Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
Kegilaan Sanya


__ADS_3

Begitu Sanya datang menyerangnya, Arkas sempat membeku oleh kekuatan ayunannya. Itu tidak masuk akal. Lengan kecil itu, bagaimana bisa sekuat ini?


Suara pedang saling menangkis langsung terdengar. Arkas tidak kalah ataupun lemah, namun pria itu dibuat berulang kali tak percaya pada pergerakan Sanya.


Kecepatan, kekuatan, pola penyerangan, segalanya liar. Bukan sekadar serangan yang dilakukan karena emosi atau tanpa pertimbangan.


Tubuh Arkas terlempar oleh tendangan Sanya yang bertubuh sangat mungil. Tapi Arkas bahkan tak punya waktu meringis, langsung melompat menghindari tebasan Sanya.


"Kalau terus bermain-main," Sanya berputar, menendang wajah Arkas kuat-kuat, "kamu bisa mati tanpa sadar."


Darah segar keluar dari mulut Arkas. Memang benar ia belum sepenuhnya serius, tapi bagaimana bisa Sanya melukainya begini?


"Lakukan lebih serius, Arkas." Sanya melempar sejumlah pisau kecil.


Arkas langsung berguling menghindarinya.


"Hmmm, begitu." Sanya memiringkan wajah. "Kamu mau menangkapku hidup-hidup?"


Setelah dia memperlihatkan semua ini, dia pikir Arkas akan mengubur rahasianya? Jelas ia harus tahu dari mana asal gadis menakutkan ini.


"Itu percuma." Sanya kembali berlari menerjang. "Semuanya sudah kubunuh."


Arkas tersenyum menangkis pedang Sanya. "Gadis kecil, menurutmu aku percaya?"


"Kalau begitu sebelum kamu mati biar kuberitahu." Sanya melompat menghindari pedang Arkas. "Namaku Sanya Abkariza."


Abkariza? Tapi itu nama ....


"Benar. Nama warisan dari Pemimpin Narendra, Trika Narendra, yang nama aslinya adalah Bintang Abkariza."

__ADS_1


Arkas terbelalak. Kalau benar dia keturunan Trika maka seharusnya dia Narendra!


Pegangan Arkas pada pedangnya seketika mengendur. Tapi itu hanya sesaat sebelum ia kembali memegang kuat, menahan serangan Sanya tiba-tiba.


"Jangan menatapku seperti itu. Aku bukan keturunan Narendra."


Arkas menggigit lidahnya.


Jangan bilang Eris tahu ini? Jangan bilang karena dia tahu Sanya adalah keturunan Ibu Pendiri Narendra, dia mau Arkas menangkapnya hidup-hidup?


Dia selalu memberiku tugas yang menyiksa, pikir Arkas kesal.


"Hentikan." Arkas menatap Sanya tegas. "Aku tidak menangkat pedang pada orang yang berbagi darah denganku."


"Aku mengangkat pedang pada orang sepertimu," balas Sanya tidak peduli.


Arkas membuang pedangnya sendiri. Ketika Sanya tetap mengayunkan pedang, siap menebasnya, Arkas menangkap pergelangan tangan gadis itu, memutarnya ke lantai.


Arkas berhenti bergerak. Tapi ia masih menakan Sanya dengan lututnya.


"Pilihanmu cuma membunuhku atau aku bunuh diri," ancam gadis itu. "Tentu saja, tujuanku itu membunuhmu."


Arkas memicing. "Kenapa ada keturunan Ibu Pendiri di luar Narendra? Seharusnya anak haram Trika Narendra hanya Iaros."


"Karena nasabku memang dari Iaros."


Sepertinya anak ini selalu bisa membuat Arkas terkejut. Dia anak haram Iaros? Tapi seharusnya tidak mungkin. Iaros tidak pernah memakai nama Abkariza dan dia menghabiskan hidupnya melayani Lissa Narendra.


"Lepaskan atau benda ini kutelan."

__ADS_1


Arkas melepaskannya sekalipun ia curiga Sanya berbohong. Jika dia benar keturunan Trika, bahkan kalau dia tidak bernama Narendra, Sanya adalah keturunan dari wanita terhormat dalam Narendra.


Arkas tidak bisa melukainya sama sekali.


"Sesuai dugaan dari penerus Narendra." Sanya tersenyum. "Bijaksana dan sangat baik hati."


Arkas mengerutkan kening. "Di mana keluargamu? Kenapa kamu menyusup ke Kastel Elios padahal bisa mengakui langsung pada kami?"


Jika dia mengaku dan terbukti benar, Pemimpin akan langsung mengumumkan bahwa Sanya adalah anaknya.


"Arkas." Sanya meludahkan sesuatu ke tangannya, menunjukkan pil racun yang tadi dia katakan. "Aku disiksa karena kalian."


Apa?


"Sejak lahir, telingaku hanya mendengar tentang kalian. Aku adalah kerabat Narendra. Aku adalah keturunan dari penguasai terhebat. Sebagaimana Trika menjinakkan Narendra dua ratus tahun lalu, aku juga pasti bisa melakukannya."


Arkas terbelalak bukan semata karena cerita itu melainkan ekspresi kebencian tak terbendung di mata Sanya.


"Narendra, Narendra, Narendra. Aku mendengar nama kalian sampai setiap hari muntah karena muak," ucap gadis itu penuh kebencian. "Nah, Arkas, kamu jelas tahu bagaimana pelatihan istri-istrimu, kan? Bagaimana mereka terpilih jadi istrimu dari sekian perempuan di peternakan."


Arkas mengerjap pucat.


"Mereka semua disiksa. Diminta berlatih pagi hingga petang, sempurna dalam segala hal, tidak banyak bersuara ketika tulangnya dipatahkan, agar mereka bisa dipilih jadi budak bergelar istri kalian, Narendra."


Mata Sanya berbinar gila.


"Aku disiksa lebih keras, karena aku keturunan Trika. Aku terus disiksa siang malam, diminta mengingat Trika setiap detik, sampai aku menerobos batas kegilaan. Hanya karena seorang wanita yang bahkan tidak kukenal dua ratus tahun lalu! Hanya karena itu!"


"Dan satu hari aku tiba-tiba berpikir!" Sanya kembali mengangkat pedangnya.

__ADS_1


"Kalian Narendra dan Abkariza kenapa tidak mati saja? Bagiku, kalian sangat mengganggu jadi pergi dan bangun kerajaan di neraka saja."


*


__ADS_2