
Roxanne masih berusaha mengatur napasnya dan mulai merasai efek samping dari bercinta dalam kondisi masa pemulihan.
Tangannya yang patah sekarang jadi ngilu sekalipun Dwi berhati-hati, kepalanya juga lumayan sakit. Tapi, yang menjijikan adalah Roxanne tidak menyesal.
Bahkan sedikit saja, ia tak merasakan penyesalan atas pengkhianatan ini. Walau Roxanne memikirkan Elios, ia tak tahu perasaan apa sebenarnya itu.
"Kamu tertidur?" Suara Dwi di telinganya membuat Roxanne geli.
Wanita itu melirik ke belakang, menemukan wajah tampan pria berambut panjang itu kembali terlihat lembut. Tadi, sejujurnya dia nampak agak berbeda. Tidak dalam artian buruk namun cukup brutal.
"Aku tidak menyangka kamu pria mesum, Dwi."
Dwi malah tertawa. "Tidak ada pria yang tidak mesum, Roxanne."
Yah, itu benar juga.
"Kamu tidak merasa bersalah?" Seharusnya itu pertanyaan untuk dirinya, tapi Roxanne malah menanyakan pada orang lain. "Kamu menjilati istri dari Elios, sekalipun dia terbuang. Aku benar-benar tidak mau mendengar kamu dihukum apalagi dibunuh karena hal ini."
Dwi hanya tersenyum. Bukannya menjawab perkataan Roxanne, Dwi malah mendekatkan wajahnya. Kembali mencium bibir Roxanne dan membelainya.
"Jawab aku," gumam Roxanne.
"Aku menikmatinya. Sangat." Dwi bangkit dari posisinya. "Tidurlah. Aku harus menemui seseorang dulu."
Seseorang, huh?
Roxanne diam menatap punggung kekar pria buta itu. Rambutnya yang panjang mencapai punggung menutupi beberapa sudut, tapi sekarang Roxanne melihat beberapa bekas asing.
Tidak. Itu bekas luka tapi bukan dari benda tajam. Itu seperti cakaran yang sangat dalam dan banyak.
"Dwi."
"Hm?" Pria itu memasang pakaiannya kembali, membuat Roxanne tidak lagi melihat bekas-bekas tersebut.
"Apa setelah ini kamu tidak akan datang?" tanya Roxanne muram.
Dia menoleh.
__ADS_1
"Kamu mungkin berpikir aku bodoh, tapi aku setidaknya tahu satu dua hal." Roxanne berbaring membelakanginya. Bahkan kalau dia buta, Roxanne tidak mau dia melihat air matanya.
"Kamu mendekatiku karena seseorang menyuruhmu, kan? Lalu setelah ini kamu tidak akan kembali. Aku bertemu banyak pria sepertimu dulu."
Dia sendiri yang mengatakannya, kan? Bahwa pria seluruhnya sama. Pada intinya mereka hanya memikirkan hal itu saja. Baik dia, baik Elios, atau siapa pun.
"Roxanne." Sebuah tangan menyentuh kepala Roxanne disusul sebuah bisikan, "Aku sangat menikmatinya."
Bisikan yang seperti isyarat dia sudah puas mendapatkan apa yang dia inginkan.
Roxanne tersenyum kecut. Tidak mengatakan apa-apa saat mendengar Dwi semakin menjauh darinya.
Tidak masalah. Toh, kemarin sudah Roxanne bilang, bahwa tidak seperti Eirene, ia tak layak dicintai.
*
"Apa kamu benar-benar harus menunggu di depan kamar saat seseorang bermesraan?" tanya Eris begitu keluar dari kamar Roxanne.
Matanya tidak melihat, tapi Eris terlatih sejak kecil untuk menggunakan segalanya dan bukan hanya mata. Ia setidaknya bisa menyadari bahwa Arkas mengawasi dari jarak sangat dekat.
"Untuk ukuran orang yang membenci Elios, kamu terdengar seperti tidak terima," balas Eris.
"Aku sudah bilang jangan libatkan adik iparku. Ini bukan tentang Elios."
Tentu saja, Eris tahu. Kepedulian Arkas pada Elios hanya sebatas tugasnya sebagai anak pertama Narendra, setidaknya harus sedikit menghormati darah Narendra di tubuh Elios.
Sisanya dia tidak akan peduli. Dan yah, ini memang bukan tentang Elios.
"Kamu tidak mau menjawab? Biar kuberi tahu, aku bisa meminta kamu menjauh dari Roxanne jika aku ingin."
Eris mengulas senyum tulus. "Aku tertarik."
"Hah?" Bahkan tanpa melihat, Eris tahu Arkas cengo.
Tapi, pria tampan itu tertawa kecil, tak keberatan mengulang ucapannya. "Aku tertarik."
".... Pada apa?"
__ADS_1
"Pada wanita itu."
Arkas mengerjap kagok. "Kamu?"
"Aku. Memang siapa lagi?"
"Pada Roxanne?" tanya Arkas memastikan.
"Apa itu aneh?" Eris balas bertanya.
Wajah Arkas sekarang sudah menjelaskan segalanya. Kalau Eris melihat, dia pasti bisa membaca jelas perasaan Arkas.
"Mendadak aku sakit kepala." Arkas mencengkram kepalanya. "Jadi maksudmu, kamu ingin bilang, bahwa kamu, Eris Oriona Narendra, tertarik pada istri Elios dari kalangan wanita biasa?"
"Apa ada sesuatu yang berkata seseorang tidak boleh tertarik pada wanita biasa?" Eris masih saja membalas santai.
Jelas dia tahu maksud Arkas.
Dia? Dia yang intinya adalah DIA mengatakan tertarik pada wanita tanpa pesona seperti Roxanne? Serius dia?
"Kamu tahu perkataanmu terdengar seperti kebohongan."
"Aku tidak berbohong." Eris tetap tenang. "Aku tertarik padanya secara pribadi. Lagipula, Arkas, kamu berpikir aku hanya mendekatinya karena Elios?"
Arkas mengangkat alisnya kaget. Jadi bukan karena Elios?
"Aku tahu kamu membahas Nernia." Eris bergumam kecil. "Memang jika dibandingkan dengan istriku, Roxanne tidak ada apa-apanya."
Tentu saja. Walau masih sama cantik, segala hal selain itu berbeda.
Bahkan dalam urusan ranjang, kalau harus jujur, Roxanne harus belajar sepuluh tahun lagi baru bisa menyamai Nernia. Nernia dan Eris melakukan banyak hal gila untuk itu.
Arkas menjadi saksinya.
"Tapi dia menarik," bisik Eris dengan senyumnya. "Aku bersimpati dan ingin mendekatinya. Hanya itu. Bukan karena apa pun."
*
__ADS_1