Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas

Nikah Paksa : Istri Ketiga Belas
58


__ADS_3

"Kenapa saya harus ikut Anda bekerja?"


"Karena aku ingin."


Sederhana sekali dan menyebalkan.


Roxanne berusaha keras menahan kesal di wajahnya saat ia mengikuti langkah Elios, menuju ke ruang kerja. Setelah dua hari Roxanne tak dibiarkan keluar dari kamar, akhirnya ia bisa berjalan di lorong lagi, tapi Elios tidak membiarkan Roxanne pergi ke mana pun.


Pria itu menyuruhnya ikut, dengan alasan menemani dia bekerja.


"Anda ingin tetap bekerja memakai penutup mata?"


Elios tertawa. "Aku bisa bekerja tanpa pergi ke ruang kerja, jadi kenapa penutup mata kecil bisa menghalangiku, hm?"


Orang mencurigakan ini masih sulit untuk Roxanne tebak keinginannya.


Tapi pada akhirnya Roxanne harus patuh, jadi lebih baik ia mengamati dari dekat Elios saja. Dengan begitu pula Roxanne bisa sedikit mencari kelemahannya selain Eirene.


Mereka pun tiba di depan pintu berwarna hitam yang mencolok. Elios mendorong pintu itu terbuka, memunculkan sebuah ruangan super luas.


Pria itu pergi ke meja kerjanya, lalu duduk dan mengisyaratkan Roxanne mendekat.


"Duduk di sampingku."


Seorang pria tiba-tiba datang membawa kursi ke sisi Elios, kursi untuk Roxanne bisa duduk.


Pria lain datang bersama setumpuk map di tangannya, diletakkan di atas meja Elios.


"Sudah cukup lama tidak melihat kalian." Elios berbicara pada dua pria itu. "Sapa dua orang kepercayaanku, Roxanne. Daniel dan Zack. Anggap saja mereka seperti sekretaris."

__ADS_1


"Lebih ke arah budak," ucap pria yang tadi ditunjuk sebagai Zack. "Elios, aku rasa kamu sangat menikmati waktu bersama istrimu sampai lupa kalau kamulah yang harusnya bekerja keras."


Sikap macam apa itu?


Dia memanggil Elios dengan namanya secara langsung? Seorang Elios yang arogan dan hanya suka disebut tuan muda itu?


"Itulah keuntungan menjadi bos." Elios menjawab ringan, anehnya terlihat akrab dengan mereka berdua. "Aku kan sudah memberi kalian makan empat kali sehari. Gaji kalian juga dinaikkan oleh istriku. Bukankah protes justru menunjukkan kalian tidak tahu terima kasih?"


Roxanne terkejut ketika Daniel memukul kepala Elios dengan dokumen.


"Berhenti bertingkah," omel dia seperti seorang kakak. "Ini semua pekerjaan yang repot-repot kami sisakan untukmu, jadi pastikan selesai."


"Hah." Elios menghela napas dan menoleh pada Roxanne. "Maklumi mereka, Istriku. Dua orang ini tidak mengerti bagaimana bersikap selayaknya budak pada majikan."


Roxanne masih terlalu terkejut.


Tapi sekarang orang di hadapan Roxanne ini terasa berbeda.


Dia berbicara selayaknya bicara pada teman. Tampak alami dan tidak dibuat-buat pula.


Dua bawahannya, Zack dan Daniel juga terlihat tidak takut pada Elios sama sekali.


"Nyonya Muda." Mendadak, Daniel membungkuk di sisi Roxanne. "Anda ingin minum sesuatu? Pelayan tidak terlalu sering masuk ke tempat ini, jadi jika ingin sesuatu katakan pada saya."


"Jaga matamu dari istriku, Daniel."


Daniel tersenyum hangat. "Abaikan saja orang cemburuan itu, Nyonya. Anda ingin minum cokelat? Atau kopi dengan cokelat?"


Imi pertama kali Roxanne diberi kebaikan seperti ini. Seseorang tersenyum, dengan senyum yang berbeda dari Arkas, dan rasanya benar-benar tulus.

__ADS_1


Roxanne sampai tak sadar jantungnya berdebar, lengah akan sekitar.


"Aku ...."


"Minta apa pun." Elios mengulurkan tangan ke pipi Roxanne. "Aku lebih senang bekerja jika istriku menikmati makanannya juga."


Apa ini?


Sebenarnya apa ini?


*


"Hah." Elios melepaskan penutup matanya sesaat setelah Roxanne pergi. Dia harus mandi sebelum Elios kembali ke kamar dan bercinta dengannya lagi.


Ekspresi hangat yang tadi menghiasi wajah Elios kini hilang, hanya tersisa kesan dingin dan jengkel.


"Dia cukup tangguh. Sudah tiga hari dan dia masih waspada." Elios menerima uluran tisu basah dari tangan Daniel. "Ah, menjijikan."


"Itu salahmu sudah mencekiknya duluan." Zack menggigit apel sambil mengangkat kedua kakinya ke atas meja. "Tentu saja dia jadi merasa kamu kerasukan jin karena bersikap baik."


"Suaminya yang tampan ini bersikap lembut. Bukankah seharusnya dia menangis terharu?" ucap Elios tanpa menyembunyikan kesan mengejek.


"Tapi kurasa dia akan mudah ditangani." Daniel mengambil tisu basah bekas tangan Elios dan membuangnya ke tempat sampah. "Perempuan seperti itu akan lemah pada ketulusan."


Tentu saja. Makanya Elios memakai cara ini.


"Omong-omong," Elios melirik wajah kedua bawahan sekaligus teman baiknya, "Dioris masih berkeliaran di sekitar kastelku?"


*

__ADS_1


__ADS_2