Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
35. Itu Menyakitkan


__ADS_3

Roxanne terkejut melihat seorang gadis kecil berambut pink fanta tahu-tahu berlari masuk ke kamar, melompat ke kasur dan mendarat di pelukan Elios.


Dia tertawa sangat cerah hingga wajah cantiknya terlihat menggemaskan. Terlebih, rambutnya dibagi dua dan masing-masing diikat ke atas. Membuat gadis itu benar-benar terlihat seperti barbie.


"Hehehe, Kakak Elios. Kakak Elios."


Dia adiknya Elios?


"Sierra." Elios balas memeluk anak itu sekalipun terlihat kewalahan. "Adik kecilku. Bagaimana sekarang kamu tumbuh sebesar ini, hm? Di mana tupai manisku yang menggemaskan?"


"Masih aku!" Anak itu tak sungkan duduk di pangkuan Elios. Tersenyum sangat suka ketika pipinya dicubit-cubit. "Kakak, aku rindu Kakak! Sangat! Sangat, sangat, sangat!"


"Oh, benarkah?" Elios mengecup pipi adiknya. "Aku pun merindukanmu, Bayi."


Ibunya Elios tertawa melihat mereka. "Nona Muda, tolong ingat kalau kakak Anda yang nakal itu sedang sakit. Beritahu dia untuk beristirahat."


Ekspresi Sierra tambah menggemaskan saat matanya membulat dan bibirnya membentuk huruf O. "Benar! Kakak, ayo beristirahat agar cepat sembuh!"


"Aku sedang melakukannya."


Sierra tertawa geli ketika Elios memeluknya erat. Tapi tawa itu berubah jadi bingung sewaktu pandangannya menangkap sosok Roxanne.


"Siapa dia?"


Ibunya Iaros langsung tersentak. Lupa sejenak bahwa anaknya sekarang sedang mengalami guncangan.


Tidak. Kalau Sierra tidak mengakui Roxanne sebagai Eirene, Iaros bisa kalap mencekik adik tirinya.


"Apa maksudmu, Tupai?" Elios mencubit dagunya. "Tentu saja itu Eri. Ah, jangan berpikir mengganggu Eri dulu. Dia sedang sakit."

__ADS_1


"Elios—"


"Oh, benarkah?" Sierra tersenyum. "Sudah lama tidak melihat Kakak Eirene, jadi aku lupa. Tapi tidak terlalu penting karena aku lebih suka bersama Kakak."


Elios tersenyum manis. Dia tidak akan pernah masalah selama Eirene tidak diusik. Dan memang dalam Narendra, cara saudara bersikap satu sama lain itu tergantung bagaimana kesenangan mereka saja.


Di sisi lain, Nyonya Besar menghela napas lega karena Sierra langsung peka.


"Nona Muda, kalau begitu tetap di kamar ini dan berbincang dengan Elios. Saya akan memanggil pelayan membawakan camilan unruk Anda."


"Baik, Bibi." Sierra menjawab manis. "Kakak, berbaringlah sambil mengusap-usap kepalaku. Aku merindukan usapan Kakak."


"Tentu. Kemarilah."


Roxanne hanya diam, berpura-pura tertidur ketika Sierra mengambil tempat di tengah ranjang, memeluk Elios yang langsung mengusap-usap kepalanya.


Dia hanya bisa mencintai Narendra. Dia hanya bisa bersikap baik pada Narendra.


"Tuan—Eli." Roxanne bangkit. "Aku ingin ganti baju sebentar, apa boleh?"


"Biar kuantar—"


Sierra menarik lengan Elios. "Kakak Eirene bisa berjalan sendiri. Sekarang Kakak Elios harus fokus padaku saja. Kalau tidak, aku marah!"


Elios tertawa pasrah. "Baiklah. Tapi, cepat kembali, Eri."


Semoga mereka menghabiskan waktu dengan baik agar Roxanne tidak perlu terlalu cepat kembali.


Ia keluar dari kamar itu dan akhirnya bernapas lega. Sayangnya baru saja Roxanne melangkahkan kaki, terdengar suara percakapan antara Graean dan ibunya Elios.

__ADS_1


"Untuk sementara, biarkan saja." Itu suara Nyonya Medea. "Elios anak yang cerdas. Sekalipun dia tidak bisa melepaskan Eirene, lambat laun dia akan sadar kalau semuanya cuma ilusi."


"Baik, Ibu."


"Jaga dia baik-baik, Graean."


"Tidak perlu khawatir. Anda tahu saya bahkan akan memberi jantung saya jika itu diperlukan."


"Tentu saja. Saya hanya bisa percaya pada kamu."


Ternyata hubungan mereka dekat. Dari suaranya pun Nyonya Medea tidak berbohong. Dia sungguh-sungguh mempercayai Graean mampu mengurus Elios sebaik dirinya sendiri.


"Tapi ini sedikit ganjal mau dipikir bagaimanapun," ucap ibunya Elios. "Bahkan kalau Elios tidak bisa lepas dari Eirene, kenapa dia mengira Roxanne itu Eirene? Anak itu tidak pernah berhalusinasi terlalu berlebihan sebelumnya."


Gawat. Kenapa secepat ini orang-orang peka bahwa itu janggal? Kalau sampai ketahuan, Roxanne pasti akan diusir dari tempat ini.


Ia sudah bukan mempermalukan tapi bahkan mempermainkan Tuan Muda (mantan) Narendra.


"Saya juga berpikir begitu." Graean menjawabnya tenang. "Roxanne menyembunyikan sesuatu. Setidaknya saya yakin mengenai itu."


Sial.


"Tapi, Ibu, jangan terlalu khawatir. Sebaiknya untuk sekarang kurangi kunjungan Anda. Itu juga membebani Anda melihat Tuan Muda berhalusinasi mengenai Nona Muda."


"Ya. Itu menyakitkan."


Roxanne buru-buru pergi dari sana tanpa suara.


*

__ADS_1


__ADS_2