Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
114


__ADS_3

Eris jarang terkejut dalam hidupnya. Mungkin karena ia adalah pria seperti itu.


Bahkan saat Eris membunuh Nernia hingga sekujur tubuhnya berlumuran darah, Eris tidak merasakan terlalu banyak hal. Ia hanya terluka harus melakukannya, tapi tidak ragu ataupun ingin mundur sebab itu tugasnya sebagai Narendra. Untuk Arkas.


Tak ia sangka keterkejutan yang langka itu bisa didapatkan dari Roxanne.


"Aku harap kalian mati saja."


Kalian. Kata kalian itu rasanya bukan hanya Elios dan Eris saja.


Tapi kenapa? Eris tidak merasa memperlakukan dia sangat buruk. Bahkan ia yakin kalau Nernia masih ada, wanita itu pasti akan tersenyum sambil berkata, "Anda sepertinya sangat baik hati pada wanita, Tuan Muda, padahal Anda selalu keras pada saya."


Cara Eris memperlakukan Roxanne bahkan lebih istimewa. Ia sungguh-sungguh menganggap Roxanne wanita yang istimewa.


"Mati saja."


Eris menutup wajahnya dengan satu tangan dan tertawa. Lucu. Entah kenapa itu lucu sekaligus aneh.


Dia sangat lucu dan menarik. Dia juga menggemaskan dan manis. Eris semakin menyukainya setiap kali ia mendengar Roxanne berbicara. Tapi dia justru membenci Eris.


"Kalian mati saja."


Aku sejak awal memang punya hobi aneh, yah? Eris menghela napas. Aku malah terangsang.


Nernia mengubahku jadi pria aneh.


*


Ini menyebalkan.

__ADS_1


Sanya menghela napas seraya mendongak ke arah jendela di mana ia yakin Roxanne terkurung. Padahal sekarang adalah waktu yang tepat Roxanne memperbudak Elios, tapi Eris justru menghalanginya.


Eris, pria itu, dia berbeda dari Arkas. Ada sesuatu dalam jiwanya yang berbeda dari Arkas.


Aku tidak tahu apa dia tahu sesuatu tentangku atau tidak, tapi perasaan waktu itu, aku tahu dia serius.


Monster yang melilit Sanya ketika bersama Eris, itu adalah jeritan instingnya yang berkata akan mati di tangan pria itu. Dia mau membunuh Sanya karena melihat Sanya sebagai 'benda' berbahaya.


Nampaknya alasan dia berkeliaran di sekitar Roxanne di awal memang untuk mengawasi Sanya lewat Roxanne.


"Mau bagaimana lagi." Sanya melanjutkan langkahnya. "Aku harus bertindak untuk Kakak."


Tadinya Sanya tidak mau terlalu mencolok dan ingin Roxanne saja. Bagaimanapun, Roxanne sudah terlalu mencolok jadi memang lebih baik dia saja. Tapi kalau Eris menahannya, pria itu tidak akan melepaskan Roxanne paling tidak sampai dia tahu Sanya menyerah.


"Naviah."


"Sanya." Istri Elios lainnya, Naviah, beranjak dari meja tempat dia belajar.


"Kondisi Elios sedang buruk sekarang." Sanya bersandar pada dinding luar kamar Naviah sembari berbicara. "Pergilah menenangkannya."


"Eh?"


"Pergilah."


Naviah tersentak bukan karena perintah itu melainkan karena tatapan tanpa emosi dari Sanya.Dia selalu membuat Naviah takut sejak awal dia datang.


Seperti Roxanne yang dibantu oleh Diane di awal, Naviah pernah bertugas mengajari Sanya berbagai hal sebagai istri baru Elios. Tapi Sanya selalu menakutkan. Dia selalu berbeda dari apa yang orang lihat. Mata yang mati, senyum yang hampa, rasa dingin di sekitarnya membuat Naviah takut bahkan jika usianya lebih tua dari Sanya.


"Tuan Muda kudengar sedang mengamuk," ucap Naviah lirih. "Jika mendekat, dia bisa membunuhku. Jadi aku—"

__ADS_1


"Naviah."


Tangan Naviah gemetar dan ia tak mau melihat Sanya.


"Elios terikat sekarang. Matanya juga tertutup rapat. Tidak ada risiko seperti itu jadi pergilah. Tenangkan dia setidaknya sampai dia bisa berpikir lagi."


"...."


Sanya mendongak kosong pada langit di atas sana. "Padahal aku sudah bilang pergi. Tiga kali."


Rasa takut itu merayap di sekujur tubuh Naviah. Sebelum Sanya berkata sesuatu lagi, Naviah buru-buru pergi mengambil haorinya, siap untuk pergi.


Setidaknya kalau Elios terikat, berarti Naviah akan baik-baik saja, kan?


"Bagaimana dengan Mariana? Dia akan marah kalau aku bertindak tanpa izin," ucap Naviah ragu.


"Itu urusanku." Sanya memejam. "Berpura-puralah jadi Kakak Roxanne. Tuan Muda tidak boleh tahu itu kamu."


Sebuah botol obat terbang ke arah Naviah dan gadis itu menangkapnya.


Itu adalah obat pemberian Arkas pada Roxanne yang Sanya curi sebelum meledakkan kastel. Semua orang berpikir bahwa hanya Elios dan Graean serta dua pengawalnya yang tahu mengenai obat itu.


Jadi jika Elios meminumnya, setelah sadar dia pasti akan mengira pemberi obatnya tetap Roxanne.


"Sekarang," Sanya bergumam lepas memastikan Naviah pergi, "aku harus bagaimana agar bisa bertemu Kakak?"


Sanya harus berbicara secara langsung dengan Roxanne. Harus.


*

__ADS_1


__ADS_2