bagi kalian? Jika beliau bertanya maka tugas kalian adalah diam, begitukah kalian belajar selama ini?"


Nyaris semuanya menjadi pucat.

__ADS_1


Itu sama seperti Graean berkata dia tidak peduli apa rencana Elios, pokoknya korbankan diri karena Elios maunya begitu.


Ini bahaya. Jika tidak ada yang bicara maka salah satu pasti akan coba mengorbankan orang lain. Jika Roxanne terserang di sini, ia tak punya kekuatan untuk—


"Tuan Muda." Nyaris semuanya menahan napas ketika seorang gadis mengangkat suara.


Roxanne tidak mengenal dia siapa, tapi wajahnya menunjukkan dia berusia muda. Sekitaran usia Roxanne.


"Suara itu," gumam Elios mendengarnya. "Sanya, kah?"


"Sanya senang Tuan Muda mengingat suara Sanya."


"Aku tidak melupakan wajah bulatmu yang manis. Ada apa? Kamu mau mengajukan diri menemaniku?"


"Apa itu?"


"Bukankah istri baru Tuan Muda yang berhak lebih dulu? Dia yang paling baru dan wanita paling segar di sini. Sanya hanya berpikir Tuan Muda akan menikmati malam dengannya."


Roxanne terbelalak.


Dia mengorbankan Roxanne terang-terangan!


Mereka semua mau melihat apakah Elios membunuh istrinya dengan alasan mau menghabiskan malam, lalu menjadikan Roxanne tumbal!


Mata mereka semua, bahkan Diane, seperti berkata bahwa itu menjadi kewajiban Roxanne setelah membuat Elios tersiksa.

__ADS_1


Cih. Tentu saja tidak ada orang baik di tempat ini.


"Roxanne? Ah, istri baruku yang cantik jelita. Aku belum bisa mengingat wajahnya."


Graean langsung menjawab, "Haruskah saya minta Roxanne mendekat?"


Elios sempat diam. Cukup lama bahkan, dia terdiam dengan senyum khas memainkan ujung rambut Mariana.


Kini dari senyum itu semua sudah bisa mengetahui bahwa Elios menyimpan 'perasaan' khusus untuk Roxanne.


Terserah, gumam Roxanne kesal. Lagipula sekarang atau nanti juga tidak mengubah fakta semuanya berisiko.


"Saya bersedia." Sebelum Elios menjawab, Roxanne sudah lebih dulu berbicara. "Jika Tuan Muda ingin."


Elios tertawa kecil dan itu benar-benar aneh, sebab dia bukanlah pria yang tahu cara tertawa palsu. Dia selalu jujur memperlihatkan kebenciannya.


"Baiklah." Elios berucap seolah Roxanne yang memintanya, bukan dia yang meminta. "Hias kamar pengantin di lantai empat. Bawa Roxanne pergi untuk mandi sekali lagi."


"Kalau begitu, Tuan Muda, biar saya secara langsung memberitahu Roxanne agar tidak membuat kesalahan yang membuat Anda kesal," ucap Graean.


"Tidak." Elios kembali mengisap rokok rempahnya. "Biarkan saja Roxanne melakukannya sendiri. Wanita dan pria lahir dengan kemampuan menggoda tersendiri. Tidak perlu diajari."


Roxanne beranjak, mengikuti pelayan yang siap untuk mendandaninya sekali lagi demi malam pertama sungguhan.


*

__ADS_1


__ADS_2