Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
42. Dunia Untuk Eirene


__ADS_3

Roxanne dikusai kemarahan besar untuk waktu yang cukup lama. Bahkan sangat amat lama. Tapi setelah itu, pukul tiga pagi, Roxanne justru menangisi kebodohan dirinya.


Kenapa sebenarnya ia marah? Memang siapa yang melakukan semua ini padanya jika bukan Roxanne sendiri?


"Dasar bodoh." Roxanne berdiri di balkon kamar, meremas kepalanya frustrasi. "Aku yang berdiri di sini dengan kakiku, kepala pula aku berteriak seperti orang egois? Diam? Harusnya aku yang diam."


Jika kebodohan tadi membuatnya harus terdorong jatuh lagi, memang siapa yang harus berusaha memperbaiki kalau bukan Roxanne?


Kalau saja Elios merasakan kejanggalan bahwa Roxanne bukan Eirene, lalu dia membunuh Roxanne sekarang, memang siapa yang rugi kalau bukan Roxanne?


"Aku membencimu, Eri." Roxanne mencengkram palang balkon, bergumam penuh kebencian. "Aku membencimu. Padahal sudah mati, tapi segalanya harus sulit karena kamu seperti hantu. Sialan!"


Nyaris bersamaan dengan ucapan itu, Roxanne terkesiap.


Sebuah tangan besar tiba-tiba memegang rahangnya dari belakang, dan satu tangan lainnya memperlihatkan belati tajam.


"Elios?" Napas Roxanne hampir berhenti berembus. Ia sempat berpikir itu Elios yang mendengarnya mengutuk Eirene.


Tapi dugaan itu segera tertepis. Sebab kalau dia Elios dan dia mendengar Roxanne menghina Eirene, maka dia tidak akan memegang rahang Roxanne selembut ini.


Sentuhannya tidak sakit. Itu hanya mengancam.


"Kamu," Roxanne menggigit bibir, "kamu yang sejak tadi mengawasi aku, kan?"


Aroma citrus samar-samar tercium darinya ketika orang itu seperti mendekat, sekaligus mendekatkan belati ke wajah Roxanne.


"Jangan menghina Nona seperti kamu mengenalnya." Suara dingin itu membelai telinga Roxanne. "Aku mungkin tidak tahu kapan lidahmu terpotong karena dosa."

__ADS_1


Roxanne menahan diri untuk tidak menggertak giginya.


Ada apa sebenarnya dengan dunia akhir-akhir ini? Apakah Roxanne masuk ke dunia yang khusus diciptakan untuk Eirene saja?


Hanya dia yang boleh dihargai, hanya dia yang boleh dicintai, hanya dia yang boleh disayangi, hanya dia yang boleh dihormati.


Hanya orang itu saja!


"Maaf." Roxanne bukanlah Eirene. Jadi kepada siapa pun ia harus minta maaf. "Aku—"


"Tutup mulutmu, menjijikan."


Roxanne merasakan panas di dadanya. Harusnya Roxanne tak menangis tapi saat ini perasaannya sedang sangat kacau sampai ia tak mampu bernapas, apalagi menahan tangis.


"Iri pada Nona seakan kamu pantas mendapatkan perlakuan sama. Membenci Nona hanya karena Nona menjalani hidupnya dengan baik sementara kamu tidak."


"Berhenti minta maaf dengan hatimu yang menjijikan."


Roxanne mendadak tertawa.


Ah, sudahlah.


Persetan dengan segalanya.


Dunia ini hanya milik Eirene dan hanya tercipta untuk Eirene, jadi mengapa Roxanne harus repot-repot berusaha? Tidak akan pernah ada hasil bahkan ketika Eirene sudah terkubur dalam neraka.


"Bunuh saja," bisik Roxanne. "Kamu pikir hidupku cukup berharga untuk peduli? Bunuh saja."

__ADS_1


Sekalipun Roxanne mati, Ibu bisa bertahan hidup sendirian. Mungkin Ibu sebenarnya sudah tidak peduli pada Roxanne.


Tidak ada seorang pun di dunia ini yang menganggap Roxanne penting, jadi dia pikir Roxanne akan peduli pada kematian?


"Bunuh saja," ulang Roxanne seraya berusaha menoleh. Ia tersenyum lebar. "Mungkin aku bisa bertemu Eirene itu dan menyembahnya secara langsung."


Ketika akhirnya Roxanne menemukan wajah itu, ia memastikan bahwa memang dia adalah pria di pohon tadi.


Wajahnya yang tampan masih nampak di antara kegelapan. Entah siapa dia, tapi sepertinya dia sangat mencintai Eirene itu hingga matanya memancarkan kebencian pada Roxanne.


"Aku benci pada Eirene," bisik Roxanne di depan wajahnya.


Pria itu sudah terlihat mau mencekik Roxanne. Tapi anehnya dia menarik diri, mengantongi kembali belatinya.


"Kembali ke tempat tidurmu dan jangan berteriak pada Tuan Muda lagi. Itu sama sekali bukan tindakan Nona Eirene."


"Aku bukan Eirene, sayangnya."


Pria itu menarik kerah kaun tidur Roxanne, mencengkramnya seolah dia mencengkram kerah baju seorang pria.


Tanpa sedikit terlihat peduli bahwa Roxanne adalah wanita, istri dari Elios.


"Dengar, murahan." Urat-urat lehernya sampai ingin meledak karena emosi. "Tuan Muda Arkas cuma memberimu obat. Itu keputusanmu menggunakannya atau tidak. Kamu yang memilih jadi Nona jadi setidaknya jangan permalukan Nona."


Lalu dia mendorong Roxanne untuk melepaskan kerahnya, menarik tudung untuk menutup dirinya sebelum dia naik ke pembatas, dan melompat turun ke bawah sana.


Roxanne cuma terdiam kosong, tak tahu harus merasakan apa lagi.

__ADS_1


*


__ADS_2