
"Roxanne!" Elios datang dan berlutut padanya. Seolah-olah dia berusaha melindungi Roxanne dari Askala.
Tentu saja, pemandangan itu membuat Roxanne terkejut. Lebih lagi, sebuah vas tiba-tiba melayang dan mengenai kepala Elios.
"Hah, berhenti bertingkah!" teriak Askala, jauh berbeda dari bayangan Roxanne mengenai dia sosok yang dingin. "Berpura-pura peduli pada istrimu padahal kamu hanya membayangkan orang mati! Jika saja kamu tidak bertingkah, Arkas tidak perlu bertemu kalian!"
Askala mengamuk sambil terus ditahan oleh pengawalnya. Sementara itu, Roxanne bergetar melihat darah jatuh dari kepala Elios.
Kenapa? Kenapa dia melindungi Roxanne? Padahal seperti kata Askala, dia hanya pria menyedihkan yang dihantui oleh saudari kembarnya.
"Kamu terluka?" Elios, tanpa penutup matanya seperti biasa, memegang kedua lengan atas Roxanne hati-hati.
Tatapannya terlihat lelah sekaligus rapuh. Seolah dia merasa bersalah. "Ayo pergi."
Mulut Roxanne mendadak kering. Mau tak mau sekarang ia mengingat semua usaha Elios. Dia yang mencekik Roxanne, tapi dia juga yang meminta maaf atas semua itu.
Dia menutup matanya karena tak mau lagi Roxanne tipu, berpura-pura menjadi Eirene padahal gadis itu sudah mati. Tapi, saat kebakaran itu terjadi, Elios juga melindunginya. Mencari Roxanne dan memastikan ia terluka atau tidak.
Dia ... dia sungguhan merasa bersalah? Tapi setelah semuanya, benarkah dia merasa bersalah?
"Roxanne."
Roxanne tersentak kaget.
"Ayo pergi." Elios membantunya sekalipun dia sendiri meringis sakit. "Ayo. Bergegas."
__ADS_1
Roxanne menganci mulutnya. Diam mengikuti Elios sementara Askala terus menghancurkan seluruh isi kamar Roxanne.
Hanya karena gelang, gelang yang bahkan diabaikan oleh Arkas, Askala melakukan semua ini?
*
"Nyonya Roxanne terluka parah, Tuan Muda." Dokter yang memeriksa sekaligus memberi penanganan pada Roxanne pun memberitahu Elios. "Kemungkinan besar ada retakan baru pada tulang beliau. Saya memasang penahan sementara menunggu hasil rontgen."
Pantas saja sangat sakit. Kekuatan tangan Askala bukan kekuatan perempuan biasa. Tinggal sedikit lagi, dia benar-benar akan mematahkan tulang Roxanne.
Pemikiran itu membuat Roxanne melemah. Rasanya ia benar-benar tidak bisa lagi bertahan di dunia bernama Narendra ini.
Setiap kali Roxanne berusaha, ada saja sesuatu menghalanginya. Menertawakan Roxanne seperti pecundang.
"Hei." Sebuah tangan mendarat lembut di puncak kepala Roxanne. Memaksanya berpaling pada senyum Elios. "Semua baik-baik saja."
"Luka Anda?" tanyanya ragu.
"Arkas melarangku diobati. Lagipula pendarahannya sudah berhenti."
Roxanne menunduk. Akhirnya tak bisa menahan air mata itu.
Mungkin seharusnya jauh lebih awal ia percaya pada Elios. Lagipula sudah sejak awal ia percaya bahwa Elios tidak mungkin minta maaf, merendah, menyayanginya jika itu semua cuma kebohongan.
"Istriku." Elios mengusap air mata di pipi Roxanne. "Jangan menangis. Aku tahu semuanya berat, tapi semua akan kembali normal begitu kastel kita selesai."
__ADS_1
Kita? Maksudnya setelah nanti mereka kembali, Roxanne akan hidup lebih baik? Benarkah?
Tidak. Memang harus begitu, kan? Tolong. Tolong beri kesempatan ia berhenti merasakan semua ini.
"Kemarilah." Elios membuka lengannya, membawa Roxanne ke pelukan hangat yang terasa tulus. "Ukir dalam hatimu, aku bersumpah pada Tuhan bahwa aku akan menjagamu. Kalian semua, istri-istri, aku bersumpah akan menjaga kalian. Aku bersumpah."
Roxanne mencengkram pakaian Elios dengan satu tangannya yang tak terluka.
Entah kenapa, saat itu ia berteriak kencang, menangisi segalanya.
*
"Semua sudah berkumpul?" Mariana memastikan seluruh wajah istri Elios hadir, kecuali Roxanne dalam ruangan itu.
Karena kejadian Askala tadi, semua istri Elios dipindahkan ke ruang bawah tanah. Tentu saja bukan di bagian sel, melainkan di ruangan biasa yang dapat digunakan sebagai kamar tidur tapi setidaknya meminimalisir kemungkinan Askala datang.
"Ini perintah dari Tuan Muda." Mariana membuka pertemuan sekaligus langsung pada intinya. "Bersikap baiklah pada Roxanne."
Sanya mengangkat tangan dengan wajah polos. "Kenapa Tuan Muda memberi perintah?"
Di ruangan ini, yang tahu wajah asli Sanya hanyalah Diane. Elios tak memberitahu Mariana karena sejak awal Elios tidak percaya padanya, lalu Diane tak memberitahu siapa pun karena itu tidak penting menurutnya.
"Dengarkan saja. Tuan Muda ingin kita semua mengajak Roxanne berbicara dan menerimanya sebagai adik kita," kata Mariana. "Mengerti? Buat dia percaya bahwa kita menderita hal sama."
Diane hanya menatap kosong udara, memikirkan situasi ini.
__ADS_1
Nampaknya Elios sudah berada di puncak permainannya.
*