Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
70


__ADS_3

"Tuan Muda, ada pesan darurat dari Kastel Yasa."


Arkas langsung menghentikan gerakan tangannya yang sibuk mencoret-coret kertas. Pria itu mendongak ke pintu ruang kerjanya, pada sang istri yang membawakan pesan.


"Elios? Ada apa?"


"Tuan Muda meminta tim medis terbaik keluarga untuk segera datang. Istri ketiga belas beliau, Roxanne, jatuh dari tangga perpustakaan. Melihat dari permintaan mendesak mereka, saya menyimpulkan kondisinya sangat buruk."


Roxanne? Terjatuh dari tangga? Jangan bilang Elios memalsukan kekerasan pada istrinya?


"Kirim mereka sekarang."


"Saya tahu Anda akan berkata demikian jadi saya mengirim mereka sebelum datang. Maafkan saya sudah bersikap lancang."


"Tidak, itu sudah bagus." Elios beranjak dari kursinya, tergesa-gesa keluar dari ruangan itu. "Persiapkan helikopterku. Aku akan datang secara langsung."


Arkas secepat mungkin berjalan, khawatir jika terjadi sesuatu pada Roxanne.


Semua ini terjadi karena Dioris tidak mengawasinya. Anak itu masih dalam masa pemulihan setelah diserang oleh anak buah Elios. Jika ada dia, kejadian seperti ini pasti bisa dicegah.


Ck. Arkas menjadi kesal memikirkan bagaimana ia tak bisa melindungi orang dalam naungannya lagi.


"Tuan Muda."


Langkah Arkas yang akan memasuki helikopter langsung terhenti. Ia menoleh, menemukan Nyonya Medea, bibinya datang terburu-buru seolah dia berlari dari bangunannya.


"Bibi Medea, kurasa Elios membuat masalah lagi."

__ADS_1


"Saya mendengarnya. Jika tidak keberatan, tolong bawa saya juga."


"Tentu, Bibi." Arkas mengulurkan tangan. "Ayo."


"Aku juga!"


Arkas menoleh sambil tangannya menggenggam Nyonya Medea. "Sierra?"


"Kakak Pertama, bawa aku juga. Aku juga ingin ikut."


"Adik kecil, kamu tahu aku tidak bisa sembarangan mengizinkan kamu berada di luar."


"Bibi Medea dan Kakak Pertama juga pergi, jadi seharusnya tidak masalah, kan?"


Sebenarnya Arkas mau menolak, tapi ia merasa harus segera menemui Roxanne atau akan menyesalinya. Pada akhirnya Arkas setuju, sebab membujuk adik perempuannya mengalah itu butuh paling tidak waktu sehari.


Anak ini memang menyukai Eirene lebih dari apa pun. Tapi untuk sekarang, memastikan Roxanne adalah prioritas.


"Tapi, Kakak, bukankah itu agak kebetulan sampai istri Kakak Elios terjatuh dari tangga perpustakaan?" tanya Sierra begitu mereka masing-masing duduk di kursi helikopter.


"Entahlah. Elios punya kegilaan yang sulit dimengerti."


"Elios tidak menyembunyikan sesuatu dengan cara rendah seperti itu, Tuan Muda." Nyonya Medea membela putranya. "Bukankah Anda yang paling tahu betapa keras kepala dia?"


Ya, itu juga benar.


Elios adalah anak yang luar biasa keras kepala. Ketika dia tahu Arkas akan menghukumnya habis-habisan jika berbuat salah, dia malah lebih senang memperlihatkan kesalahan itu untuk menantang Arkas.

__ADS_1


Untuk berkata bahwa dia tidak takut dan tidak peduli.


Jika dia menyerang Roxanne lagi yang jelas-jelas dilindungi oleh Arkas, Elios akan memamerkannya penuh kebanggaan.


"Setidaknya ayo cari tahu apa yang terjadi dulu."


*


Sanya mengintip dari jendela kamarnya ketika helikopter Arkas mendarat tepat di halaman depan. Dari jauh Sanya bisa melihat Arkas turun disusul Sierra dan Nyonya Medea.


Mereka datang sejauh ini untuk Roxanne. Kalau begitu, rencana berjalan sangat baik sekalipun Sanya tidak berharap Roxanne sampai sekarat.


Gadis itu, Sanya, tak merasa bersalah.


Dia tak merasa iri atau dendam atau menginginkan sesuatu dari Roxanne. Dia hanya memanfaatkannya dan membiarkan Roxanne mengambil keuntungan juga.


"Aku tidak berbuat buruk dengan pura-pura berpihak padahal ingin menusuk." Sanya tersenyum. "Aku cuma mengajak Kakak bekerja sama dan menggunakan caraku."


Sanya tidak pernah berniat menjadi orang baik ataupun orang jahat. Gadis itu berdiri di antara keduanya, memandang keduanya tanpa rasa tertarik menjadi bagian dari mereka.


Tapi, Sanya memang memiliki niatan tertentu dengan membantu Roxanne. Hal yang sejak awal menjadi alasanya bergabung ke keluarga terbuang ini.


"Kakak sudah membuktikan Kakak cukup berguna digunakan." Sanya menutup tirai, siap berpura-pura tidak tahu apa pun. "Sekarang waktunya membuktikan kalau aku sangat berguna."


Roxanne tidak akan menyesali tindakannya hari ini. Sanya akan menjamin hal itu.


*

__ADS_1


__ADS_2