
Roxanne masih tak punya tenaga untuk melakukan apa-apa pada ciuman kasar itu. Ia bahkan bersusah payah untuk bernapas karena tubuhnya terlalu lemah. Tapi ketika satu per satu tetesan air mengenai kulitnya, disusul gemetar yang tak wajar dari tubuh kekar itu, Roxanne merasa ia bahkan lebih kuat daripada Eris sekarang.
"Aku tidak mau," racau Eris di bibirnya. "Aku tidak mau kehilanganmu. Aku tidak mau."
Kenapa justru dia meracau seperti itu padahal Roxanne baik-baik saja? Apa karena dia tak mau Roxanne lupa sebentar pada kondisinya?
Tapi memang Roxanne bisa apa? Ia pun berusaha keras mengingat dan bukan seperti dirinya mau.
"Eris—"
"Aku tidak mau, Roxanne." Tangan Eris memcengkramnya, terus menangis tak berdaya. "Aku tidak mau."
Ketika Roxanne bingung akan maksud perkataan itu, Eris sepenuhnya memahami apa yang ia racauakan.
Eris tidak meracau pada Roxanne namun dirinya sendiri.
Rasa itu datang lagi. Kesadaran itu datang lagi. Dia menyuruh Eris membunuh Roxanne seperti Nernia agar kekacauan di depan mata mereka tidak terjadi.
Eris tahu ini. Kedatangan Askala sudah menjadi isyarat bahwa persidangan akan berlangsung. Elios akan meminta istrinya kembali agar dia bisa membunuhnya dan jika Eris ingin menentang itu, maka Eris harus meminta perubahan peraturan dalam Narendra yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
Itu ibarat neraka bagi Eris yang bahkan memilih membuang istri dan matanya sendiri agar peraturan tetap kokoh. Mustahil ia melanggar peraturan hanya demi Roxanne, tapi hatinya juga berkata mustahil menyerahkan Roxanne pada Elios.
__ADS_1
"Bunuh dia," bisik iblis yang bersemayam dalam dirinya selama ini. "Kamu tetap mencintai dia sekalipun membunuhnya, kan? Seperti Nernia. Dengan begitu dia tidak akan disiksa oleh Elios. Kamu membunuhnya demi melindunginya. Karena kamu mencintainya."
Eris meringis kesakitan. Menolak susah payah bisikan itu. Tapi justru semakin ia menolak, semakin besar rasa sakit dalam jiwanya.
"Eris—"
"Aku tidak mau." Eris mendekap tubuh wanita itu. "Aku tidak mau kehilangan lagi."
Tapi mendadak, dalam kegelapan yang ia lihat, Eris justru menemukan iblis itu berwujud Askala tengah berteriak padanya.
"Kamu berkhianat!"
"Aku tidak," racau Eris kehilangan kendali. "Aku tidak berkhianat. Aku menjaga Arkas semampuku. Aku bersumpah."
"SUDAH KUBILANG TIDAK!"
Roxanne tersentak mendapat bentakan tanpa alasan jelas. Karena segala hal itu hanya di kepala Eris, Roxanne tentu tidak mendengarnya. Apa yang Roxanne lihat hanyalah Eris berbicara sendiri, menggigil sendiri, berkata tidak dan tidak entah untuk apa.
"Aku tidak. Aku bilang tidak," ucap Eris di tengah tangisannya. "Aku tidak berkhianat. Aku tidak."
Roxanne tak tahu ada apa tapi pelan-pelan ia mengulurkan tangan, mendekap punggung Eris yang begitu kokoh tapi terasa rapuh.
__ADS_1
"Aku di sini," bisik Roxanne. "Tenanglah. Aku di sini."
Eris menggeleng. "Aku tidak berkhianat." Masih saja dia berucap sama. "Aku tidak meninggalkan Arkas. Aku bersumpah. Aku bersumpah. Aku tidak menertawakan kematian istriku. Aku tidak berkhianat."
"Eris—"
"Aku mencintaimu." Eris mencengkram kuat pakaian Roxanne dan terisak-isak. "Aku mencintai Nernia. Aku bersumpah aku mencintaimu. Kamu dan Roxanne, aku benar-benar mencintai kalian berdua."
"Eris, tenangkan dirimu—"
"Aku tidak bisa." Eris sudah tidak sadar tentang Roxanne bahkan sekalipun dia memeluknya. "Aku tidak bisa membiarkan Roxanne pergi ke tempatmu. Itu terlalu, Sayang. Terlalu jauh. Aku tidak bisa menjangkau kalian jika sejauh itu."
Tak tahu kenapa tapi Roxanne menggigit bahu Eris, sangat kuat hingga dia mengerang tajam. Dan ketika dia merasakan rasa sakit itu, Roxanne memastikan seluruh tenaganya memeluk Eris tanpa sisa.
"Aku tidak pergi ke tempat Nernia," bisik Roxanne. "Tidak akan. Aku tidak mau. Berhenti menangis dan lihat aku, bodoh."
Gemetar di tubuh Eris mendadak redam dan semakin menghilang. Pria itu meraba wajah Roxanne, seolah dengan cara itulah dia melihatnya.
"Roxanne."
"Ya." Roxanne mengangguk. "Ini aku, milikmu, jadi jangan menangis."
__ADS_1
Eris justru kembali menangis, namun kali ini dengan napas memburu lega.
*