Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
Aku Merindukanmu


__ADS_3

Roxanne menghela napas lelah. "Bukankah saya sudah bilang jangan mendatangi saya lagi?"


Tapi Eris hanya diam di pintu kamar.


"Saya rasa Tuan Muda Pertama sudah berjanji tidak memberitahu Anda tempat ini."


Dengan mudahnya Eris membalas, "Aku tidak perlu diberitahu oleh Arkas untuk tahu tempatmu."


Yah, Roxanne sudah menduganya, sih. Tapi Roxanne tetap tidak peduli. Ia berjalan, bermaksud melewati Eris.


Roxanne baru saja melangkahkan kakinya ke luar pintu, saat tiba-tiba Eris menariknya. Sepasang lengan memeluk tubuh Roxanne erat-erat.


"Aku merindukanmu." Eris bergumam. "Sampai kapan kamu mau bersikap dingin? Sampai kapan kamu mengabaikan aku?"


Tatapan Roxanne hanya dingin.


"Aku akan minta maaf sebanyak yang kamu inginkan. Aku bisa berlutut bahkan mengemis agar kesalahanku kamu ampuni, jadi tolong jangan terlalu lama."


Lucu sekali. Orang yang membuat iblis seperti Sanya tidak nyaman baru saja memohon pada boneka yang dipermainkan Sanya. Apa aku sehebat itu, huh? Wah wah, aku mulai bangga, gumam Roxanne pada dirinya namun lebih terkesan sinis.


"Apa menyenangkan bermain dengan saya?" Roxanne menoleh. "Tuan Muda, Anda tahu? Dulu seseorang pernah berkata pada saya bahwa kita hanya akan tertarik pada seseorang yang sederajat atau berada di atas kita. Dan yang berhak memiliki hanyalah mereka yang sederajat."


"Roxanne."


"Dengan kata lain, orang kaya hanya pantas dengan orang kaya. Orang tampan hanya pantas dengan gadis cantik. Sistem seperti itulah yang diajarkan pada saya, tapi dulu saya menolaknya. Saya berkata itu tidak adil."

__ADS_1


Roxanne tertawa.


"Tapi sekarang saya setuju." Wanita itu menatap tajam Eris yang hanya bisa terpejam melihat kegelapan. "Memangnya orang sehebat Anda pantas dengan gadis buruk rupa, berotak bebek, berhati bangkai seperti saya? Sangat tidak pantas jadi cepat menjauh dari saya."


"Roxanne." Eris tiba-tiba menarik tangannya hingga otomatis pelukan itu lepas.


Posisi Roxanne berbalik, namun ia lebih terkejut saat Eris meletakkan telapak tangan itu di atas tulang rusuknya.


"Aku mungkin pembohong. Benar, aku sangat sering berbohong bahkan pada diriku." Tangan Eris menekan kuat tangan Roxanne di sana. "Tapi memangnya aku siapa sampai bisa mengatur debaran jantungku sendiri?"


Roxanne bisa merasakan. Sesuatu yang berdetak di atas batas normal dalam tubuh Eris.


"Aku setidaknya yakin aku tidak berbohong." Eris kembali memeluknya. Mendekap hangat Roxanne seolah ingin lewat sentuhan itu perasaannya tersalurkan. "Aku merindukanmu, sangat. Aku memikirkanmu berulang kali."


"Lalu?" Roxanne mendongak. "Lalu kenapa?"


"Kalau jantungmu berdebar karenaku, lalu kenapa? Kalau kamu merindukanku, lalu kenapa? Beritahu aku, Dwi."


Eris melepaskan tangannya dari Roxanne. "Kamu tidak memaafkanku, kah?"


"Memaafkan? Memang kesalahanmu apa?" Roxanne membalas lebih dingin. "Kamu tidak merasa berbuat salah padaku, kan? Jadi kesalahan apa yang harus dimaafkan?"


"Jadi kamu ingin aku merasa bersalah?"


"Untuk apa? Buang-buang waktu." Roxanne berbalik pergi. "Ini cuma soal aku tidak mau lagi menghabiskan waktu sia-sia denganmu. Bukan soal salah atau tidak. Jadi berhenti datang untuk minta maaf."

__ADS_1


Roxanne mempercepat langkahnya. Toh kalau ia sudah sampai di bangunan Elios nanti, Eris juga mustahil mengganggunya.


Yah, andai Roxanne bisa sampai. Sayangnya ia kembali terhalangi. Kali ini oleh seorang wanita berambut merah yang tersenyum penuh kesan menakutkan. Siapa?


"Kamu tidak memberiku salam, Roxanne?"


Salam? Memang dia siapa?


"Saya tidak mengenal Anda."


"Tidak mengenalku, yah?" Perempuan itu melangkah mendekati Roxanne. Tingginya yang sedikit lebih di atas Roxanne membuat dia bisa bebas menatap rendah.


Permusuhan dirinya tidak disembunyikan. Roxanne baru pertama kali bertemu orang seperti ini selain Elios.


"Aku—"


"Askala."


Roxanne mengerjap melihat Arkas berlari menghampiri mereka dengan napas terengah-engah. Nampaknya dia berlari cukup jauh untuk datang ke sini.


"Arkas." Perempuan itu menatap Arkas kesal. "Aku bukan sesuatu yang harus setiap saat kamu kejar."


Baiklah. Itu sudah cukup membuktikan. Dia pasti saudaranya Arkas.


"Tidak. Aku bilang padamu jangan berkeliaran hari ini." Arkas memegang tangan wanita bernama Askala itu. "Ayo pergi. Ini sudah waktunya beristirahat."

__ADS_1


Askala tiba-tiba melihat Roxanne. "Tapi urusanku belum selesai."


*


__ADS_2