
Arkas sudah bisa mendengar suara teriakan histeris Elios ketika menginjakkan kaki di lantai kurungan bawah tanah. Posisi Elios padahal cukup jauh, tapi suara jeritan pilunya terdengar bahkan bergema.
Sudah cukup lama. Sepuluh tahun lalu, dia juga melakukan hal sama pada awal-awal kematian Eirene. Arkas cuma bisa mengingatnya samar-samar. Sangat samar. Karena saat itu juga ia kehilangan akal sehat.
Tapi pilu teriakan Elios ini pertama kali terdengar saat itu, kan? Benar. Saat ... Eris mendekati Elios yang terpaku kosong.
"Apa yang kamu rasakan, Adik Kecil?" tanya Eris saat itu, menatap Elios tanpa ekspresi.
Elios yang kosong mendongak padanya. Kelopak mata dan pupil Elios bergetar, bibirnya membiru pucat.
Dengan suara yang menggigil kedinginan, Elios bergumam .... "Eri ... Eri di mana? Eri .... Aku, a-aku tidak merasakan Eri. Kakak, Eri—"
"Elios sangat mencintai Eirene, yah?"
Arkas mengingat wajah Eris hari itu. Wajah yang memancarkan kelembutan, tapi terasan dingin. Senyum yang justru hangat tapi tajam.
"Elios," panggil Eris padanya. "Eirene tidak bisa bersamamu lagi."
Dengan suaranya yang penuh kasih sayang Eris membisikkan kalimat yang mengoyak-ngoyak jiwa Elios.
"Dia memilih tempat lain untuk pergi daripada bersamamu."
Wajah Elios semakin pucat mendengarnya. Dia sudah tahu dan dia melihatnya sendiri, tapi ketika itu dibisikkan, retak di hatinya berubah jadi kepingan kaca yang pecah.
"Kamu melakukan kesalahan yang menyakitkan. Eirene tidak memaafkanmu karena itulah dia memutuskan pergi ke tempat lain."
Arkas hanya melihatnya hari itu. Hanya menyaksikan dan tidak lebih.
"Semuanya salahmu. Rasa sakit Ibu, pilihan Eirene, kesedihan saudara-saudara kita, ataupun rasa sakitmu sendiri. Semuanya salahmu."
Arkas diam sebab ia juga menyalahkan Elios.
__ADS_1
"Jadi tanggung semua kesalahan itu sebaik mungkin."
Arkas tiba di depan sel kurungan Elios bersamaan dengan pecahnya lamunan masa lalu. Ia bisa menyaksikan sosok Elios saat itu dan Elios saat ini tidak berbeda kecuali dari ukuran tubuhnya.
"AAAKKKKHHHHH!"
Dia meraung-raung, berteriak dan memberontak, ingin menghancurkan segalanya, hanya demi membuat seluruh rasa sakit itu hilang.
"Tuan Muda."
Arkas menoleh pada Medea yang entah sejak kapan berada di tempat ini. "Bibi seharusnya tidak di sini."
Wanita itu berusaha keras tersenyum, "Jika bukan saya yang mengurus anak-anak saya, maka siapa lagi yang tersisa?"
Ya, Graean sudah tidak ada jadi memang tidak ada. Tapi berbeda dari Medea yang berusaha tersenyum, Arkas tersenyum ringan melihat amukan Elios yang ditahan oleh belenggu itu.
"Eris berjanji pada Bibi lagi?" tanya Arkas.
Bohong yang terlalu jelas. Padahal Eris datang pada Arkas untuk mengatakannya. Dia bilang dia berjanji pada ibunya, tidak akan membuat beliau menangis lagi. Tapi dia bilang dia tidak tahu apa janji itu benar-benar bisa ditepati.
"Aku sangat membenci Elios karena Eirene." Arkas menikmati ketika Elios tak sadar akan apa pun, tak memikirkan apa pun, dan hanya terus gemetaran, ketakutan, marah dan bersedih atas kematian Eirene-nya.
"Tapi ...." Arkas memiringkan wajah. "Eris membenci Elios jauh lebih dalam dariku, kan?"
Arkas akan pura-pura tidak tahu bahwa sekarang Medea menangis di pelukannya.
*
Dia benar-benar mengurung Roxanne di sini. Di kamar yang indah dan sulit dijabarkan ini. Hah, melelahkan. Apa sebenarnya yang dia pikirkan?
Roxanne tak mengerti. Eris malah tertidur di sofa panjang dekat kolam, menyuruh Roxanne menggunakan kasur sesuka hatinya.
__ADS_1
Walau dia membebaskan Roxanne melakukan apa pun dan tidak memaksanya melakukan yang dia inginkan, tapi Roxanne tetap dilarang keluar.
Untuk alasan apa pun.
"Makin lama kulihat, makin dia mirip Elios." Roxanne bergumam pelan. "Kurasa aku jadi mengerti kenapa bocah itu mau mengacaukan Narendra."
Sepertinya Roxanne mulai setuju dengan Sanya untuk alasan yang sepele.
"Aku mirip dengan Elios?"
Ah, dia dengar.
"Tidak salah. Kami lahir dari rahim yang sama."
Apa?! Jadi dia saudara kandungnya?!
Eris tertawa seolah tahu bagaimana ekspresi Roxanne sekarang. "Nah, Roxanne."
Abaikan saja. Roxanne belajar dalam hidupnya bahwa mengabaikan adalah sebuah jalan keluar terbaik dari masalah.
"Kamu pernah mencintai sesuatu sampai seluruh tubuhmu sakit karenanya?" tanya dia tiba-tiba.
Roxanne tak sengaja melirik. Pertanyaan aneh itu mau tak mau membuatnya terusik. Terutama karena jawabannya adalah tidak.
Tidak ada yang Roxanne cintai sampai akal sehatnya hilang. Bahkan mungkin dirinya sendiri.
"Roxanne," panggil Eris lagi. "Bisakah kamu mencintai aku?"
Hah?!
*
__ADS_1