Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
56


__ADS_3

Ada debaran jantung yang sangat mengganggu. Dan itu adalah debaran jantung Roxanne.


Itu bukan debaran karena tak sabar menikmati keindahan wajah Elios sekali lagi dari dekat.


Itu pun bukan debaran karena gugup akan pengalaman pertamanya.


Itu debaran mengganggu, sekali lagi.


Sebab Roxanne tak tahu situasi macan apa yang akan ia hadapi setelah semuanya.


Dari dalam tempat tidur yang tertutup tirai cukup tebal, Roxanne samar-samar melihat Elios masuk bersama pelayan.


Elios melepaskan luaran pakaian beratnya itu, meski yang tersisa nampak masih cukup banyak.


"Redupkan sedikit lampu dan matikan sisanya selain di tempat tidur."


Roxanne dari dalam langsung merasa seluruhnya gelap selain dari pencahayaan di dekat kasur, itupun redup.


Bayangan Elios terlihat mendekat dan seorang pelayan datang mengikutinya.


"Tuan Muda, Anda ingin saya menuangkan minuman Anda?"


"Tidak. Pergilah. Itu sudah cukup."


"Baik. Selamat menikmati malam Anda."


Elios berhenti di dekat tempat tidur, menyibak tirai yang menyembunyikan Roxanne. Pria itu tersenyum kecil, duduk di sofa depan tempat tidur bersama sebotol anggur merah di tangannya.


"Roxanne, kemarilah. Ini anggur istimewa untuk malam istimewa."


Roxanne memicing. Melirik ke arah pintu yang terhalangi tirai, lalu pada Elios kembali.


"Saya tidak mau," jawab Roxanne terus terang. "Saya tidak suka alkohol."

__ADS_1


Sekarang, dia mau apa? Mencekoki Roxanne dengan alkohol itu sambil berkata kalau Roxanne sudah besar kepala hanya karena sedikit beruntung?


Atau apa? Dia mau merobek mulut Roxanne?


"Benarkah?" Elios malah menuangkan anggur ke gelasnya sendiri, memenuhinya hingga nyaris tumpah.


Ketika Roxanne berpikir dia benar mau mencekokinya, ternyata Elios menenggak itu sendiri. Dia meminumnya sampai tiga per empat gelas, lalu mengerang.


"Anggur lima puluh tahun memang berbeda."


Apa sebenarnya yang psikopat ini pikirkan?


"Haruskah saya melepaskan pakaian sekarang?" Roxanne tak menyembunyikan sikap kasarnya. "Ah, pakaian Anda juga? Berhubung mata Anda tertutup."


Bahkan sekarang Elios masih memakai penutup itu.


"Lakukan yang kamu sukai, Istriku. Ini malam pertamamu."


Dia benar-benar gila, gumam Roxanne ngeri. Mendengar Elios bicara lembut tanpa menyebut nama Eri itu sungguh menakutkan.


Sungguh tidak berguna karena Elios juga tidak melihatnya.


"Sekalipun Anda berpura-pura tidak mengingat apa pun," kata Roxanne seraya terus menanggalkan lapis demi lapis pakaian, "saya tidak akan mengikuti Anda. Saya mengingat jelas saya mencekik Anda dan berkata Anda tidak berguna. Saya tidak berubah pikirkan."


Elios malah tertawa. "Aku mengingatnya, Istriku."


Cih. Dia yang tertawa sangat sulit ditebak daripada dia yang emosional.


Sebenarnya apa yang merasuki dia sekarang?


"Pria tidak berguna." Elios mengangkat gelasnya tinggi-tinggi, menuangkan isi dari sisa gelas itu ke kepala Roxanne.


Tentu saja, Roxanne terkejut. Ia spontan memejamkan mata, mengira Elios akan langsung mencekiknya lagi saat tiba-tiba sesuatu yang tak terduga Roxanne rasanya.

__ADS_1


Lidah panas seseorang menggelitik aliran anggur di pipi Roxanne.


"Istriku," bisik Elios, "akan kubuktikan aku bukan pria tidak berguna."


"Apa yang—"


Belum sempat Roxanne puluh dari keterkejutan, bibir Elios sudah mendesak bibir Roxanne.


Jantungnya kembali berdetak tak nyaman. Roxanne merasakan sebuah bahaya datang dari tindakan Elios ini, tapi ia tak tahu apa. Ia tak bisa menduga apa.


Kenapa Elios yang emosional itu tidak marah ketika Roxanne bersikap kasar? Kenapa dia mencium Roxanne penuh kelembutan?


"Ah."


Elios tersenyum. "Ketemu," ucapnya sebelum menggigit kuping Roxanne penuh godaan "Titik lemah pertamamu."


Wajah Roxanne memerah. Bahkan sekalipun ia benci pada Elios, Roxanne belum pernah melakukan pelayanan sejauh ini.


Dan itu membuat semuanya buruk ketika wajah Elios di depan matanya.


Dia benar-benar sangat tampan sampai Roxanne mau merobek wajahnya itu, agar tidak teralihkan dari kebencian pada kekaguman.


Sialan!


"Ada apa?" Elios menjilati bibirnya sendiri lepas meninggalkan tanda di leher Roxanne.


Meski matanya tertutup, dia seperti tahu ekspresi apa di wajah Roxanne sekarang. "Roxanne, sentuh aku di mana pun. Aku mengizinkannya."


"Tidak perlu." Roxanne mengeraskan otot-otot tangan dan kakinya. "Saya tidak sedikitpun berminat pada Anda."


Elios justru tertawa segar, menyibak rambutnya ke belakang seolah tahu saat dia melakukan itu, dia terlihat seperti makhluk tak nyata.


"Sayangnya," Elios tersenyum di bibir Roxanne, "aku ini terlalu tampan untuk ditolak olehmu."

__ADS_1


*


__ADS_2