
Walau persidangan telah selesai, masalah sesungguhnya belum selesai. Tapi mungkin masalah sesungguhnya bukanlah sesuatu yang sebesar itu.
Masalah sesungguhnya adalah ego dan dendam masing-masing.
Arkas menarik Eris bersamanya untuk naik, pergi menemui Roxanne. Ketika Arkas berdiri di hadapannya, menatap mata Roxanne, Arkas menyadari bahwa ia benar-benar tidak berguna sekalipun Arkas sudah berusaha keras.
"Aku tahu Eirene berharap aku lebih bijaksana," aku Arkas padanya. "Aku tahu dia tidak ingin aku membuang Elios dari keluarga ini. Aku melakukannya karena aku marah dan kemarahanku menyeret kalian semua."
Arkas mengingat percakapan pertamanya dengan Sanya. Dia datang dan berkata pada Arkas bahwa Arkas dan Elios sama saja. Meski Arkas tidak membunuh siapa pun seperti serangga, namun Arkas juga tidak benar-benar melindungi siapa pun, terutama istri-istri Elios.
"Aku berbuat salah, Adik Kecil. Aku berbuat banyak kesalahan. Tolong, maafkan Kakak kalian ini dan beri aku kesempatan membuktikan kegunaanku kedepan."
Sanya tersenyum. "Sanya tidak ingin jadi adikmu."
"Sanya—"
"Sanya tidak ingin bicara dengan siapa pun selain Kakak Roxanne." Gadis itu berlalu, pergi begitu saja ke arah Pemimpin Utama.
Dia tampak mengatakan sesuatu dan Arkas melihat Ayah mengangguk padanya. Setelah itu, Sanya menghilang bersama Askala.
"Apa aku setidak berguna itu?" tanya Arkas mau tak mau.
Tapi Roxanne menggeleng. "Sanya membenci Narendra dan seharusnya kamu tahu."
__ADS_1
Itu benar juga. Arkas mengangguk menerimanya. Merasa kalau sekarang lebih baik ia memanfaatkan waktu ini untuk istirahat sebab masalah lainnya bisa disimpan untuk nanti.
Arkas menepuk punggung Eris dan meninggalkannya bersama Roxanne.
Saat hanya tersisa mereka berdua, Eris tersenyum lemah.
"Aku tertampar hari ini," bisik pria itu seolah dia tak menyangka. "Pikiranku hanya dipenuhi tentang tiga pilihan. Membuangmu pada Elios, memilihmu dan melawan Arkas, atau membunuhmu."
Roxanne tahu. Ia tahu sebab Eris bergumam sangat lama kemarin malam. Dia ketakutan dan terus ketakutan. Walau butuh waktu untuk paham, Roxanne setidaknya sudah tahu apa yang perlu ia tahu.
"Kamu merencanakan ini?" Eris mau tak mau berpikir begitu.
Tapi sayangnya Roxanne menggeleng. "Apa aku terlihat bisa merencanakan sesuatu yang luar biasa?"
Sudah ia bilang, ia mengikuti Sanya. Ia berbicara sambil memikirkan Sanya dan kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya.
"Kamu membebaskan dirimu sendiri," gumam Eris. "Dan sekarang aku merasa tidak pantas meminta apa pun."
"...."
"Aku yakin beberapa waktu lagi Arkas akan mengeluarkan persetujuan perceraian kalian. Semua istri Elios, kecuali Diane, pasti akan dibebaskan. Kalian bisa kembali ke tempat kalian atau pergi ke mana pun yang kalian mau. Kamu tidak perlu melihat neraka lagi."
Roxanne menatap wajah Eris lekat-lekat. Mungkin rasa lemas membuat Roxanne mendadak ingin duduk, atau karena hal lain, tapi wanita itu menarik Eris untuk ikut duduk bersamanya.
__ADS_1
Ada sesuatu yang sejak kemarin Roxanne berusaha untuk tahan.
"Kamu menyesal membunuh Nernia?"
Eris menggeleng. "Itu harus."
"Aku tidak bertanya tentang peraturan, Eris. Aku bertanya tentang hatimu. Kamu menyesal membunuh Nernia?"
Sekali lagi, Eris menggeleng. Tapi dia menjawab berbeda.
"Aku merindukan Nernia," jawabnya gamang. "Saat aku mencabut mataku untuk Arkas, untuk meredam pemberontakan, aku menahan sakitnya bukan karena Arkas."
"...."
"Aku menahannya karena Nernia. Mungkin jauh di hatiku, Roxanne, aku menganggap semua ini hukuman karena aku melukai Nernia. Tapi, aku tidak ingin dia kembali hidup. Aku menolaknya sekalipun aku merindukan dia."
Eris mengulurkan tangan untuk menggenggam tangan Roxanne.
"Aku tidak akan memintamu menjadi istriku sekarang. Jika kamu seorang manusia dan bukan ternak, monster sepertiku tidak cocok denganmu."
"...."
"Tapi tebak apa yang baik dari itu?" Eris beranjak. "Ini membuktikan bahwa istri Narendra memang tidak seharusnya dari kalangan wanita biasa. Kalian terlalu manusiawi untuk menerima kehidupan neraka kami."
__ADS_1
*