Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
Dia Berbahaya


__ADS_3

"Sanya."


Gadis kecil yang tengah sibuk melahap mochi es krim buatan koki Narendra itu hanya merespons Roxanne dengan gumaman. Dia terlalu sibuk mengunyah mochi sampai pipinya menggembung.


Benar-benar menipu jika hanya dilihat sekilas betapa lucunya dia.


"Aku tidak pernah menanyakan ini," Roxanne ikut meraih mochi berwarna hijau di piring, menggigitnya pelan, "tapi bagaimana caramu menjadikan Elios sebagai penguasa?"


"Kakak bukannya mau membunuh dia?" tanya Sanya sambil tetap mengunyah mochi.


"Aku hanya bertanya bagaimana. Masalah aku ingin apa itu urusan lain."


Gadis itu menelan seluruh isi makanan di mulutnya. Dia mendongak, terlihat berpikir keras cuma untuk menjawab, "Hmmm, benar juga. Aku masih bingung."


"Hah?"


"Ada banyak cara. Membunuh Arkas adalah cara yang kupikirkan, tapi setelah bertemu Eris, aku juga memikirkan cara lain yang mudah dan sulit."


Roxanne mengunyah lamat-lamat mochi di mulutnya sambil menatap Sanya lelah. "Jika kamu membunuh Arkas, memangnya secara otomatis Elios jadi penguasa?"


"Tentu saja TIDAK." Sanya tertawa keras. "Elios itu berada di urutan ke lima. Dia putra kedua dari ibunya, putra ketiga dari ayahnya, putra kelima dari seluruh generasi Narendra sekarang. Kalau mau menjadikan dia penguasa, harus membunuh empat orang sebelumnya."


"Tapi itu aturan Narendra," jelas Sanya. "Sayangnya Elios sekarang bernama Yasa, jadi kalau tidak mengembalikan nama Narendra-nya, urutan Elios akan dihapus dan penguasa setelahnya adalah putra keenam. Kecuali, jika seluruh putra Narendra generasi ini dibunuh yang mana itu sangat MUSTAHIL."


Roxanne sedang berusaha menahan mochi keluar dari lambungnya. Dengan kata lain, gadis kecil ini barusan menjelaskan, bahwa sebenarnya mereka berada di jalan buntu?


Waktu mereka cuma sampai kastel baru Elios selesai tapi jika ingin mewujudkan semua keinginan itu, mereka setidaknya harus mengembalikan gelar Elios dari Arkas secara paksa di mana Arkas itu dilindungi ketat oleh Eris yang menakutkan; atau mereka membunuh semua Narendra pria yang mana itu tidak akan pernah mungkin dilakukan oleh satu gadis perawan mungil dan wanita yang dipandang sebagai boneka saja?

__ADS_1


Aku ingin mencekiknya. Roxanne berusaha keras menahan diri pada Sanya. Aku mau membuat dia tersedak racun kalau bisa. Dasar iblis sialan.


"Kakak harus belajar lebih santai pada keadaan. Dunia ini terus berputar seiring berjalan waktu, Kakak. Jadi biarkan saja yang mau jadi terjadi. Begitulah."


Mendadak dia sangat bijak sambil mengunyah mochi buru-buru seolah besok adalah kiamat.


Roxanne menghela napas. Beranjak dari tempat duduknya untuk pergi mengambil sisir.


"Malam ini giliran Kakak menemani Elios lagi?" tanya Sanya.


"Begitulah." Makanya Roxanne berencana memakai minyak di rambutnya sebelum mandi agar lebih lembut.


"Tapi, Sanya," Roxanne kembali bersama sisir dan botol minyak rambut, "bukankah kamu tidak mau melayani Elios? Sepertinya kamu baik-baik saja dengan itu."


"Aku tidak mau, tapi jika terpaksa ya terpaksa."


Roxanne tidak akan pernah mengerti dengan isi pikiran anak ini. Tapi yah, terserah saja. Lupakan saja soal bagaimana Roxanne hampir mati loncat dari tangga cuma demi menggagalkan malam pertama Sanya, yang akhirnya juga terjadi.


"Ohya, Kakak."


"Hm?"


"Aku dengar malam ini seorang Putri Narendra akan datang."


"Memang itu penting bagiku?"


"Entahlah. Tapi aku punya firasat buruk tentang dia."

__ADS_1


Roxanne terlihat tidak peduli, membalur minyak beraroma harum ke rambutnya. "Firasat apa?"


"Firasat yang berkata kalau dia orang berbahaya. Kakak, begini-begini aku sering disebut cenayang saat masih kecil."


"Heh, benarkah?" jawab Roxanne tidak peduli.


Urusan Putri Narendra bukan urusannya. Mau dia penting mau dia tidak penting, selama dia tidak datang ke hadapan Roxanne maka bagi Roxanne orang itu sangatlah tidak penting.


*


Sanya tertawa kecil saat meninggalkan kamar Roxanne dengan perut kenyang. Semua camilan buatan koki Narendra memang tidak ada duanya. Sampai rasanya Sanya mau memuja keluarga ini demi makanan mereka.


Tapi yah, lupakan soal itu. Kemarin saat Sanya dan Elios menghabiskan malam—tentu saja tidak saling menyentuh sama sekali—orang itu memberitahunya.


"Adik perempuan Arkas akan datang besok malam." Begitu kata Elios.


"Adik perempuan? Adik kandung atau adik tiri atau sepupunya?"


"Adik kandungnya." Elios menghisap asap tanaman herbal ke mulutnya dan mengembuskan ke udara. "Dia berbahaya."


"Berbahaya dalam arti apa dan apa hubungannya dengan Sanya?" tanya Sanya penasaran mengapa dia harus dipedulikan.


"Bukan untukmu tapi boneka mainanmu."


Sanya menopang dagu, langsung tersenyum. "Itu berarti sangat berbahaya, yah."


"Aku tidak mau Roxanne terluka jadi pastikan dia bersiap."

__ADS_1


Sayang sekali. Roxanne tidak mau bersiap. Tapi, mungkin menyenangkan melihat dia dan Askala berhadapan tanpa persiapan.


*


__ADS_2