Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
66


__ADS_3

Seolah dia tahu akan ketakutan kecil Roxanne, Sanya memejamkan mata tenang. Gadis kecil itu berkata, "Tenanglah karena aku tidak berencana mengancam. Aku datang untuk bicara dari hati ke hati pada Kakak."


Kening Roxanne berkerut tajam. "Orang yang mengorbankan orang lain berkata mau bicara dari hati ke hati?"


"Mengorbankan? Aku tidak mengorbankan Kakak."


Rasanya darah Roxanne mendadak jadi panas. "Dengar, Bocah."


Roxanne berhenti bersikap sopan. "Pertama, berhenti menyebutku kakak karena kamu bukan adikku dan aku benci seseorang menganggapku kakak. Kedua, sejak kamu mengajukan namaku, aku benar-benar sudah sangat membencimu."


"Tapi aku tidak," jawab dia singkat dan nampak tidak peduli.


Tentu saja sikap itu membuat Roxanne berang.


Nyaris saja Roxanne berteriak menyuruh dia enyah sekarang juga, tapi bom lebih dulu dijatuhkan.


"Aku mau membantu Kakak menguasai Elios."


"Apa?"


"Aku cukup tahu Kakak menginginkan apa. Kakak mementingkan kekayaan dan kekuasaan Elios agar Kakak bisa berhenti melakukan sesuatu."


"Kakak tidak suka pada keputusan orang yang menjual Kakak, jadi Kakak mau memiliki segalanya agar tidak ada lagi yang menyuruh Kakak melakukan sesuatu yang menyebalkan."


Roxanne mendadak tersekat di depan gadis itu.


Bagaimana bisa ... bagaimana bisa orang yang tidak pernah ia temui mengucapkan semuanya begitu lancar? Seolah-olah dia membacanya, bukan menebak saja.

__ADS_1


"Lalu setelah itu, Kakak sedikit berubah. Kakak sepertinya mau memperbudak Elios secara pribadi, karena Kakak benci padanya sejak dia melukai Kakak. Kakak juga sedikit lebih kuat daripada pertama kali datang. Kakak sudah tidak takut ataupun khawatir pada nasib Kakak sama sekali."


Siapa anak ini? Kenapa dia melakukan ini? Apa maunya? Siapa yang menyuruh dia?


Roxanne mendadak dipenuhi ketakutan akibat ucapan tanpa dosa seorang gadis perawan.


"Kakak tipe yang terlihat bisa ditindas, rela bersujud tanpa harga diri, mungkin juga rela dilecehkan dan akan melakukan apa pun tanpa pandang bulu."


"Tapi sebenarnya Kakak itu pendendam dan tidak suka jika sesuatu terjadi diluar keinginan Kakak. Itu sifat yang bertolak belakang dari sikap Kakak sendiri, tapi itu menarik."


".... Apa maumu?" Roxanne harus segera mengusir anak menakutkan ini. "Kamu marah padaku? Karena aku menyuruh Tuan Muda memilih kamu?"


"Jadi begitu. Kakak melakukannya? Memang sangat pendendam."


Apa?! Roxanne pikir dia datang karena itu!


"Tepikan soal hal tidak penting, lalu bagaimana? Kakak mau bekerja sama? Akan kubantu mewujudkan keinginan Kakak."


Yang menakutkan, anak itu hanya memiringkan wajah tanpa kekecewaan. "Sayangnya tidak bisa."


"Maksudmu?"


"Hanya Kakak yang memenuhi standar."


"Standar?" Maksudnya standar Narendra?


"Kenapa tidak mau? Padahal menjadi Nyonya Utama itu berarti memiliki keseluruhan Narendra, bukan hanya Elios."

__ADS_1


Tunggu, apa yang dia bicarakan? Saat ini mereka sedang membicarakan Elios, kan? Kenapa dia membawa-bawa Narendra?


"Nama keluarga Tuan Muda itu Yasa, bukan Narendra."


"Karena itulah," Sanya menjawab sangat santai, "kembalikan saja jadi Narendra."


"Hah?"


"Apa Kakak benar-benar berpikir peraturan Narendra itu mutlak? Tidak, itu dibuat-buat oleh Narendra sendiri. Mereka mematuhinya sendiri demi kepentingan mereka tapi bisa diubah jika memang mau. Entah soal nama keluarga Elios ataupun soal siapa Tuan Muda Pertama. Semuanya bisa diubah."


Anak ini berbahaya. Roxanne salah sudah berurusan dengannya walau tidak secara langsung.


Dia terlalu berbahaya. Diane benar. Ada alasan kenapa Mariana pun menghindari dia.


"Mengendalikan Elios seperti anjing itu tidak bisa dilakukan dengan cinta."


Sanya kembali memuntahkan ucapan tenang yang terdengar menakutkan bagi Roxanne.


"Jika ingin membuat dia menggonggong sungguhan, Kakak harus berubah. Kakak sekarang terlihat seperti kain lusuh yang menjijikan, karena itulah Elios tidak tertarik sama sekali."


"Diam."


"Contohnya seperti menguasai mayat Eirene, seperti yang dilakukan Arkas. Dengan begitu, Elios bahkan akan menjilat tanah."


"Diam!"


"Kenapa?" Sanya membuka matanya yang begitu polos itu. "Padahal Kakak sedang berpikir bahwa aku punya kekuatan dan kegilaan mewujudkan mimpi Kakak."

__ADS_1


Siapa anak ini sebenarnya?!


*


__ADS_2