
Eh? Apa ini? Kenapa Roxanne berada di sini?
Mata wanita itu menatap pantulan dirinya di depan cermin, memakai gaun mewah yang bahkan tidak ada bandingan dengan gaunnya di kastel Elios.
Rasanya setelah mengerjap, Roxanne berpindah tempat ke dunia lain. Dituntun ke depan sebuah kamar yang ketika pintunya terbuka, kalian melihat surga.
Taman bunga berbagai warna mengelilingi kamar besar itu. Kupu-kupu beterbangan di sekelilingnya, seperti berada di alam sungguhan. Di sisi kanan kamar terdapat kolam besar yang ditengahnya terdapat kolam yang lebih kecil bersusun mengalirkan air turun ke bawah. Ikan-ikan berenang di airnya.
Lalu, di sisi kiri sebuah ranjang raksasa ditutupi tirai, dan di dekatnya terdapat sofa di mana Eris sekarang tengah duduk.
Diane pernah membantah perkataanku soal kamarku mewah. Roxanne hanya bisa cengo melihat kamar itu. Tapi sepertinya sekarang aku pahan.
Kamarku adalah tempat sampah dibanding kamar ini.
"Silakan, Nyonya." Pelayan mengisyaratkan Roxanne duduk di sofa seberang Eris. "Kami menyiapkan teh madu untuk Nyonya, tapi jika ada sesuatu yang inginkan, tolong jangan sungkan mengatakannya."
Roxanne terpaku pada Eris. Dandanan dia sekarang mirip dengan Elios saat sedang berpakaian megah. Hiasan mawar di mana-mana, pakaian tebal nan rumit tapi indah.
"Apa maksud Anda?" Roxanne tidak sempat menjawab pelayan. Keningnya berkerut menatap Eris yang justru terlihat santai. "Setelah semuanya, sekarang Anda memamerkan kekuasaan Anda?"
Tangan Eris sedang sibuk membelai kucing. Ucapnya, "Kamu marah padaku karena mengira aku berbohong, jadi aku mengundangmu untuk membuktikan aku tidak berbohong."
"Saya tidak meminta."
__ADS_1
"Aku melakukannya atas keinginan sendiri."
"Oh, begitu ternyata." Roxanne beranjak. "Maafkan saya bersikap kasar, Tuan Muda, tapi saya harus bertemu suami saya tercinta. Kondisinya sedang tidak baik sekarang dan sebagai istrinya, saya harus memastikan beliau baik-baik saja. Kalau begitu, permisi dan selamat tinggal."
Tangan Eris sejenak berhenti membelai kucingnya, tapi kemudian kembali membelai.
"Maaf," ucap pria itu.
Roxanne berhenti berjalan. Walau begitu, ia tak terkejut sebab Eris juga pernah minta maaf padanya.
"Aku tidak bermaksud membuatmu merasa dipermainkan," katanya lagi. "Aku merasa aku tidak mempermainkan apa pun, tapi jika kamu merasa begitu, aku minta maaf."
"Seorang Narendra tidak meminta maaf, setahu saya," balas Roxanne sinis.
"Jadi begitu." Roxanne menoleh, tersenyum semakin sinis. "Jadi karena itulah seorang Narendra juga meminta maaf, mengatakan nama gelarnya saja pada seorang wanita bodoh agar terkesan dia bukan Narendra. Terima kasih sudah menjelaskan secara rinci siapa itu Narendra."
Eris sempat terdiam sesaat. "Aku mengakui aku tahu kamu salah paham dan membiarkannya."
"Ohya?" Mata Roxanne terbuka lebar pada pria yang matanya tertutup sempurna itu. "Anda 'tahu'? Bukan Anda 'sengaja' melakukannya?"
Mulut Eris terdiam lagi sesaat. Tingkahnya itu seperti dia perlu berpikir sebelum menjawab Roxanne. Dan Roxanne merasa ia sangat tahu apa maksud semua itu.
Bibir Roxanne bergetar oleh rasa marah. Kakinya melangkah mendekati Elios, membungkuk padanya. Disaat yang sama, Eris mendongak, merespons Roxanne di dekatnya.
__ADS_1
Wajah mereka berhadapan sekalipun mata mereka tak mungkin bisa saling menatap. Walau begitu, Roxanne tak perlu melihat matanya. Ia sudah melihat itu tanpa harus mencari matanya.
"Elios sudah berulang kali membunuhku. Mungkin sampai sekarang.." Roxanne berbisik padanya. "Di keluargamu ini, aku tidak memiliki seseorang yang bisa disebut teman. Tidak ada bahkan satu. Hanya ada orang dingin, egois, tidak peduli padaku dan bahkan membenciku."
"...."
"Aku bertahan hidup di lingkungan seperti itu."
Roxanne merasa matanya memerah dan basah saat kemarahan itu menggunung. Ia menatap Eris dengan emosi membara bahkan kalau dia tak melihatnya.
"Kamu pikir aku tidak bisa melihat jelas?"
Sekarang ini, senyum itu, Roxanne bisa melihatnya sangat jelas. Orang ini, Eris atau siapa pun dia, tersenyum 'menikmati' segalanya.
Dia tidak tersenyum kosong. Dia tersenyum untuk alasan yang dia miliki.
Dia tersenyum karena tahu Roxanne tidak tahu apa yang dia tahu. Dia tersenyum karena Roxanne salah paham. Dia tersenyum unruk segala kebodohan itu.
Dia menikmatinya. Orang yang ia pikir senyumnya tulus dan hangat menikmati kebodohan Roxanne.
"Wajah ternyata sangat menipu. Itu pelajaran kuno tapi aku baru mengerti darimu." Roxanne tertawa ketika hatinya terbakar. "Berhenti mencoba membuatku percaya sikapmu itu tulus, Dwi."
Eris ... tersenyum.
__ADS_1
*