Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
Aku Lelah


__ADS_3

"Askala." Arkas mengetuk pintu kamar adiknya untuk kesekian kali. "Ayo bicara baik-baik."


Hening.


Perempuan itu pasti tidak tidur dan mungkin belum tidur sama sekali sejak kemarin, tapi kamarnya terdengar sangat hening. Sejak dulu, Askala memang selalu seperti ini.


Dia terlihat bijaksana menyerupai Arkas, padahal sebenarnya dia emosional dan tidak suka berpikir terlalu panjang. Setiap kali merasa marah, Askala menghancurkan sesuatu lalu mengurung diri karena merasa dia berbuat bodoh.


Tapi, Askala juga tidak pernah berhenti.


"Askala, aku tidak menyalahkanmu sama sekali. Ayo keluar."


Arkas tidak bisa berkata adiknya salah sekalipun Roxanne harus operasi. Bahkan jika menyakiti Roxanne, Arkas tidak bisa melukai adiknya.


"Adikku, kamu berharap kakakmu berbuat apa? Jauh lebih baik marah padaku daripada mengurung diri. Ayah dan Ibunda khawatir padamu."


Pintu kamar tiba-tiba terbuka, menampilkan wajah marah Askala. Tangannya terulur ke wajah Arkas, mencakarnya.


"Aku benci padamu!" Askala berteriak tertahan. "Berpura-pura datang membujuk seolah peduli padaku, tapi juga tidak berhenti membuat kesal! Siapa juga yang butuh dibujuk, hah?! Berhenti datang dan bicara omong kosong!"


Arkas menatap sesaat darah dari pipinya.

__ADS_1


Tak peduli berapa kali Askala marah padanya, dia hanya selalu berteriak tentang masa lalu. Dia tidak benar-benar peduli pada Roxanne. Wanita itu cuma alasan agar Askala marah padanya.


"Eris seharusnya membunuhmu saja!"


Arkas diam.


"Dia membuang-buang waktunya setia pada orang tidak berguna sepertimu! Bukan Nernia yang harusnya mati tapi kamu! Tidak berguna, tidak berpendirian, hanya sibuk menyayangi semua orang tapi hasil dari kasih sayangmu itu nol besar! Bahkan Elios jauh lebih berguna darimu!"


Semakin diam Arkas justru semakin terlihat amarah Askala.


Dia kehilangan ketenangan dan merampas belati dari saku pakaian Arkas. Belati itu diarahkan pada Arkas tapi tertahan oleh tangan Eris.


"Berhenti pura-pura melindungi dia!" teriak Askala murka. "Dasar pembohong! Padahal kamu yang paling mau melenyapkan orang ini! Gara-gara dia, istrimu harus jadi korban! Seharusnya bunuh saja dia!"


"Diam!"


"Aku begini agar kamu tidak meraung-raung. Jangan menjadi Elios kedua yang gila karena saudaranya mati. Rasanya tidak menyenangkan." Eris merebut belati itu. "Lagipula, Arkas pada akhirnya milikmu, kan? Mau sebagai saudara atau apa pun—"


"Eris." Arkas menegur ucapannya. Tidak mau sama sekali pada pembicaraan cinta sedarah. "Menjauh. Askala urusanku."


"Sebaiknya kamu yang menjauh. Ada banyak hal perlu dilakukan di ruang kerjamu." Eris mendorong Askala masuk dan menutup pintu bahkan sebelum Arkas bisa mencegahnya.

__ADS_1


Suara pemberontakan Askala di dalam sana terdengar sebentar lalu hilang seolah tak pernah terdengar. Arkas yang tertinggal di depan pintu hanya bisa menatap kosong segalanya.


Tidak berguna, gumam pria itu, mengingat ucapan Askala barusan.


Roxanne menyebutku begitu juga, kurasa.


Semuanya salah Arkas. Ia masih kurang sempurna hingga ada banyak hal yang salah terjadi.


Arkas sudah terbiasa. Menjadi pemimpin dari keluarga sebesar ini berarti menanggung setiap harapan mereka. Dan selalu, harapan itu tidak pernah seringan saat diucapkan di bibir.


Roxanne berharap Arkas memberinya kedamaian, Sierra berharap Roxanne menanggung dosanya berpura-pura jadi Eirene, Eris berharap Arkas menjadi pemimpin sejati sampai pemimpin selanjutnya lahir, tumbuh besar dan siap menanggung tanggung jawab ini; lalu Elios berharap Arkas hancur saja, keluarga ini berharap Arkas memberi yang terbaik pada kepemimpinannya, Askala berharap Arkas menyerah pada cintanya, Eirene berharap Arkas menerima kepemimpinannya.


Dan masih banyak lagi.


"Aku lelah." Arkas sungguhan lelah setiap waktunya.


Namun ia bahkan tidak bisa berhenti. Ia tidak bisa beristirahat. Eris tidak akan pernah lagi bisa melihat sesuatu demi dirinya, tanggung jawabnya memenuhi tujuan dari kematian Nernia dan Eirene.


"Kurasa aku mengerti kenapa Eris tertarik pada Roxanne." Arkas berlalu. Tersenyum kecil memikirkan adik iparnya itu. "Dia selalu dikendalikan oleh seseorang. Tertipu dan tertipu di berbagai tempat."


Mungkin itu membuktikan kebodohan dan betapa sempit sudut pandangnya. Namun itu juga membuktikan betapa polos dan naif hatinya.

__ADS_1


Bagi Arkas dan Eris, orang seperti Roxanne itu orang yang hidup damai. Setidaknya dibandingkan hidup mereka sendiri.


*


__ADS_2