
"Kenapa Anda tersenyum?" tanya Roxanne kesal karena Arkas malah mesem-mesem tak jelas.
Dia datang dua hari setelah Roxanne menitipkan pesan pada pria kurang ajar itu, dan untuk pertama kalinya Roxanne merasa sedikit bebas dari Elios.
Hah! Sulit bernapas di sekitar Elios yang pikirannya tidak bisa Roxanne baca. Roxanne selalu berusaha untuk ingat bahwa Elios bukan pria lembut dan dia hanya berakting, jadi setiap kali Elios bersikap hangat, Roxanne malah terbebani.
"Tolong jangan tersenyum seperti itu pada saya. Anda membuat saya tidak bisa bernapas."
Arkas tertawa renyah. "Tidak. Aku hanya senang melihatmu menikmati waktu dengan Elios."
Tatapan Roxanne mendadak mati. "Anda menganggap itu lucu?"
"Tentu." Arkas malah tersenyum gembira. "Aku menyayangi semua wanita dalam naunganku, termasuk istri-istri adik bodohku."
"Menyayangi, huh?"
"Menyayangi." Arkas mengulurkan kotak perhiasan tiba-tiba. "Ambillah. Ini anting dan kalung khusus dibuat untukmu. Sebagai ucapan selamat."
Roxanne mengambilnya dengan bingung. "Selamat atas?"
"Kenapa kamu bertanya hal jelas? Tentu saja selamat karena sudah bertahan sekalipun Elios sangat menjengkelkan."
Ah, sepertinya itu memang butuh ucapan selamat yang banyak karena memang sangat berat. Tapi, memangnya harus?
"Anda ingin bilang pada saya, setelah semuanya, Anda menyayangi saya tulus sebagai adik ipar?"
"Gadis kecil, kenapa kamu terus mempertanyakan hal yang sudah sangat jelas?"
__ADS_1
Itu tidak jelas sama sekali! Makanya Roxanne bertanya!
Kasih sayang apanya yang menjebak Roxanne dengan pria psikopat macam Elios? Lagipula, setelah berurusan dengan Elios itu, Arkas pikir Roxanne percaya pada hal bodoh macam kasih sayang?
Kasih sayang mereka hanya untuk Eirene.
"Putra pertama adalah pemimpin di atas pemimpin," ujar Arkas, seraya tersenyum mengamati raut Roxanne. "Roxanne, adik ipar manisku, sebelum aku terlahir, semua orang sudah mempersiapkan kelahiranku."
Kenapa tiba-tiba?
"Sebelum aku lahir, pola pendidikan, tujuan hidup, norma-norma, adat-istiadat, segalanya sudah disiapkan untukku. Aku orang yang istimewa."
"Aku harus memegang adik-adikku, para Narendra, yang merupakan manusia-manusia angkuh sampai kadang mereka lupa diri."
Roxanne tertegun.
Benarkah?
Tidak, pasti tidak benar. Kenapa pula Roxanne harus percaya pada omong kosong itu? Elios sendiri malah membunuh istrinya, lalu mencekik Roxanne berulang kali.
Orang ini juga. Gara-gara dia menghukum Elios, Roxanne dihindari bahkan oleh Diane.
Apanya yang kasih sayang.
"Orang paling serakah akan harta dan kuasa pun bisa merindukan kasih sayang." Arkas menopang dagu, tampak termenung tulus. "Aku memiliki enam istri yang luar biasa. Dua dari istriku pernah hampir saling membunuh karena ingin menjadi Nyonya Utama Narendra, lalu sisanya seringkali membuat masalah karena keserakahan mereka masing-masing."
"Tapi, pada akhirnya, mereka senang jika aku memanjakan mereka. Mereka merasa puas jika aku membiarkan mereka duduk di pangkuanku, atau memelukku, atau aku menemani mereka naik perahu di danau."
__ADS_1
"Kamu atau siapa pun itu, aku merasa sama saja. Terlepas dari apa pun, kamu menginginkan kasih sayang."
"Berhenti menghina saya," tepis Roxanne.
"Menghina? Jadi kamu menganggap menginginkan kasih sayang itu kelemahan? Sungguh arogan." Arkas menepuk tempat kosong di sisinya, isyarat agar Roxanne pindah ke sana.
Tapi Roxanne tidak bergerak.
Arkas tetap tersenyum, diam, tersenyum, sampai akhirnya Roxanne menyerah.
Pada akhirnya Roxanne beranjak, duduk di samping pria itu.
Roxanne mendelik pada Arkas yang mengusap-usap kepalanya. Sudah ia duga dia mau melakukan ini!
"Elios berbuat gila karena dia kehilangan kasih sayang Eirene." Arkas mengusap-usap Roxanne seperti dia menganggapnya adik sungguhan.
"Tentu aku tidak berkata kamu harus memaklumi anak bodoh itu. Hanya, bahkan Elios ataupun aku menyukai kasih sayang. Karena itulah kamu dan siapa pun juga sama. Manusia adalah makhluk seperti itu."
"...."
"Bukankah aku sudah bilang di awal? Aku ingin kamu merebut hati Elios. Untuk itu bukankah kamu perlu sedikit lebih tulus?"
Roxanne tak tahu kenapa ia malah cemberut seperti anak kecil. "Maksudnya saya harus jatuh cinta duluan agar orang gila itu jatuh cinta?"
"Bisa ya, bisa tidak." Arkas menjawab penuh kesuilan. "Tapi maksudku yang utama adalah, jangan karena kamu takut termakan oleh permainan Elios, kamu jadi tidak membiarkan dirimu bersenang-senang."
Mata Roxanne hanya menatap lekat ekspresi usil Arkas.
__ADS_1
*